59 | END |

5.3K 294 22
                                        

6 bulan kemudian

Waktu terasa begitu cepat. Bahkan, Prilly sempat tak menyangka Abella dan Ayanna tumbuh dengan baik. Prilly sangat menyayangi kedua buah hatinya yang mulai bisa makan apa yang ia berikan pada mereka. Terlebih, Ayanna yang selalu lahap. Namun, tentunya Prilly membatasi jadwal makan Ayanna.

Prilly membawa Ayanna ke dalam gendongannya, serta Ayu yang mengikutinya dari belakang sambil membawa Abella tentunya.

Prilly melangkah menuju resepsionis untuk mengetahui keberadaan Ali ada tidaknya di kantor nya ini.

"Ada yang perlu saya bantu?"

Prilly tersenyum ramah pada Riana. Sepertinya, dia adalah pegawai baru di kantor suaminya. Prilly tebak, jawabannya tentu saja benar.

"Apa Ali ada?"

"Maksudnya, siapa mbak?"

Oke! Dia menguji kesabarannya.

Prilly menarik nafasnya, "saya mau bertemu dengan Tuan Ali. CEO di Atmajaya collection," jawab Prilly.

Dari belakang. Ayu berusaha menahan tawanya saat melihat wajah resepsionis yang mulai masam. Prilly berusaha tersenyum saat Riana menggelengkan kepalanya.

"Mohon maaf, mbak. Tuan Ali sedang tidak dapat di ganggu." Prilly membuang wajahnya ke arah lain, lalu menatap wajah Riana.

"Saya i------"

Fatin, selaku sekretaris kedua Ali pun langsung menghampiri Riana dengan tatapan panik saat melihat Prilly datang ke kantor. Tentunya, Prilly sangatlah jarang mengunjungi kantor ini.

"Sstttt, dia istrinya Pak Ali. Kamu mau di pecat sama Pak Ali," bisik Fatin membuat Riana langsung pucat seketika. Fatin menghadap Prilly dan langsung membungkuk hormat pada Prilly.

"Maaf, Nyonya. Atas ketidaknyamannya. Mari, Nyonya. Saya antar ke ruang Tuan Ali," ujar Fatin lalu mempersilahkan Prilly untuk melangkah terlebih dahulu.

Prilly sambil tersenyum. Ia melangkah elegan terlebib dahulu, diikuti oleh Ayu. Prilly sempat melirik Riana yang mungkin saja belum tau siapa dirinya dan ia memakluminya. Fatin membuka pintu ruangan menuju ruang Ali. Setelah itu, Prilly mengangguk.

"Terima-kasih."

Prilly membuka pintu ruangan Ali. Walau pun, ia sedikit kesusahan Ayanna berada digendongannya. Prilly tersenyum melihat Ali sedang sibuk dengan komputer di depannya. Tentu saja, Ali tak menyadari kehadirannya.

"Kalo mas----"

"Apa?"

Prilly terkekeh lalu duduk disofa. Ali tertegun melihat Prilly datang bersama anak-anak dan juga Ayu. Tentunya, menjadi kejutan untuknya.

"Mas kapan selesainya?"

"Kapan pun. Sayang."

"Sekarang kau pulang. Biar Abella bersama kami." Ayu mengangguk. Mana mungkin, ia mengganggu waktu majikannya. Ali meraih Abella dan membawanya ke dalam gendongannya.

Ayu menunduk hormat pada Ali.

"Saya permisi. Tuan."

Setelah itu, Ayu pergi dari ruangan Ali. Prilly mencoel pipi gembil Ayanna yang semakin chubby. Ali tersenyum melihat interaksi Prilly dengan Ayanna. Prilly cilukba dengan Ayanna, Ayanna pun tertawa sambil memamerkan giginya yang belum tumbuh.

Sungguh Ayanna benar-benar menggemaskan.

"Tumben."

"Mas, jalan-jalan yuk? Bosen di rumah terus Mas. Mas ini kerja terus. Gak ada waktu buat keluarga lagi. Refreshing gitu Mas, Abella juga sering banget kayak gak betah. Mending kita jalan-jalan, kemana kek," ajak Prilly dengan cerocosan panjangnya.

TAKDIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang