52

3.4K 310 21
                                        

"KAKAK GILA?!! KENAPA KAKAK MALAH JEBLOSIN THALIA KE RUMAH SAKIT JIWA! DIA GAK GILA!"

Prilly tak habis pikir dengan pola pikir Ali yang malah memasukkan Thalia ke dalam rumah sakit jiwa. Padahal Thalia hanya membutuhkan seseorang untuk menenangkannya, bukan malah memasukkannya ke dalam rumah sakit jiwa.

"Kamu bentak kakak, Prill?"

"Iya! Karena dia akh!"

Prilly memegang perutnya yang terasa karena terlalu banyak berdiri. Ali memegang bahu Prilly, namun Prilly menepis tangan Ali yang menyentuh pundaknya.

"Istirahatlah! Jangan hanya memikirkan wanita itu!" Setelah berkata seperti itu, Ali pergi meninggalkan Prilly yang masih saja mematung kesal akan sikap Ali yang bertindak kasar pada Thalia, walau ia tau. Thalia sangatlah kejam.

"Apa aku harus ke sana?!" gumam Prilly menimang-nimang untuk berkunjung melihat keadaan Thalia.

Namun, bagaimana jika Ali marah besar padanya. Bahkan Prilly sendiri tidak sanggup untuk melihat wajah Ali.

"Minum."

Ali kembali dengan membawa susu putih miliknya. Prilly memalingkan wajahnya saat bertemu pandang dengan Ali, ia terlanjur kesal pada Ali yang semena-mena itu.

"Minum!"

Dengan satu tangannya, Ali menyentuh wajah Prilly agar menoleh padanya. Prilly menoleh dengan raut dingin, Ali menghela nafasnya lalu mengambil tangan Prilly agar memegang segelas susu ibu hamil ini.

"Keadaan dia benar-benar darurat! Thalia selalu  menangis tiba-tiba lalu mengamuk secara bersamaan. Pihak rumah sakit tidak bisa lagi merawat pasien yang semakin depresi, maka dari itu, kakak memasukan dia ke dalam rumah sakit jiwa," tutur Ali menjelaskan semuanya.

"Lalu?"

"Jika kita membebaskan Thalia, tentu saja dia akan membahayakan nyawa kamu. Kakak gak mau kamu terluka lagi, Prilly," ujar Ali.

Prilly menghela nafasnya. "Kakak bisa gak sih ngomonnya jangan terlalu formal?! Aku ini istri kakak loh? Ngapain harus formal-formal segala, aku bukan pegawai kakak yaa?!" ujar Prilly terlalu kesal akan Ali yamg selalu saja berkata formal.

"Jangan marah-marah, sayang. Kamu gak mau kan baby-nya entar marah-marah terus," lelucon Ali.

Prilly menahan senyumannya agar tidak meledak. Ali mengelus pipi Prilly yang sangatlah berisi ini, Prilly meminum susu ibu hamil dan itu tak luput dari pantauan Ali. Prilly meletakkan gelas itu diatas nakas, lalu memeluk Ali.

"Kangen kakak."

"Kakak selalu ada."

"Jangan pergi-pergi pas aku lagi hamil kak, aku cuman takut." Ali mengerti saat Prilly sangatlah takut saat dirinya harus bepergian untuk mengecek perusahaannya di luar negeri, berat memang. Namun, bagaimana lagi. Tak ada pilihan lagi.

"Aku pengen deh main ke padang bunga itu lagi kak?" pinta Prilly.

"Iya, nanti bersama Baby." Prilly menjauh dari tubuh Ali. Lagi-lagi formal membuatnya kesal saja, Ali tak tau kah dirinya sedikit sebal dengan perkataan formal.

Cup

"Jangan marah."

Satu kecupan mendarat dibibir tipisnya, itu membuat wajahnya merona seketika. Prilly membalikkan badannya lalu mengusap bibir tipisnya dengan lembut.

"Punya laki kok tukang nyosor," batin Prilly.

****

Tap

TAKDIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang