"Beneran?"
"Hmm, iya."
"Gimana kalo aku lahirannya sebelum kakak pulang? Aku takut."
"Kakak janji sebelum kamu lahiran, kakak pulang."
Prilly tak ingin Ali meninggalkannya untuk mengecek keadaan perusahaan di singapura, walaupun itu cukup dekat. Nyatanya, ia belum siap jika harus ditinggal Ali. Terlebih lagi, sekitar 2 minggu lagi, ia akan segera melahirkan.
"Cuman 3 hari," kata Ali meyakinkan.
"Serius? Cuma 3 hari?" tanya Prilly mencoba meyakinkan Ali.
"Hmm, 3 hari gak lebih." Prilly mengangguk. Tak ada pilihan lagi selain mengangguk, Ali mengusap pipi Prilly secara lembut.
"Jaga diri baik-baik ya selama kakak gak ada, ntar kakak telepon Mama atau Ibu buat nemenin kamu disini sama Abel. Kalo mulai kontraksi, kamu cepetan telepon kakak. Biar kakak pulang," tutur Ali.
Prilly mengangguk.
Cup
Ali mengecup bibir Prilly. Prilly tersenyum atas kecupan itu, Ali jongkok untuk menyamakan tubuhnya dengan Baby yang berada diperut Prilly.
"Papa kerja dulu ya. Jagain Bunda biar gak nakal-nakal. Jangan rewel, biar Papa tenang disana."
"Iya Papa," balas Prilly dengan suara cadelnya mewakili calon anak-nya.
"Gak mau pamitan sama Abel?" tanya Prilly memastikan jika Ali mau atau tidaknya untuk berpamitan dengan Abel. Ali mengangguk, Abel sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Sudah sepantasnya ia harus berpamitan terlebih dahulu dengan Abel.
"Bentar aku ambil Abel dulu."
Setelah mengambil Abel dikamarnya, Prilly membawa Abel menuju Ali yang tengah memandangnya dengan senyuman manis. Prilly berhenti dihadapan Ali, Ali dengan pelan-pelan mengambil Abel dari gendongan Prilly.
"Hallo cantik, Papa pamit dulu ya. Jangan rewel, Papa sebentar kok disananya. Jangan bikin Bunda kerepotan yaa. Papa sayang kamu, Abel," ujar Ali dan mengecup kening Abel secara lembut.
"Kakak berangkat. Jaga diri baik-baik."
Ali menarik kepala Prilly lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu, Ali pergi meninggalkan Prilly menuju Bandara. Prilly mengusap air matanya yang menetes, terlalu berat meninggalkan Ali disaat dirinya sedang mengandung.
Setelah kepergian Ali, Prilly memilih untuk memasuki kamarnya. Mungkin sebentar lagi, Mama atau Ibu akan ke rumahnya untuk menginap.
Prilly meletakkan Abel ditengah-tengah ranjang dengan dua guling berwarna pink membatasi Abel. Ia sangat menyayangi Abel, walaupun Abel bukan anak kandungnya. Nyatanya ia sangat menyayangi Abel.
"Sehat-sehat terus yaa, sayang-nya Bunda." Prilly mengecup pipi Abel dengan lembut, takutnya Abel terganggu dan terbangun.
Tingtong
"Mungkin itu Mama."
Prilly pergi meninggalkan Abel sebentar untuk membuka pintu, asisten-asistennya sedang cuti, membuatnya harus melakukan kegiatan rumah yang tentunya membuat Ali selalu marah-marah.
"Aduh, kamu ngapain bukain Mama pintu. Mama bisa sendiri, Prill. Kamu inii yaa bandel dibilangin," omel Dira.
Prilly tentu sangat bahagia saat Dira bisa menerima dan menyayanginya dengan baik. Bahkan Dira selalu saja memanjakannya, katanya sih. Dira sangat menginginkan seorang bayi lagi, namun sayang, Papa Ali tidak mengizinkannya untuk hamil kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR
Roman d'amourPrilly Adryna tak pernah menyangka di dalam hidupnya akan dipaksa menikah dengan pengusaha bernama Ali Khalif Atmajaya, hanya karena uang dan paksaan ibunya. Bagaimana kisah selanjutnya? Ikuti terus cerita yang tertuang dalam kisah mereka.
