58

3.3K 248 14
                                        

Ali meletakan kue yang ada di tangan Prilly lalu memeluk Prilly dengan erat bahkan sangatlah erat. Prilly membalas pelukan Ali dengan tangisan yang cukup menyayat hati.

"Jangan menangis, sayang."

Bukannya berhenti menangis, Prilly malah semakin terisak. Tangannya memukul punggung Ali, namun Ali sama sekali tidak meringis karena itu pantas untuk suami yang tak berguna sepertinya.

"Mas itu jahat!"

"Mas kemana aja? Abella sakit Mas! Mas bikin aku khawatir terus sakit hati Mas. Istri mana coba yang gak takut, suaminya gak pulang-pulang. Kenapa Mas gak hubungin aku aja sih? Mas lelah? Mas mau pisah sama aku? Mas mau tinggalin aku?" tutur Prilly sambil menunjuk dirinya sendiri.

Ali menggelengkan kepalanya.

"Mas gak bakalan tinggalin kamu, Prilly. Kamu cinta Mas, jantung aku. Aku bisa jelasin semuanya, kamu tenang dulu, Prilly," ujar Ali berusaha menenangkan Prilly yang histeris.

"Gimana aku mau ngertiin Mas. Kalo Mas sendiri gak mau ngertiin aku hiks.. Mas jahat!"

Tak ada cara lain, selain mencium bibir Prilly agar diam. Prilly mendorong Ali yang telah menciumnya, Prilly mengusap bibirnya yang lembab.

"Jelasin sama aku Mas."

"Okay-okay. Aku jelasinnya di kamar ya? Gak enak di sini." Prilly mengangguk, Ali mendekap Prilly menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Prilly masih saja kesal pada suaminya yang terlalu sering berbohong seperti di televisi-televisi.

Ali memasuki kamarnya pelan-pelan. Takutnya Abella serta Ayanna akan terbangun dari tidurnya. Ia memilih ruangan kerjanya untuk menjelaskan semuanya pada Prilly. Prilly mengikuti langkah Ali dari belakang, matanya tak henti-henti menangis.

"Duduk."

Bukannya di kursi, Prilly malah duduk di pangkuan Ali. Ali tersenyum melihat tingkah Prilly yang sangatlah menggemaskan. Ali mengecup leher Prilly, membuat Prilly merinding serta mendesah.

"Kapan jelasinnya?"

"Iya-iya. Mas jelasin sekarang juga."

Ali membenarkan posisinya dan berdeham. Walau pun ia sedang lelah, namun ia harus tetap menjelaskan semua ini pada Prilly. Karena dia berhak tau.

"Kamu tau Ibunya Jihan?"

Note : Kaiii lupa nama Ibu Jihan siapa:/

Prilly mengangguk. Tentunya ia tau siapa Ibu Jihan yang sudah menyelamatkan Ali dulu, beliau sangat berjasa sudah merawat Ali hingga sembuh. Entahlah, sudah setahun ini. Kabar Jihan serta Ibunya mulai menghilang.

"Beliau meninggal 3 hari yang lalu. Maaf, Mas waktu itu terlalu syok mendengar berita itu. Makanya Mas langsung ke kampung itu tanpa kamu, Prilly. Karena Mas takut kamu bakalan khawatir," jelas Ali membuat Prilly tercengang.

Prilly menatap Ali. "Harusnya dari awal Mas bilang sama aku. Lagian aku juga pengen ikut terus ketemu sana Jihan, kasihan dia Mas. Mas ini terlalu kebiasaan nyembunyiin sesuatu dari aku," ketus Prilly.

Cup

Ali mengecup bibir Prilly secara singkat. Prilly tersenyum setelahnya. Tentunya hati Prilly merasa tak enak karena tidak menghadiri acara pemakaman Ibunya Jihan. Lagian Ali sendiri tidak memberitahunya terlebih dahulu, membuatnya harus menangis dulu, baru Ali akan memberitahunya.

"Gak marah kan?"

"Gak lagi."

Prilly membenamkan kepalanya di bahu Ali yang tentunya terasa hangat. Merasa pundaknya semakin berat, Ali melihat ke arah Prilly yang malah tertidur. Ali tertawa pelan, ia mengangkat Prilly pelan-pelan, takutnya Prilly terbangun dari tidurnya. Ali membaringkan Prilly di ranjangnya, wajah Prilly tampak kelelahan membuatnya tak tega untuk membangunkan.

TAKDIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang