57

2.9K 273 26
                                        

Sudah beberapa hari Ali belum pulang-pulang. Di tambah dengan Abella yang demam. Membuat kekhawatirannya semakin bertambah, beruntung Ayanna tidak se-rewel Abella. Prilly mengambil Ayanna yang menangis menginginkan ASI darinya.

"Kita tunggu Papa pulang ya."

Hatinya masih ngilu saat Ali belum mengabarinya sama sekali. Sebenarnya, Ali kemana? Aahhh.. padahal hari ini adalah hari spesial Ali. Prilly berusaha menahan tangisannya agar tidak pecah. Ia tak mau bersedih di hadapan Ayanna atau Abella.

"Oek.. oek.. oeek."

"Bentar ya Abel? Anna dulu."

"Oeekk oeekk."

Amalia yang mendengar tangisan Abella pun langsung memasuki kamar Prilly, karena khawatir Prilly akan kelelahan.

"Biar Ibu yang urus Bella. Kamu jaga aja Anna aja. Bella juga mau Ibu bawa ke pukesmas," ujar Amalia. Prilly mengangguk.

Tangannya terangkat untuk mengelus Abella yang panasnya belum reda-reda. Bahkan Abella semakin rewel.

"Yaudah Ibu pergi dulu."

Prilly mengangguk lagi. Ia sedang tak mau untuk berbicara, yang ia inginkan adalah kepulangan Ali. Kemana sebenarnya suaminya itu? Prilly melihat ponselnya yang belum ada notif dari Ali sama sekali.

Ketakutan itu pasti ada. Ia takut, Ali bersama wanita lain. Semua ketakutan itu terus menghantuinya. Prilly menatap Ayanna yang berada di sisinya, wajah Ayanna mengingatkannya pada Ali. Sungguh ia sangat merindukan suaminya itu.

Drrttt

Ponselnya bergetar. Prilly tersenyum, semoga saja itu adalah Ali. Prilly melepaskan pautan Ayanna secara perlahan, lalu mengambil ponselnya dengan perasaan yang bahagia.

Namun, senyumannya sirna seketika. Bukan Ali yang memanggilnya, ternyata mertuanya Dira yang meneleponnya. Semestinya Ali mengabarinya, bukan menghilang seperti ini. Semestinya.

Prilly berusaha tersenyum walau air mata berlomba-lomba keluar dari matanya. Prilly berusaha setenang mungkin, agar mertuanya tidak curiga.

"Assalamualaikum, Ma. Apa kabar? alhamdulilah Anna sama Abel baik Ma. Mama kapan ke sini? aku kangen masakan Mama. Wahhh jadi gak sabar Ma. Di tunggu ya Ma."

Percayalah, Prilly berusaha menahan isakannya saat menelepon dengan mertuanya. Perasaan sakit hati yang ia terima dari Ali membuatnya harus pandai menutupi semuanya.

"Ali? hmmm.. Mas Ali ada kok Ma. Dia lagi jagain Anna. Ha ha ha ha, Mama bisa ada. Maaf ya Ma, kita sambung lagi nanti. Soalnya Anna nangis pengen ASI Ma," ujar Prilly.

Tut

Bukan Anna yang menangis. Melainkan dirinya yang menangis, Prilly benar-benar mengharapkan Ali untuk pulang. Prilly melihat kalender, tanggal 26 oktober 2020. Hari ini adalah hari spesial Ali, namun Ali malah menghilang.

"Bunda harus apa Anna?"

Prilly menggigit bibir bawahnya. Ia terlalu bingung untuk bertindak. Prilly tersenyum, ia akan mencoba membuat kue ulang tahun untuk Ali. Semoga saja Ali cepat-cepat pulang.

****

Prilly memasuki supermarket. Ia mengambil keranjang, lalu mulai mencari bahan-bahan untuk membuat kue. Prilly juga mengambil beberapa minuman kesukaanya. Tatapannya terhenti saat melihat sepasang suami-istri sedang bersenda gurau.

Dirinya merindukan Ali.

Prilly berusaha tersenyum, ia harus kuat. Ali pasti akan pulang, dan memeluknya dengan erat. Pasti!

TAKDIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang