54

3.2K 312 21
                                        

"Oek-oek-oek!!"

"Oek-oek-oek!"

Walaupun bukan kembar, nyatanya Ayanna serta Abel seringkali terbangun bersamaan mungkin karena suara tangisan yang tiba-tiba.

Ayanna khalifna admajaya, putri kecil yang terlahir dari keluarga admajaya. Prilly mengambil Ayanna terlebih dahulu, sedangkan Ali yang sedikit terganggu saat tidur pun terbangun dan menghampiri Prilly.

"Anna laper kayaknya." Prilly membuka atasannya, lalu menyodorkan niple nya ke arah mulut Ayanna.

"Kak, tolong telonin Abel ya? mungkin dia ke ganggu gara-gara Anna," pinta Prilly pada Ali. Ali mengangguk tanpa bersuara, ia mengambil Abel dan menimang-nimang Abel secara perlahan. Abel tampak merah dengan tangisan yang masih terdengar.

"Mending kamu tiduran sama Anna. Biar Abel, kakak yang urus," kata Ali. Prilly tersenyum lalu menuruti perkataan suami-nya.

Prilly melirik jam dinding yang berdeting, ternyata sudah jam 02.30 dini hari. Pantas saja matanya terasa sangatlah berat, terlebih akhir-akhir ini Ayanna dan Abel rewel. Itu pun membuatnya harus selalu merepotkan Ali atau Mama serta Ibu.

"Abel udah tidur kak?"

"Hmmmm.. dia udah tidur."

Ali dengan perlahan membaringkan Abel pada box nya. Lalu Ali merebahkan tubuhnya di samping Ayanna yang tengah menghisap niple nya. Ali menatap Prilly yang sepertinya terlihat sangatlah kelelahan.

"Kamu lelah?"

"Gak kak. Ini membuat aku bahagia."

Iya, walaupun melelahkan namun rasa lelah itu seketika sirna saat melihat kedua buah hatinya berada di dalam dekapanmya. Prilly menatap Ayanna yang terlelap di dalam dekapannya.

"Kakak udah urus kan semua persyaratan buat adopsi Abel? terus, tahun lahir dia udah di ganti kan kak? biar Abel gak curiga. Dan aku gak mau dia tau kak," kata Prilly risau.

Ali tersenyum. "Kakak udah urus semuanya. Kamu tenang, jangan khawatir. Itu semua takkan terjadi," ujar Ali mencoba meyakinkan Prilly kalau semua itu takkan terjadi pada Abel.

"Kamu tidur ya? biar Anna, kakak taro di box," suruh Ali.

Setelah menyusui Ayanna. Ali mengambil Ayanna untuk di baringkan di box dekat Abel, Prilly sedikit terharu saat Ali selalu membantunya merawat Abel serta Ayanna, walaupun Ali sedang sibuk dengan pengembangan perusahaannya yang semakin pesat.

"Kakak sinii."

Ali berbaring lalu memeluk Prilly dengan erat tentunya dari belakang. Sekuat mungkin Ali menahan hasratnya agar tidak melakukannya karena Prilly sedang dalam masa nifas. Prilly tersenyum geli saat Ali mengendus-endus dilehernya.

"Gelii ihhh.."

"kakak suka."

"Suka siapa?"

"Bundanya Anna dan Abel."

Prilly terkekeh saat mendengar Ali berkata seperti itu, ia membalikan badannya lalu memeluk Ali dengan sangatlah erat. Prilly mengakui wangi Ali sangatlah menenangkan pikirannya.

*****

"Aaaaakk?"

"Gak mau kak!!"

"Harus!"

"Gak mau ya gak mau."

Ali menghela nafasnya. Prilly sedang tak nafsu makan, bahkan sudah jam 12.04 siang hari Prilly belum makan-makan. Kerjaannya hanya merawat Ayanna dan Abel yang tak mau jauh.

TAKDIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang