"Prilly! Jangan lari-lari."
Prilly memelankan langkahnya. Tentu saja membuat Ali khawatir dengan Prilly yang tengah hamil besar. Walau sudah 9 bulan, nyatanya Prilly masih siklus ngidam. Tentunya membuat Ali harus extra sabar menghadapi Prilly.
"Aku tuh gak sabar buat dandanin Mas! Hi hi hi hi, kayaknya bakal lucu deh." Lagi-lagi Ali harus elus dada mendengar permintaan Ali.
Matanya memicing melihat Ayanna dan Abella tengah bermain bola-bola di area bermainnya. Biarlah, ada Ayu yang mengawasi mereka. Ali langsung pergi ke kamarnya, melihat tingkah apa yang akan Prilly lakukan sekarang.
"Oke. Mas buka bajunya."
Baru saja ia muncul di depan pintu. Prilly susah menyuruhnya untuk membuka baju, untuk apa?
"Buka aja kali. Gak bakalan aku perkosa Mas kok," ujar Prilly sambil menutup pintunya rapat-rapat.
"Apa lagi?!"
"Mas gak seneng? Nyenengin aku gitu." Liatlah bumil ini, malah merajuk padanya dengan wajah memelas. Ali mengecup bibir tipis Prilly lalu menggelengkan kepalanya.
"Yaudah. Sekarang Mas duduk. Aku mau ambilin dulu semua make up aku. Mas jangan nolak ya permintaan aku? Atau, anak Mas bakalan ileran," ujar Prilly panjang lebar.
"Hmmm."
Dengan penuh semangatnya. Prilly memoles wajah Ali dengan bedak, lalu memolesi kelopak mata Ali dengan apalah itu. Prilly mengambil maskara dan menyuruh suaminya untuk menutup matanya. Prilly tersenyum, terakhir, ia mengambil lipstik berwarna merah menyala dan memolesnya pada bibir Ali.
"Prilly?"
"Yap?"
"Kamu apain muka Mas!"
Prilly tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya yang terasa kram akibat tertawa. Hasilnya tentunya membuat Prilly puas. Ternyata bayinya ini berniat mengerjainya.
Tok tok tok
Prilly menoleh ke arah pintu dengan sisa tawanya yang masih terdengar. Prilly mengambil kain dan menutupi kepala Ali dengan kain tersenyum.
"Prilly!" geram Ali.
"Bentar, sayang Mas." Prilly membuka pintu hingga terpampang wajah sembab Ayanna dan juga Abella.
"Loh, mereka kenapa?"
"Pada rebutan mainan, Nyonya. Makanya saya langsung bawa ke sini."
Ayanna dan Abella pun memasuki kamar Prilly dengan wajah sembabnya. Setelah itu, Ayu memilih undur diri. Sebenarnya Prilly ingin menggendong mereka, namun mengingat ia sedang hamil membuat Prilly hanya bisa menggiring mereka.
Sepertinya mereka kelelahan. Terlihat dari matanya yang mulai sayu.
"Mas, bantuin ih."
Ali membuka kain. Namun reaksi yang membuatnya terkejut adalah reaksi Ayanna yang langsung ketakutan setelah melihatnya.
"Ha ha ha ha, hapus dulu sana. Mas gak mau, kan mereka takut terus." Masih dengan wajah masamnya, Ali pergi ke kamar mandi untuk memperbersihkan wajahnya.
"Sekarang kita bobo ya, Anak Bunda."
Prilly meraih tangan Abella dan juga Ayanna untuk melangkah keluar. Walaupun mereka belum bisa berjalan dengan benar dan sering terjatuh, namun, Prilly berusaha membiasakan mereka untuk mandiri sejak kecil. Terlebih lagi ia sedang mengandung.
Prilly membuka pintu kamar bermain mereka, namun, disana juga ada ranjang untuk tidur siang mereka. Prilly mengangkat terlebih dahulu tubuh Ayanna dan membaringkannya diranjang yang cukup besar. Lalu, Prilly mengangkat tubuh Abella dan membaringkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR
Storie d'amorePrilly Adryna tak pernah menyangka di dalam hidupnya akan dipaksa menikah dengan pengusaha bernama Ali Khalif Atmajaya, hanya karena uang dan paksaan ibunya. Bagaimana kisah selanjutnya? Ikuti terus cerita yang tertuang dalam kisah mereka.
