Chapter 8

19.4K 1.1K 85
                                        

Yoongi baru saja menyelesaikan pekerjaan dan bersiap untuk pulang ke apartemen. 2 minggu ini, dia sangat lelah seperti tak memiliki semangat hidup. Jeongguk malah enak-enakan menghabiskan waktu di mansion. Ck. Kalau saja gaji disini tidak besar, dia ingin berhenti saja.

"Hai, Suga."

Ugh! Dia lagi.

Sejak 2 minggu lalu Jimin tidak berkunjung ke kantor Jeongguk dan baru menampakkan diri sekarang. "Apa kau sakit, Suga? Wajah pucatmu semakin pucat."

"Ck, bukan urusanmu." Yoongi hendak pergi melewati Jimin.

"Hey, aku khawatir padamu. Kau ambil cuti saja. Ayo kita ke rumah sakit." Jimin menahan lengan Yoongi yang hendak perhi, Namun Yoongi menghempas kencang.

"Urus saja sweetymu yang kau rindukan dan ingin kau cium itu!!!" Yoongi langsung berjalan menjauh meninggalkan Jimin yang blank, sedetik kemudian mengulum senyum.

"Ah.. dia manis sekali." Jimin berlari mengejar Yoongi ke parkiran yang ada di basement. Hup. Jimin berhasil menghalang pintu mobil yang akan terbuka.

"Singkirkan tangan anda, Jimin-ssi."

Jimin menatap netra Yoongi, "Kau cemburu."

"Tidak."

"Akui saja, Suga."

"Ck, buat apa cemburu pada lelaki sepertimu yang memiliki banyak simpanan. Pergi saja bersama sweetymu itu. Singkirkan tanganmu! Aku ingin pulang." Balas Yoongi sambil dengan suara kesal.

"Jangan menilai orang sembarangan, Suga. Aku tak punya simpanan. Lagian Sweety yang kau maksud itu bocah 5 tahun anak noonaku. Kau masih cemburu, hm?" Jimin menyentuh pipi Yoongi.

"Aku tidak cemburu. Pergi saja sana! Bukannya 2 minggu ini kau tidak kemari."

"Jadi kau rindu?"

Sial!!

Yoongi ingin memalingkan wajah tapi ditahan tangan Jimin yang lain, "I only and always love you, Suga." Setelah itu, Jimin mengikis jarak diantara bibir mereka hingga menempel sempurna dan melumat lembut.

Dalam ketekjutannya, Yoongi masih memproses apa yang terjadi. Namun melihat Jimin yang menutup mata membuat pertahanannya runtuh dan ikut memejamkan mata. Jimin tersenyum saat Yoongi mulai membalas lumatan demi lumatan yang ia berikan.

Setelah ciuman panas mereka, Yoongi menjatuhkan kepala di pundak Jimin dan mengais oksigen sebanyak mungkin. "Kau ingin membunuhku, huh?!"

"Mana mungkin, Suga."

"Aku lebih tua darimu, panggil aku hyung."

"Tapi aku dominan di sini."

Mendadak saja Yoongi menatap sengit, "Jangan terlalu percaya diri."

"Kalau begitu mari kita buktikan." Jimin tersenyum memandang tubuh Yoongi dan tentu di balas dengan tatapan membunuh. 

Tentu saja Jimin sama sekali tidak terintimidasi, malah semakin ingin menjinakkan kucing manisnya. "Haha. Ayo kita pulang, Suga hyung."

Serunya diikuti menarik si manis ke sisi mobil yang lain dan membukakan pintu. Yoongi yang lelah berdebatpun masuk tanpa perlawanan. Jimin menutup pintu dan beralih menuju kursi kemudi. Biarlah mobilnya di tinggal di kantor Jeongguk dulu.

"Apartemenmu atau mansionku, Suga hyung?" 

Yoongi melotot horor.

"A.. sepertinya mansionku. Baiklah."

"Yak!! Berhenti! Turunkan aku. Yak!"

Jimin tak mengindahkan gerutuan dan pukulan Yoongi, ia terus melajukan mobil Yoongi menuju mansionnya sendiri. Bukankah mereka harus merayakan hari jadian mereka?

TRAPPED ╬ KOOKV [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang