Terhitung sudah 2 hari setelah pemeriksaan yang dilakukan Jaemin. Hari ini adalah hari dimana dia akan mengetahui penyakit nya. Jaemin bergegas menuruni satu persatu anak tangga dan bergegas pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Jaemin segera ke ruangan dokter Eunwoo, tanpa mengetuk Jaemin langsung menerobos masuk membuat dokter Eunwoo terkejut.
"Astaga!! Ku pikir siapa. " Ucap dokter Eunwoo sambil mengelus dadanya.
Jaemin nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf kan aku. Aku terlalu Exxaitid. "
Mendengar ucapan Jaemin membuat raut wajah dokter Eunwoo berubah.
"Apa kau siap mengetahui faktanya? " Tanya dokter Eunwoo memastikan
Jaemin terlihat memincing kan alisnya mendengar perkataan dokter Eunwoo. "Tentu saja aku sangat siap. "
Dokter Eunwoo menghela nafas kemudian mempersilahkan Jaemin untuk duduk.
Dokter Eunwoo mengeluarkan sebuah map berwarna biru dan menyodorkan nya pada Jaemin. Tapi sebelum Jaemin menggapainya dokter Eunwoo lebih dulu menarik map itu.
Dokter Eunwoo menatap Jaemin lekat²."Dari hasil pemeriksaan kemarin dan gejala-gejala yang selama ini kau alami kau mengidap penyakit.... Kanker Darah. "
Bagai disambar petir, Jaemin terkejut bukan main setelah mendengar pernyataan dari dokter Eunwoo. Sendi² dalam tubuhnya seakan melemas. Air mata mulai mengumpul dipelupuk matanya,tetes demi tetes mulai berjatuhan membentuk aliran yg semakin deras.
Jaemin menghapus dengan kasar air matanya dan menatap dokter Eunwoo. "K-kau tidak salah mendiagnosa kan dokter. "
Dokter Eunwoo menggeleng pelan menanggapi ucapan Jaemin.
"Semua tanda-tanda yg ditunjukkan tubuh mu bahkan gejala-gejala yg kau alami semua nya sudah membuktikan nya di tambah 2 hari lalu kau melakukan pemeriksaan. Semuanya tidak akan pernah salah Jaemin. "
Jaemin tak bisa berbuat apa-apa lagi. Semuanya sudah jelas kalau dia mengidap penyakit kanker darah. Perlahan Jaemin bangkit dari duduknya dan meraih map yang tadi dan membawanya pergi tapi seblum itu..
" Dokter bisa kau berikan aku obat yang bisa meredakan penyakit ku, ya! Walaupun hanya sedikit. "Ucap Jaemin dengan nada lemah.
Dokter Eunwoo berjalan kearah rak obat dan mengambil 2 botol kecil dan memberikannya pada Jaemin tapi seblum itu.. " Aku saran kan kau menjalani pengobatan Jaem, setidaknya itu akan membantu untuk kau bisa sembuh walau kecil kemungkinannya. "
Jaemin menunduk. "Entahlah dokter. Semuanya terlalu cepat untuk ku pahami, biarkan aku menenangkan diri sebentar jika aku sudah siap aku akan kesini. "
Dokter Eunwoo menepuk pundak Jaemin. "Aku akan menanti mu. Anggap saja aku ini Hyung mu, kau bahkan bisa memanggil ku Hyung jika kau mau. "
Jaemin mengangguk. "Terimakasih Hyung. Kalau begitu aku permisi, dan tolong sembunyikan hal ini, aku ingin hanya kau dan aku yang tau. "
Dokter Eunwoo hanya bisa mengangguk lemah. "Aku akan menyembunyikan nya. "
Lagi Jaemin tersenyum walau itu terpaksa. "Terimakasih."
Setelahnya Jaemin pergi dari sana menyisakan dokter Eunwoo yang menatap kepergian nya dengan tatapan sendu.
"Cepatlah kembali Hyung kau harus melihat keadaannya. " Gumam Eunwoo
.
.
.
.
.
Jaemin berjalan gontai, tak ada semangat sama sekali. Langit mulai menggelap, sang surya telah kembali ke peraduan nya, tugasnya digantikan dengan sang rembulan yg mulai menaiki tahtanya.
Jaemin tak berjalan pulang melainkan dia berjalan kearah taman dekat sungai han. Dia berusaha mencari ketenangan demi menjernihkan pikirannya. Jaemin mendudukkan tubuh lemas nya di rerumputan.
"Hiks... Hiks... Hiks... "
Suara isakan itu mulai terdengar dari bibir pucat nya, mata indahnya mulai menitikkan air mata. Isakan nya seakan menyayat hati orang yang mendengar nya.kepalanya menengadah keatas menatap sang rembulan yang bersinar.
"Hiks... Kenapa... Kenapa!!! Tak cukup kah semua penderitaan yang selama ini ku alami. Kenapa semuanya harus aku? kenapa!!! . "
Jaemin berteriak meluapkan kekesalan nya serta kesedihan nya.
"Tak cukup kah keluarga ku membenci ku!!. Tak cukup kah kau mengambil Eomma dari ku!!Tak cukup kah semua kesengsaraan yang ku alami selama ini!!! TAK CUKUP KAH SEMUA NYA!!!! "
"Hiks... Hiks... Hiks. "
Jaemin hanya bisa menangis meraung. Semuanya terlalu sulit untuk nya tak ada orang yang mengerti kesedihan nya. Dia merindukan Appa nya yang selalu mengusap kepalanya ketika dia menangis, dia merindukan Eomma nya yang selalu memeluknya ketika dia bersedih, dia merindukan semua saudara nya yang selalu ada ketika dia bersedih. Tapi semuanya tidak akan pernah menjadi kenyataan semua orang meninggalkan kan nya sendirian.
Sekarang Jaemin hanya punya sahabat serta kedua paman nya.
"Hiks... Paman Suho, Paman Jaehyun... Hiks"
Jangan lupa vote dan coment
Aku harap feel sedihnya ada ya, soalnya aku gak terlalu jago buat yg sedih².
M_🌻
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Me Before I Leave
Teen Fiction"Bukan hal yang mudah melepaskan atau mempertahankan apa yang semula baik tiba-tiba berubah drastis menjadi amat buruk." 'Na Jaemin' Cerita ini hanya hasil dari pemikiran saya sendiri,tidak ada sangkutannya dengan tokoh asli. Semua tokoh dan karakte...
