Part ini khusu Erika&Radit
Happy reading
Radit memakaikan helm dikepala Erika.
"Yuk!"
"Yuk!
Erika menaiki motor Radit dan Radit melajukan motornya pergi meninggalkan sekolah.
Suasana tak begitu macet, namun lumayan terik. Membuat pelipis Erika basah oleh keringat yang bercucuran.
Di persimpangan jalan Radit menghentikan kendaraannya.
"Lah? Belom nyampe!" ucap Erika yang masih duduk di motor Radit, sedangkan Radit sudah melenggang pergi.
"Ck!" Erika pun turun mendecak kesal ia mau tak mau mengikuti langkah Radit.
Berhenti di bangku sebelah Abang tukang eskrim.
"2 ya Bang...." ucap Radit.
"Siap den!" sahut tukang eskrim tersebut.
Erika mengipas-ngipaskan tangannya tepat di depan mukanya agar ada hawa dingin sedikit di wajahnya yang memerah kepanasan.
Melihat hal itu Radit meniup muka Erika yang membuat Erika tersentak.
Radit pun terkekeh melihatnya, ia memeletkan lidahnya ke arah Erika yang menatapnya garang.
"Nih den eskrimnya silahkan...." ucap tukang eskrim.
"Iya makasih Bang...."
Radit menyodorkan 1 eskrim vanilla pada Erika, Erika menoleh.
"Nih... Makan!" ucap Radit.
Tanpa berfikir panjang Erika mengambilnya, karna tak kuat dengan cuaca panas hari ini. Ia melahap Eskrimnya rakus.
Radit terkekeh pelan, ia juga melakukan hal yang sama melahap eskrim ditangannya.
Saat habis Radit membayar eskrim tersebut dan membawa Erika pergi dari sana.
"Huaaaahhhh.... Panaaasss!!!" ucap Erika sedikit berteriak ditengah perjalanan.
"Huss! Berisik!" ucap Radit.
Erika pun menyengir tak berdosa.
"Kita ke Taman dulu ya, ngadem." ucap Radit.
"Boleh tuh!" setuju Erika.
Mereka pun pergi ke Taman pinggir jalan untuk sekadar mencari semilir angin disana.
Mereka duduk di bangku putih panjang yang tersedia disana.
Tak terlalu banyak orang disana, membuat mereka sedikit leluasa untuk mencari angin.
"Dit, gue mau duduk di rumput jepang sana ya...." ucap Erika.
Radit menganggukkan kepalanya.
Erika pergi meninggalkan Radit yang terduduk sedikit merebah di bangku putih itu.
Erika duduk di rumput jepang sambil memandangi pemandangan sekitarnya. Ia pun memilih merebahkan tubuhnya bersantai.
"Nah kalo gini kan adem." ucap Erika.
Semilir angin yang lumayan kencang menerbangkan dedaunan dari pohon rindang dekat sana.
Erika menikmati terpaan angin yang mengenai wajahnya dan menerbangkan anak rambut dijidatnya yang tak terikat ikat rambutnya.
Menutup matanya menghembuskan udara segar.
Hentakkan kaki mendekat dan ikut terebah disana.
Ikut terhanyut dalam pemandangan disampingnya.
"Eh?" Erika sedikit terkejut melihat Radit disampingnya sedang menatapnya.
Radit mengangkat kepalanya dan menyamping ke arah Erika, menyisir anak rambut yang menutupi mata dan jidat Erika.
Sedikit lama setelahnya mereka saling menatap satu sama lain memandang bayangannya didalam mata yang mereka hadapi.
"Pulang sekarang ga?" tanya Radit yang masih menatap Erika sejuk.
Erika melirik arlojinya.
"Ayok! Udah mau sore...." ucap Erika.
Radit menuntun Erika bangun.
Mereka pun pergi untuk ke parkiran.
"Eh tas gue...." ucap Erika, ia lupa sejak tadi meninggalkan tasnya di bangku putih yang sempat ia duduki.
Erika pun mengambil tasnya dan pergi dari taman untuk pulang bersama Radit.
Tak jauh dan tak butuh waktu lama mereka sampai di halaman rumah Erika.
Erika melepas helmnya, Radit pun pamit langsung setelah mengantar Erika pulang.
"Aneh...." ucap Erika, ia pun menaikkan bahunya dan masuk kedalam rumah.
Sepi.
Entah kemana semua orang.
Erika melenggang ke kamarnya, berganti baju.
"Ohh iya! Hp gue mana ya?" tanya Erika pada dirinya sendiri.
Erika mencari ponselnya.
Ia mengkodok saku rok dan bajunya namun nihil.
Ia pun mengobrak-abrik tasnya dan ketemu.
"Nah! Ini di- eh?"
Namun ada benda lain disana.
Erika mengeluarkan ponselnya dan satu buah kotak kecil didalam tasnya.
"Perasaan gue gapunya ginian...."
Erika membolak-balikan kotak kecil ditangannya, ia membuka kotak itu.
"Hah!" Erika terkejut.
Sebuah liontin putih bertengger manis didalamnya.
Dan Erika menarik secarik kertas disana.
Erika Alana
Gue bukan puitiser yang jago merangkai kata.
Gue juga bukan pak Tarno yang jago menyulap untuk menghibur lo.
Tapi gue orang yang hanya bisa jujur lewat kertas ini.
Lo boleh panggil gue pengecut.
Tapi Rik, gue jujur.
Sejak pertemuan kita kemarin, dan lo ngasih gue minum pas gue dihukum.
Itu udah cukup jadi alasan.
Seharian ini gue banyak diam.
Gue berfikir gimana caranya buat ngungkapin ini ke elo.
Gue suka sama lo, dan mungkin gue udah jatuh cinta sama lo.
Gue ga bercanda Rik.
Gue harap lo jadi milik gue.
'Gue harap lo jadi milik gue....'
'harap lo jadi milik gue...."
"lo jadi milik gue...."
"milik gue...."
Hallo readers akhirnya aku sempetin updet.
Jgn lupa vote and comen lagi salam rindu, semangat terus. Jangan lupa 3M;)
Follow me syabanaia
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA ADALAH PILIHAN
Teen FictionPercayakah jika aku tak mengerti rasanya jatuh hati? Semacam ingin merasakan tapi tak berani Aku selalu berharap seseorang membantuku untuk menemukan hatiku untuk dimiliki orang yang akan ku jatuhkan hati. ~Airish Levani Dira
