𝐔𝐩𝐝𝐚𝐭𝐞 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐡𝐚𝐫𝐢 ‼️
"Saya adalah seorang pencemburu akut! Jadi jangan salahkan saya jika saya akan selalu protes ketika melihat kamu mendekat atau di dekati oleh orang lain, walaupun orang lain itu adalah anak-anak saya sendiri.."
...
sebelum baca coba kalian absen "hadir" disini dulu!
Please, guys. Jangan jadi siders ya? Aku juga butuh asupan vote dan komen dari kalian loh buat aku semangat dulu! Ya kali, aku effort nulis sampe tengah malam untuk kalian tapi kalian nol feedback buat aku! Padahal cuma vote dan komen ga sampe lima menit loh gais!
Apa aku buat pake syarat aja nih sekarang, biar kalian rajin vote dan komen? Kaya nya iya sih ya.
Yaudah, untuk syarat update besok silahkan tembusin vote dan komen sebanyak 1.000 dulu deh, ya biar aku update?
Kali ini aku beneran ga akan kabur Guys kalau memang syarat nya udah terpenuhi.
Segitu dulu, Bye~Bye~
Happy reading <3!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Di saat kita terluka, kita selalu merasa bahwa luka kita yang paling menyakitkan diantara segalanya. Namun jika kita telusuri, nyatanya luka kita masih belum ada apa-apanya. Hanya saja bedanya aku berisik, sedangkan mereka tidak."
-Alexa Eqquina-
***
Cuaca sore ini terlihat tak begitu bersahabat. Langit yang cerah seolah mengerti dengan suasana hati Alexa yang mendung sehingga ia pun mengikutinya. Walaupun begitu, hal itu tak membuat Alexa beralih dari kursi panjang yang ada di taman kota dekat dengan kos-kosan nya.
Ia menangis histeris disana, tak memperdulikan beberapa orang yang memperhatikan nya diam-diam. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, membuat Alexa sekilas mengalihkan pandangan nya pada sebuah ponsel yang ada di tangan nya.
Ia menggerutu kesal ketika kegiatan menangis nya di ganggu. Tapi, ia masih mengangkat ponselnya walaupun sedikit emosi.
"Halo, Al. Lo dim-" Pertanyaan Randha terpotong.
"LO BISA GA SIH JANGAN GANGGU GUE MULU, RAN?" Serobot Alexa cepat sembari menangis. "KASIH GUE WAKTU, RAN! GUE LAGI MAU SENDIRI!" Bentak nya.
Di sana, Randha terdiam. Jujur saja ia merasa sedikit sedih, karena ucapan Alexa yang terdengar sedikit kasar menurutnya.
"Al.. Gue cuma khawatir sama lo.." Jawab Randha lembut.
Alexa malah terkekeh sinis mendengarnya, "GUE GA PERLU KHAWATIR LO, RAN! GUE CUMA MAU SENDIRI! SEN-DI-RI!" Emosinya, membuat Randha yang ada disana semakin terdiam.
"Lo ga ngerti , Ran.. Lo ga ngerti apa yang gue rasain sekarang.. Lo ga ngerti sakitnya gue.." Kini ucapan Alexa terdengar melemah. Randha merunduk dan ikut menangis.