Kino itu hadiah terindah

33 2 0
                                    

Angin semilir tepi pantai dan silau ke-oranye-an dari matahari yang terbenam di ufuk barat merupakan latar tempat yang pas untuk bergandengan tangan menyusuri bibir pantai tanpa alas kaki dan menciptakan momen-momen indah dengan orang tersayang.

Serena juga berpikir begitu, ia melirik kecil laki-laki yang tengah mengambil gambar sunset dengan kamera handphone, senyumnya merekah kala lelaki itu menatapnya dan menunjukkan hasil jepretannya yang memukau. Namun, dibandingkan foto itu Serena lebih dibuat terpukau dengan visual menawan lelaki itu yang tak pernah memudar sedikitpun sejak awal mereka bertemu lima tahun yang lalu.

Matanya yang tajam dan indah, hidung yang terpahat sempurna dan gigi kelincinya. Sungguh Serena sangat yakin langit pasti ikut tersenyum saat laki-laki menawan itu lahir.

"Hi, Hello.. back to earth Serena,"

"Aku nggak bengong," ucap Serena, mengalihkan pandangan ke laut lepas.

"i know, tapi kamu lihatin aku terus, kan aku jadi gerogi,"

Serena tertawa lepas, memukul lengan lelaki itu pelan.

"Geer banget?"

"Nggak geer tapi fakta,"

Tangan lelaki itu menyisihkan rambut Serena yang berterbangan bebas ke balik telinga, Serena mengulum senyum, ia suka mendapat semua perlakuan dan perhatian ini.

Rasanya nggak adil ya kalau Serena belum memperkenalkan siapa 'lelaki' yang membuatnya tersipu, berdegup, membuatnya jatuh cinta berulang kali dengan cara yang berbeda. Tapi kalau Serena memperkenalkannya, ia takut kalian ikut jatuh hati juga karena jujur lelaki itu sangat mudah untuk dicintai.

Arkino Malik Kalandra. Nama lelaki itu. Serena biasa memanggilnya dengan Kino atau kadang sayang. Jangan iri ya karena hanya Serena dan keluarga Kino yang bisa mempunyai privilege memanggilnya sayang.

Arkino dimata Serena adalah hadiah yang diberikan Tuhan untuk melengkapi kebahagiaannya. Hadiah cantik nan berharga yang sangat ia sukai.

"Aku sayang kamu,"

Kalau saja Serena tidak merasakan adanya pasir di sela-sela jemari kakinya, mungkin ia sudah berpikir kalau ia tidak lagi menapak. Kata-kata Kino terlalu tiba-tiba, manis dan mampu membuatnya mabuk.

"Nggak dibales nih?" Tanya Kino dengan senyum miringnya yang khas kalau dia sedang jahil.

"Maunya dibales apa?"

Kino terkekeh pelan lalu menunjuk bibirnya dan tertawa pelan saat mendengar dengusan dari Serena.

"Jangan ngadi-ngadi,"

Berbanding terbalik dengan perkataannya Serena berjinjit karena Kino lebih tinggi darinya, lalu mengecup bibir lelaki itu singkat dan segera menjauh. Pupil mata Kino membesar sejenak, ia menatap Serena yang tengah menatapnya dengan senyum merekah.

Cantik dan menggemaskan. Kira-kira begitulah yang ada di otak Kino.

"Kamu tuh suka tiba-tiba banget ya," ucap Kino.

Serena menggeleng, "Kamu kan minta,"

"Kalo gitu aku minta lagi deh,"

Serena tergelak, ia berjinjit mengalungkan lengannya pada leher Kino lagi dan menyunggingkan senyum termanis.

Benar-benar ya Kino dengan cahaya sunset adalah perpaduan yang indah. Harus berapa kali lagi Serena dibuat jatuh cinta?

"Cuma sekali Kino kalau lebih namanya diskonan beli satu gratis satu,"

ONSRA | Lee KnowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang