Sarah Memory Part 9

180 27 2
                                    

Dia tersenyum?

Mata Eristan terpejam. Suasananya mulai berubah, angin berhembus kuat, awan hitam berkumpul diatas arena.

Aku mengarahkan tanganku kedepan dan melebarkan jari-jariku. Terasa angin yang kencang melewati sela-sela kelima jariku, "Angin ini...."

Angin ini berhembus dari arah sekor gurun. Ditempat lain ini hanyalah angin biasa yang berhembus kencang, namun masalahnya jika didalam arena angin itu akan berubah menjadi badai pasir, seperti yang sedang aku lihat didepanku.

Meningkatnya kecepatan angin didekat arena, akan membentuk suatu fenomena yang disebut badai gurun arena. Kejadian ini cukup jarang terjadi, dan masalahnya lama-kelamaan badai ini akan membuat pengeliatan didalam arena menjadi semakin menipis.

"Angin ini tampak tak normal," Nenek mengatakannya dengan tenang seolah bukan suatu ancaman baginya.

Aku menatap kearah bawah, "Lalu apa ini ada hubungan dengan anak itu?"

"Entahlah"

Eristan mengeluarkan aura yang berbeda dari sebelumnya, aura yang menurutku berbahaya. Tampaknya bukan hanya aku yang merasakannya, Theo Roit yang sebelumnya memukuli Eristan dengan membabibuta segera bergerak menjauh untuk menjaga jarak.

Aku menengok kanan dan kiri, dari ekspresi semua orang tampaknya mereka merasakan apa yang aku rasakan. Tak ada lagi senyum diantara baris penonton Trident, tampaknya ini berada diluar dugaan mereka.

Eristan membuka kedua matanya.

Sebuah gelombang angin menabrak tubuhku, dan membuat seluruh penonton tersentak merasakan matanya. Namun bukan itu saja, warna seluruh matanya....

"Biru?"

Mata berubah, bukan hanya pupilnya namus seluruh bola matanya.

Aku kebingungan, penonton saling bertanya satu sama lain meski mereka semua tak tau jawabannya.

Theo Roid terdiam mengigil, tidak ada yang bergerak meski Eristan masih terdiam. mereka--

Sebuah panah melesat dari arah gurun, tepat mengenai kain merah di lengan atas Jayachanditra. Benderanya terlepas tertancap di anak panah yang melewatinya.

"Jayachanditra, keluar! Gitu kan ya."

"Ap- Jayachanditra keluar? Tapi siapa?" aku melihat arah datangnya panah.

Dari bukit sektor gurun, dari balik angin yang berterbangan membawa pasir yang coklat terang, seorang anak laki-laki berambut hitam, Hansamu berlari menuruni bukit.

Sempat panik, Suhendra, Bantara dan Darwin langsung berlari dan melompat, mencari perlindungan, berharap tak terkena serangan anak panah.

Yoga yang masih berada di sektor gurun segera berlari zig-zag untuk menghindari anak panah. Sesekali dia melihat kearah belakang, melihat posisi Hansamu.

Menyadari posisi Hansamu sudah ideal dan terbuka, Yoga melompat sangat tinggi, membalikan badan dan mengambil satu anak panah dari punggungnya. Ia membidik Hansamu sesaat sebelum meluncurkan anak panahnya.

Tanpa menghentikan larinya, Hansamu dengan cepat menarik dan melepaskan tali busurnya tanpa membidik. Kedua anak panah kini saling meluncur dengan cepat.

Crakk

Anak panah Hansamu dan Yoga bertabrakan serta saling menghancurkan dan berjatuhan. Tanpa disadari, Hansamu sudah melepaskan anak panah keduanya, anak panah kedua Hansamu telah meluncur dibelakang panah pertama, panah tersebut mengincar sebuah bendera merah di lengan atas Yoga.

Eris Project: The Lost MemoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang