Dua tahun yang lalu.
"Tunggu," kata Han Seon-Ho kepada Haru ketika mereka baru saja akan melangkah keluar dari balik panggung teater.
"Kenapa?" tanya Haru yang terdengar terburu-buru. "Bukannya kamu baru saja mengatakan kepadaku kalau tidak ada orang?"
"Bukan, tali sepatumu lepas," kata Seon-Ho kepada Haru.
Pria itu berjongkok dan Haru terdiam di tempatnya. Ia mengikatkan kembali tali sepatu Haru dan ketika ia selesai, Han Seon-Ho tersenyum walaupu Haru tidak bisa melihatnya. "Sudah," katanya.
Haru mengangguk dan berjalan kembali, "Jangan terlalu cepat, kamu akan terjatuh lagi. Lenganku, peganglah."
Ia memegang lengan atas pria itu lagi dan bergumam, "Kamu pasti mempunyai adik, ya."
"Tidak, aku adalah anak tunggal."
"Oh." Haru salah.
"Kenapa?" tanya Han Seon-Ho. "Kenapa kamu bertanya?"
"Karena kamu memperlakukanku seperti aku adikmu."
Han Seon-Ho kali ini berhenti ditempatnya dan dengan spontan ia mengacak-ngacak rambut Haru dengan jari-jarinya. "Kamu lucu."
Haru terdiam di tempatnya dan hanya bisa berdeham, "Rambutku berantakan nanti."
Seon-Ho memperbaiki letak rambut Haru dan tersipu malu sendiri, "Maaf."
"Tidak apa-apa."
Seon-Ho menaruh lengannya yang terbebas di belakang punggungnya agar ia tidak melewati batasnya lagi. "Ayo kita pergi."
"Ya."
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Han Seon-Ho. "Kalau satu hari lagi kita bertemu, aku harap kamu bisa lebih percaya diri dan percaya kalau banyak orang di dunia ini yang baik."
"Aku sudah percaya diri," balas Haru dengan kerutan di wajahnya.
"Aku juga bukan seseorang yang percaya diri Haru ssi. Aku pernah berada di posisimu dan sekarang masih banyak yang harus aku pelajari. Membuka diriku sedikit demi sedikit. Tidak semua orang jahat dan baik—tapi di dunia ini, aku percaya kalau orang-orang baik akan saling bertemu. Aku yakin kita akan bertemu lagi."
___
Maureen Tjahrir-Tanaka yang sedang menyetir masih terlihat sangat kesal dengan keputusan anaknya yang tertua untuk berhenti bekerja. "Haru, tidak semua orang dapat masuk ke SNU."
"Ya, hanya satu persen orang terpintar di Korea Selatan yang bisa masuk ke SNU Mama. Sama seperti pemilihan asisten produser di CWBS, Ma."
"Haru Tanaka."
"Ya, Maureen Tjahrir-Tanaka?" tanya Haru kepada ibunya.
"Haru, Mama tidak akan mengizinkan kamu untuk melakukan hal ini. Kamu tidak boleh bekerja di CWBS. Tidak ketika kamu harus menyelesaikan sekolahmu terlebih dahulu."
"Mama, percaya kepadaku, aku tahu apa yang aku lakukan. Lagipula gaji asisten produser tidak buruk, Ma."
"Tidak buruk?" Maureen tidak percaya mendengarkan kata-kata Haru. "Tidak buruk katamu? Bekerja di stasiun televisi ketika kamu bisa menjadi pengacara—kenapa kamu melakukan hal ini Haru? Apa kamu tahu kalau kamu harus pulang pagi dan ada hari-hari dimana pekerjaanmu menuntutmu untuk tidak pulang?"
"Ya, aku tahu. Aku sudah menandatangani kontraknya," Haru berkata. "Mama bisa menurunkanku di depan stasiun. Aku bisa menggunakan subway ke CWBS."
"Haru Tanaka!"
"Ya?" tanya Haru. Kali ini ia tahu kalau ibunya sangat marah.
"Ada apa? Berikan alasan kepadaku kenapa kamu memilih untuk bekerja di CWBS?"
"Karena aku ingin belajar melihat dunia ini," ujar Haru. "Biarkan aku melihat dunia ini, Ma."
...
...
"Bagaimana kalau kamu...."
"Aku tahu," kata Haru. "Aku tahu kemungkinan aku kembali buta lagi sangat besar. What if this is the only chance I could see the world? Apa aku harus melewatkannya hanya untuk menjadi murid terpintar di SNU dan menjadi pengacara?"
"Haru," Maureen berkata, "Tidak semua orang seberuntung dirimu."
"Benar, tidak semua seberuntung diriku," kata Haru. Ia lalu melanjutkan, "Tidak semua bisa bekerja di CWBS. Terlebih lagi menjadi asisten produser "Six Brothers"."
"Tunggu, acara yang memenangkan best program tahun lalu?"
"Ya, enam pria yang berjalan-jalan selama dua hari, satu malam, memperlihatkan keindahan Korea Selatan. Mereka juga bermain games dan harus memenangkan pertandingan atau kuis untuk makan atau tidur dengan enak. Ada sekitar dua ratus orang Ma yang menjadi staf "Six Brothers", tidak akan terjadi apa-apa denganku."
"Lagipula aku hanya pernah buta, bukan pasien yang baru saja sembuh transplantasi jantung, Mama. Aku akan baik-baik saja."
Maureen menarik napasnya, "Telepon Mama ketika kamu selesai bekerja."
"Ya, minggu ini aku berada di tim orientasi. Wish me luck."
"I wish you all the best Haru."
"Oh ya, jangan katakan kepada Hana di program televisi apa aku menjadi asisten produser. Setidaknya, jangan sekarang," kata Haru kepada ibunya. Ia membuka pintu dan melangkah keluar. Ibunya bertanya, "Memangnya kenapa? Hana sangat menyukai program "Six Brothers"."
"Ia menyukai Han Seon-Ho lebih tepatnya."
"Ah, aktor teater yang bertemu dengan kita dua tahun yang lalu. Ia berada di "Six Brothers"?"
"Ya, musim baru dengan anggota baru," kata Haru.
"Oh, Hana pasti senang."
"Hana pasti menginginkan tandatangan Han Seon-Ho."
Maureen tersenyum, "Dan kamu tidak ingin meminta tandatangan Han Seon-Ho untuk adikmu? Tentu saja Hana pasti akan senang kalau kamu bisa mendapatkannya."
"Akan terlihat tidak profesional bukan kalau aku meminta tandatangannya?" tanya Haru. "Aku dan Han Seon-Ho akan bekerja, Mama," ujar Haru dengan sangat serius.
Maureen tersenyum, "Well Haru, if this is what you want, you have to be serious with your decision."
KAMU SEDANG MEMBACA
On-Air | #Love No. 1
ChickLitSUDAH DITERBITKAN (PENERBIT: BUKUNE PUBLISHING) ON-AIR. © 2021, Cecillia Wangsadinata (CE.WNG). All rights Reserved. ========================================================= This work is protected under the copyright laws of the Republic of Indo...
