23. Sisi Baik Ibu Tiri

2.2K 176 20
                                    

“Sejahat bagaimana pun manusia, mereka tetap masih memiliki sisi kebaikan masing-masing. Karena manusia diciptakan dengan memiliki hati.”

~ Rafanza Athaar Rabbani ~


Seorang wanita bersurai sebahu, mengenakan piyama berwarna merah muda keluar dari kamar. Tiba-tiba, ia melangkah, menuju kamar putra tirinya. Wanita itu membuka pintu kamar anak tirinya, netranya membulat, melihat Rafa terkapar di lantai dengan kondisi banyak luka di tubuhnya. Ia menghampiri Rafa.

“Astaga!”

Della menatap sendu Rafa. Ada rasa kasihan pada Rafa. Walau Rafa anak tirinya, ia adalah seorang ibu. Seandainya Alden di posisi Rafa, ia tidak bisa membayangkan kondisi putranya dikasari ayahnya. Della juga bingung, mengapa suaminya begitu kasar pada Rafa. Seingatnya, suaminya saat menegoiasi, meminta Rafa tinggal bersama mereka, terlihat begitu menyayangi.

“Mas Akbar kenapa kasar banget? Seumur hidup aku belum pernah lihat Mas Akbar sekejam ini. Apa terjadi sesuatu yang aku tidak tahu di masa lalu?” pikir Della.

“Aku memang membenci anak ini, tapi aku nggak tega lihat dia seperti ini. Padahal anak ini lebih berprestasi daripada Alden, kenapa Mas Akbar nyakitin Rafa?”

Hatinya tergerak mengasihani Rafa. Ia mengangkat tubuh Rafa, kemudian membaringkan tubuh Rafa di atas ranjang. Della keluar dari kamar, kemudian pergi ke kamarnya. Ia mengambil kotak obat. Wanita itu kembali masuk ke dalam kamar. Della duduk di tepi ranjang, kemudian mengobati luka-luka Rafa. Entah mengapa dirinya ingin mengobati Rafa.

“Alden itu nakal, beda sama anak ini, pendiam. Kalau dipikir, anak ini kasihan, tapi aku nggak bisa menganggap dia anakku. Mau bagaimana pun, dia anak hasil pengkhianatan Mas Akbar dan Sarah teman sekolahnya itu.”

Della mengusap surai legam Rafa. Saat menyentuh kening, terasa hangat. “Badannya juga hangat. Aku buatkan kompresan dulu,” gumam Della. Wanita itu pergi ke dapur mengambil baskom, kemudian menuangkan air hangat. Wanita itu meletakkan baskom berisi air hangat di atas nakas. Ia pergi ke kamarnya. Della mengambil handuk kecil, lalu kembali ke kamar Rafa. Wanita itu mulai mengompres kening Rafa.

“Seandainya kamu anakku, aku akan sangat menyayangimu. Aku bangga mendengarmu juara pertama mengalahkan seluruh anak Indonesia. Namun, kenyataannya setiap melihatmu, aku mengingat pengkhianatan Mas Akbar dan Sarah.”

Tiba-tiba saja, Rafa membuka matanya. Della terkejut.

“Tan-te?”

“Kenapa?” tanya Della.

“Sakit, Tante ... Ayah banting tubuhku ...,” keluh Rafa. Della terkejut mendengar perkataan Rafa.

Kenapa sampai segitunya?

“Kenapa Ayah begitu?” tanya Della.

“Ayah marah. Aku pergi dari rumah lama-lama. Aku salah, Tante. Aku memang pantas dihukum. Maafin Rafa, Tante,” lirih pemuda itu.

“Istirahat. Kamu nggak perlu ke sekolah, nggak perlu beresin rumah, biar saya semua. Apa mau nanti diantar ke rumah sakit? Tapi, nanti setelah ayahmu berangkat.”

Rafa menggeleng. “Enggak perlu. Rafa mau beresin rumah.” Pemuda itu berusaha bangun, tetapi tubuhnya kembali terjatuh.

“Enggak usah! Kamu istirahat aja.” Della membantu Rafa berbaring. Wanita itu hendak pergi, tetapi Rafa menahan lengannya.

“Tante, makasih. Tante, Rafa bawa oleh-oleh. Tante ambil semua. Buat Tante, ayah, dan Alden,” ujar Rafa. Della mengangguk.

“Udah tidur lagi.” Rafa mengangguk, kemudian memejamkan matanya. Della membuka tas Rafa, ia mengeluarkan semua barang-barang yang ada di dalam tas tersebut. Ada beberapa makanan khas Yogyakarta seperti bakpia pathok, geplak, dan yangko. Ada sebuah tas bertuliskan nama “Untuk Tante Della.” Ada beberapa plastik kaus bertuliskan nama “Untuk Alden, kakakku.” Terakhir ada sepatu kulit bertuliskan nama “Untuk Ayah Akbar.”

Kamu anak yang baik, Rafa.  Sayangnya takdirmu begitu tidak beruntung.

Della membawa semua barang-barang itu ke kamarnya.

*****

Seorang pria paruh baya mengenakan jas berwarna hitam, melangkah, mendekati pemuda yang terbaring di ranjang. Ia menarik salah satu ujung bibirnya.

“Gini kan, anteng. Nggak kemana-mana. Apa saya perlu semakin menyakiti fisikmu, Rafa?” Pria itu meninggalkan kamar Rafa. Pemuda itu membuka matanya. Ia menatap sendu kepergian ayahnya.

“Ayah ... kenapa ayah tega sama aku?”

Pemuda itu mencoba bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan tertatih menuju kamar mandi. Rafa mulai membasahi tubuhnya dengan shower. Sensasi perih begitu terasa di tubuh Rafa. Pemuda itu menahan rasa sakitnya. Usai mandi, Rafa mengganti pakaian dengan kaus hitam pendek dan celana panjang berwarna putih. Pemuda itu kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Sungguh seluruh tubuhnya sakit dan remuk karena ayahnya semalam membanting tubuhnya.

Seorang wanita berambut sebahu datang dengan membawa semangkuk bubur dan segelas air putih. Rafa terheran, mengapa ibu tirinya sebaik ini padanya.

“Dimakan buburnya. Ini obatnya juga diminum biar panasnya cepet turun. Saya mau kirim surat izin ke sekolah dulu,” ujar Della dingin. Rafa melengkungkan bibirnya dengan sempurna, menatap Della. Ia mengangguk. Wanita itu pergi, meninggalkan Rafa. Rafa mulai memakan buburnya walau sebenarnya tak nafsu makan. Ini pertama kalinya dirinya kembali dibuatkan bubur setelah bundanya tiada.

Terima kasih, Tante Della. Tante ternyata tidak sejahat yang aku pikirkan.

Usai makan dan meminum obat, Rafa kembali tertidur. Tubuhnya saat ini minta diistirahatkan.


GOOD BYE  [Sudah Terbit ❤️]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang