“Kamu diuji karena kamu kuat. Jangan patah semangat dalam menjalani kehidupan yang rumit ini.”
~ Rafanza Athaar Rabbani ~
Semenjak Alden menyebarkan bahwa dirinya adalah anak selingkuhan dari ayahnya, satu sekolah mem-bully dan mencaci maki Rafa. Tiada hari tanpa umpatan dan ejekan yang bisa pemuda itu dengar di lingkungan sekolah. Kehidupannya seratus delapan puluh derajat mulai berubah. Dahulu yang semula banyak orang yang mendekatinya, kini mereka menjauh. Tiada siapa-siapa yang memihak pada Rafa.
Sosok pemuda berkulit putih baru saja memasuki kelas dengan keadaan rambut dan wajah masih basah karena terkena sentuhan air wudu. Pemuda itu baru saja melaksanakan salat dhuha di waktu istirahat pertama.
Alden dan dua kawannya menghampiri Rafa yang baru saja duduk di bangkunya.
"Ngapain sih, sok alim? Mau carmuk? Cari sensasi? Atau cari popularitas aja?" ejek Alden sambil menatap sinis Rafa.
"Sok suci lo, Rafa! Lo itu anak haram! Enggak usah belaga sok bersih deh, sok-sokan salat dhuha! Enggak bakal bikin status lo berubah, Rafa!" cibir Edo naik oktaf.
"Mending jadi bad boy sekalian kayak Alden," cibir Putra.
Rafa membisu. Pemuda itu memilih tidak menghiraukan perkataan mereka karena sama dengan membuang waktunya yang berharga. Alden dan dua kawannya tidak suka, Rafa mengabaikan mereka.
Rafa memasang headset-nya, kemudian mengutak-atik ponselnya. Ia ingin menyetel suara salawatan di ponselnya, supaya pikirannya agak tenang dan damai. Rafa mengeluarkan sebuah buku tebal, kemudian membaca buku pelajarannya. Belajar sudah menjadi hobinya sejak kecil terutama belajar fisika. Fisika bagi Rafa banyak hal yang bisa diterapkan dalam kehidupan. Jangan heran jika Rafa setiap semester selalu mendapatkan peringkat pertama di kelas.
BRAKK!!!
Alden menggebrak meja, kemudian menarik paksa buku Rafa, lalu buku Rafa dijatuhkan ke bawah. Edo menarik headset dari telinga Rafa dengan paksa, membuat telinga Rafa sakit.
"KURANG AJAR LO, RAFA! BERANI-BERANINYA LO ACUHIN GUE! INGET, GUE ABANG LO, RAFA!” teriak Alden sambil menjambak rambut Rafa.
Rafa meringis. "Arghh ... Alden, kamu mau apa? Rafa mohon, jangan ganggu Rafa ...,” pinta Rafa.
Alden menarik salah satu sudut bibirnya. "Mau gue? Lo tanya apa mau gue, Rafa? GUE MAU BIKIN LO MENDERITA RAFA! GUE MAU HANCURIN HIDUP LO RAFA!" teriak Alden, kemudian ia menarik kerah seragam Rafa, membuat pemuda berdiri, berhadapan dengan Alden.
Alden menarik tangan Rafa, pemuda itu mengikuti Alden dengan terpaksa. Edo dan Putra mengekori mereka berdua.
“Mau kemana?” tanya Rafa. Pemuda itu mengerutkan keningnya.
“DIEM LO!” bentak Alden.
BRAKK!!!
Alden mendorong Rafa ke ruangan gelap penuh debu dan beberapa fasilitas sekolah yang sudah rusak dan tidak terpakai lagi, membuat Rafa tersungkur di lantai yang kotor. Rafa terbatuk.
Alden menatap tajam Rafa, kemudian menarik salah satu ujung bibirnya. “Guys, pegang dia!" perintah Alden pada kedua temannya.
Edo dan Putra memegangi tangan Rafa dengan kuat, menyandarkan tubuh Rafa pada tembok.

KAMU SEDANG MEMBACA
GOOD BYE [Sudah Terbit ❤️]
Teen Fiction⚠️ Sudah tidak lengkap ⚠️ Warning Cerita ini ada beberapa adegan kekerasan! Diambil baiknya, yang buruk buang 😊 Perzinaan memang tidak bisa dimaafkan, tetapi anak hasil perzinaan tidak bisa disalahkan. Rafanza Athaar Rabbani, menjadi objek perundu...