10. Hilma Salma Fahira

1.8K 163 41
                                    


"Berada di lingkungan baru itu sangat mengasingkan. Butuh teman yang tulus ingin berteman denganku agar aku bisa menyesuaikan diri."

~ Hilma Salma Fahira ~


 
Hari Sabtu sekolah Rafa seperti biasa libur. Rafa menghabiskan waktu di hari Sabtu pergi, mengunjungi anak jalanan bersama Ikhsan. Mereka mengunjungi anak jalanan dengan membawakan beberapa boks makanan.

“Nih, makanan buat Adek,” ujar Rafa sembari memberikan boks makanan kepada anak jalanan. Anak laki-laki berbaju lusuh mengangguk.

“Terima kasih, Kak Rafa,” ujar anak itu berbinar, menatap Rafa. Mereka melanjutkan perjalanan, membagikan makanan ke area lain. Selain anak jalanan, orang-orang jalanan seperti pemulung, pengamen, atau pekerjaan lainnya Rafa berikan makanan. Di dalam boks tersebut tidak hanya makanan dari restorannya, tetapi juga beberapa lembar uang walau tidak hanya jumlahnya, hanya dua lembar berwarna merah.

“Terima kasih, Nak Rafa, Ikhsan,” ujar nenek yang setiap hari memulung sampah. Rafa dan Ikhsan melebarkan bibirnya dengan sempurna.

“Sama-sama, Nek. Sesama manusia memang sudah seharusnya saling berbagi. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial agar senantiasa peduli pada orang lain yang membutuhkan,” ujar Rafa.

“Kalau begitu, kita permisi,” pamit Ikhsan. Rafa dan Ikhsan kembali melanjutkan perjalanan, membagikan makanan.

“San, mending kita mencar. Biar cepat selesai bagi-bagi boks ini,” usul Rafa. Ikhsan mengangguk. Ia setuju dengan apa yang Rafa katakan.

“Ide yang bagus. Mari kita berpencar!” seru Ikhsan. Rafa dan Ikhsan pun mulai berpencar, membagikan makanan kepada orang-orang jalanan yang membutuhkan. Mereka begitu senang mendapatkan bantuan dari Rafa.

Beberapa menit kemudian, boks makanan sudah Rafa bagikan semua. Ia akan kembali menemui Ikhsan. Tiba-tiba saja, manik matanya menangkap beberapa anak jalanan sedang duduk manis. Rafa melangkah, mendekat ke arah apa yang baru saja ia lihat.

Sosok gadis berjilbab hitam, mengenakan gamis berwarna putih tengah mengajar anak-anak jalanan. Rafa melengkungkan bibirnya dengan sempurna, menatap dari kejauhan sosok gadis berkulit putih, bermata bulat, memiliki iris berwarna kecokelatan terang, bulu mata lentik juga panjang, dan hidung mancung.

Cantik sekali dia.

Rafa dibalik pohon, memperhatikan gadis tersebut. Entah mengapa ia merasakan jantungnya berdegup begitu kencang.

Kenapa jantungku deg-degan banget lihat gadis cantik itu. Ini bukan asmaku yang kambuh, kan?

Rafa menjadi aneh pada dirinya sendiri. Pemuda itu ada rasa ingin menghampiri gadis itu untuk berkenalan, tetapi ia malu. Rafa belum pernah sama sekali mendekati gadis manapun.

Kenalan nggak, ya? Siapa tahu bisa ngajar juga. Rafa pengen banget ngajarin anak-anak jalanan. Rafa bimbang.

Jantungnya makin berdetak lebih cepat dari biasanya. Pemuda itu menyentuh dada sebelah kirinya.

Ya ampun berdebar banget. Ini bukan penyakitku yang kumat. Aku terpesona sama gadis itu.

Rafa mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia akan mendatangi gadis itu untuk berkenalan.

Bismillah. Rafa bukan mau modus, Rafa Cuma mau nambah temen. Rafa bukan cowok modus yang deketin cewek, minta nomer telepon, terus ngajakin cewek chattingan sampai begadang di malam hari. Itu bukan Rafa! Hal kayak gitu nggak penting! No.

Pemuda itu melangkah, menghampiri gadis yang tengah mengajari anak-anak jalanan hitungan matematika.

“Tujuh ditambah tiga sama dengan berapa adik-adik?” tanya gadis berkulit putih itu.

GOOD BYE  [Sudah Terbit ❤️]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang