Diperjalanan menuju pulang. Ari sesekali melirik Aisyah yang sedang tertidur di sebelahnya. Kiranya cewek itu sangat lelah, padahal disini harusnya yang santai-santai tidur itu majikan. Ini malah pembantu tidur disupiri majikan.
Tapi, cantik. Satu kata itulah yang di definisikan Ari saat melihat Aisyah tertidur. Ari memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu tangannya mulai ingin mengusap rambut hitam pekat milik Aisyah. Sayang seribu sayang aksinya harus terhenti saat melihat mata terpejam tadi sudah terbuka dan menatap Ari dengan tatapan polosnya.
"Kak Ari mau ngapain?"
Ari gelagapan, "Itu gue mau ngasih tahu. Lo jangan tidur terus, gue bukan supir lo!"
"Maaf, habisnya dari tadi Ka Ari di ajak ngobrol gak jawab terus. Dari tadi cuma natap tajam terus, ditambah sunyi gini jadi ngantuk."
"Ya seenggaknya lo gak usah tidur! Gak sopan majikan nyetir lo enak-enakan tiduran. Mikir dong!"
"Ya maaf sih!'
Sesampainya digarasi, Aisyah segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Ari.
"Lo ngapain bukain pintu mobil gue segala?"
"Kan katanya kak Ari majikan, berarti saya sebagai pegawai atau pembantu disini harus membukakan pintu mobil untuk majikannya."
Ari memijat pelipisnya, "Emang lo kira gue cewek apa dibukain segala?! Lagian cowok yang harus buka pintu buat cewek, bukan sebaliknya!"
"Terserah lah, saya masuk duluan ya. Soalnya gak enak pake baju kayak gini."
"Ck! Gak sopan!"
"Apalagi sih yang gak sopan? Saya udah izin deh tadi. Jadi orang gak usah ribet deh!"
"Lo yang ribet, bego!"
"Seterah sang majikan lah bodo amat!" Karena kesal Aisyah meninggalkan Ari.
Saat masuk ke dalam rumah, tubuhnya tak sengaja menabrak sosok cowok yang berjalan dari arah berlawanan.
"Astaga, maaf-maaf tadi saya jalannya nunduk."
Devano yang kesal ingin memarahinya, namun saat melihat wujud cantik di depannya. Segala umpatan yang akan keluar dari mulutnya ia tahan.
Anjir cantik! Batin Devano.
"Ini siapa dah, Aisyah si babu songong itu kan? Gila jelek banget lo kayak lonte!"
Memang ya hati dan ucapan kadang tak sejalan. Aisyah yang mendengar ucapan itu merasa harga dirinya diinjak-injak.
"Tinggal bilang cantik aja apa susahnya sih gak usah muna deh jadi cowok!"
"Cantik dari lubang sedotan sih iya!"
"Sembarangan banget sih, itu mulut belum pernah ditabok anak kecil ya?!"
"Udahlah, kalau dicium lo baru belum! Emang kenapa mau dicoba?!"
"Najong!" Aisyah pergi begitu saja meninggalkan Devano yang tersenyum mesum, senyum yang begitu mengerikan menurutnya.
"Ini yang punya rumah gue apa tuh anak sih, perasaan gak tahu diri banget! Untung cantik!"
•••
Aisyah terduduk lesu di kamarnya. Badannya terasa pegal, ditambah baju dress yang melekat ditubuhnya terasa tak nyaman digunakan.
"Mandi dulu apa ganti baju doang ya?" Aisyah bermonolog.
"Mandi deh."
KAMU SEDANG MEMBACA
3 Big Baby
Roman d'amourAisyah terpaksa bekerja di keluarga Brama, pria paruh baya yang ternyata teman lama ayahnya dulu. Bekerja menjadi babu ketiga cowok tampan nan manja membuat hari-harinya penuh drama. Apalagi saat ketiganya mulai tertarik pada Aisyah. Bingung dan bim...
