Keluar dari toilet Aisyah mencari keberadaan sosok Ari. Yang dicari ternyata tidak ada dikamar, dia bernafas lega karena dengan itu Ari tidak akan memarahinya habis-habisan. Lalu, matanya tak sengaja melirik obat yang ada di nakas. Aisyah berjalan mengambil obat itu.
"Obat dari siapa nih? Apa kak Iqbal ya? Tarikan yang ngasih makanan pedas kan dia, ini juga pasti dari dia deh," tebaknya.
Dengan segera dia meminum obat itu, siapa tahu sakit perutnya langsung sembuh. Usai meminum obat, ia memilih pergi ke dapur. Karena dia tahu diri sebagai pembantu belum masak untuk anak-anak majikannya.
Aisyah mengolah bahan-bahan yang ada di kulkas dapur. Untung saja dia bisa memasak walaupun masakannya tidak seperti direstauran bintang lima.
Setelah selesai memasak, dia memanggil ketiga anak majikannya untuk makan. Walaupun tadi Iqbal sudah makan, tapi sekarang dia juga turut ikut serta duduk untuk menyantap makan malam.
"Kak Iqbal makasih ya buat obat sakit perutnya," ujar Aisyah saat melihat cowok itu menatapnya.
"Hah? Obat apaan?" tanya Iqbal bingung, pasalnya sedari pulang dari restauran dia langsung pergi ke kamar dan baru keluar sekarang.
"Itu loh obat yang ditaruh di nakas tempat tidur saya, masa pura-pura lupa sih!"
"Gue emang gak ngasih obat ke lo! Lagian gue gak seperhatian gitu kali, dan lagi dari tadi gue dikamar. Ngelindur lo?!"
"Obat itu dari gue, bilang makasih nya ke gue bukan ke dia!" Celetuk Ari.
Pipi Aisyah memanas kala melihat Ari dibelakang tubuhnya. Perihal kentut tiba-tiba tadi ia masih malu. Kalau kentutnya cuma bau sih gak masalah, nah ini kentutnya udah bau ditambah lagi bunyi kayak orang BAB di celana.
"Btw, nih makanan gak lu campur sama tai kan?" tanya Ari dengan tatapan tak lepas dari Aisyah.
Uhuk!
Devano yang sudah menyantap makanan seketika terbatuk kala mendengar suara Ari. Rasanya sangat jijik jika sedang makan mendengar orang berbicara jorok.
"Lah fitnah, mana mungkin saya masukin tai!"
"Ya siapa tahu lu dendam sama keluarga gue!"
"Kalaupun saya dendam udah saya masukin sianida nih makanan ini semua, lagian apa untungnya juga sih balas dendam lewat tai?!"
"Bisa diam gak sih? Ini gue lagi makan, kalian kalau mau bahas tai sana diwc aja. Ganggu gue makan aja!" teriak Devano.
"Maaf." Aisyah menunduk.
Fiuh
Ari melepeh masakan Aisyah. Matanya menatap Aisyah tajam.
"Makanan apaan nih, gak enak gini! Bisa masak gak sih lo?!" bentaknya.
"Emang rasanya kenapa?" Aisyah memberanikan diri untuk bertanya.
"Pake nanya lagi! Ini sayur kenapa rasanya manis sih?!" tegurnya.
Aisyah menepuk kening, karena tadi buru-buru ia jadi lupa membedakan mana tempat gula mana tempat garam.
KAMU SEDANG MEMBACA
3 Big Baby
RomanceAisyah terpaksa bekerja di keluarga Brama, pria paruh baya yang ternyata teman lama ayahnya dulu. Bekerja menjadi babu ketiga cowok tampan nan manja membuat hari-harinya penuh drama. Apalagi saat ketiganya mulai tertarik pada Aisyah. Bingung dan bim...
