Pagi itu berakhir seperti biasa—cepat dan padat. Maika menutup satu per satu wadah lauknya, mengumpulkan sendok, lalu merapikan plastik yang tersisa dengan gerakan yang sudah terlatih. Uap nasi tidak lagi setebal saat subuh, dan jalanan di depannya mulai lengang—fase ketika para pembeli telah kembali pada aktivitas masing-masing.
“Udah habis lagi, Mbak? Besok jualan lagi kan?” tanya salah satu ibu yang lewat.
Maika menoleh sekilas, lalu mengangguk. “Iya, Bu. InsyaAllah besok ada lagi.”
“Besok saya pesan ya, lima bungkus. Buat arisan.”
“Iya, Bu. Dicatat. Nanti diingatkan lagi lewat WhatsApp, ya, takut saya kelupaan.”
Ibu itu tersenyum, kemudian berlalu.
Untuk beberapa detik, Maika terdiam. Tangannya masih memegang tutup wadah, tetapi pikirannya melayang. Kemarin dia datang. Dan pergi. Begitu saja. Tanpa basa-basi, tanpa sesuatu yang berlebihan.
“Memang harusnya begitu. Lo mau berharap apa sih, Mai?” gumamnya pelan.
Ia menghela napas, lalu berdiri kembali. “Udah, fokus kerja. Kembangin usaha. Jangan aneh-aneh.”
Gerobak itu kemudian ia dorong perlahan ke arah garasi samping rumah. Ketika ia masuk, Papa sudah duduk di ruang tamu—seperti biasa, tenang, mengamati, tanpa banyak ekspresi.
“Udah?” tanya Papa.
“Iya, Pa.”
“Habis?”
“Alhamdulillah, habis semua.”
Papa mengangguk pelan. “Capek?”
Maika tersenyum tipis. “Lumayan.”
Keheningan sempat menggantung di antara mereka. Maika hendak melangkah pergi ketika suara Papa kembali terdengar.
“Besok tambah.”
Maika langsung menoleh. “Hah? Apanya, Pa?”
“Porsinya.”
“Kenapa?”
“Kalau tiap hari habis, berarti kurang.”
Papa berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang tetap datar, tetapi kali ini lebih tegas.
“Nanti Papa transfer tambahan modal. Papa mau pesan untuk Jumat berkah. Lima puluh box. Dibagiin di masjid.”
Maika terpaku.
“Kamu biasa jual dua belas ribu, kan? Papa bayar tujuh belas ribu per box. Sanggup?”
Ada jeda yang cukup panjang. Bukan karena ragu—melainkan karena ia sedang menghitung, memperkirakan, menimbang kemampuannya sendiri.
“Serius, Pa?”
“Iya.”
Maika mengangguk perlahan. “InsyaAllah sanggup.”
Dan untuk pertama kalinya sejak ia memulai usaha ini, dadanya terasa benar-benar ringan.
“Nanti Mama bantuin kok, Mai,” sela Mama yang entah sejak kapan sudah duduk santai di teras, ditemani sepiring camilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
When Qadarullaahu Bring Us Together [MAIKA RAFAN]
Romance~ Maika Dzikria mengenal rindu jauh sebelum ia mengerti bagaimana cara mengucapkannya. Rindu itu hadir secara perlahan, menetap di hatinya, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang sulit ia jelaskan. Rindunya terasa begitu sunyi, tidak ada kepastian, dan me...
![When Qadarullaahu Bring Us Together [MAIKA RAFAN]](https://img.wattpad.com/cover/245713834-64-k35873.jpg)