~
Maika Dzikria mengenal rindu jauh sebelum ia mengerti bagaimana cara mengucapkannya.
Rindu itu hadir secara perlahan, menetap di hatinya, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang sulit ia jelaskan. Rindunya terasa begitu sunyi, tidak ada kepastian, dan me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta Selatan, 2026
Maika mematut tubuhnya di cermin. Tidak ada yang spesial dari penampilannya hari ini. Ia mengenakan kebaya berwarna abu tua dengan panjang hingga lutut, lengkap dengan rok batik berwarna senada, serta pashmina abu muda yang menjuntai hingga perut.
Wajah kuning langsat hasil perjuangan skincare routine selama tiga tahun itu hanya dipoles foundation dan bedak tabur, dengan sedikit sentuhan lip tint berwarna cherry.
"Bentar, Ma!" sahutnya dengan suara cukup kencang.
Gadis itu menatap ponselnya. Sudah hampir seminggu ia mengirim pesan pada Nara, tetapi sahabatnya itu belum juga membalas. Keterlaluan memang. Tapi, sudahlah. Kalau Nara sempat pasti dia juga akan membalas pesannya.
Maika menuruni tangga penghubung lantai satu dan lantai dua. Tampak Mama, Papa, dan kedua adiknya sudah rapi.
Buset, udah kayak acara apaan aja, pikir Maika.
"Papa jadi ikut juga?" tanya Maika berbasa-basi. Bukan apa-apa, biasanya urusan pekerjaan adalah paling nomor satu.
"Iyalah. Papa, kan, mau lihat anak Papa wisuda," jawab sang Papa. Wisuda SMK, tepatnya. Maika hanya menganggukkan kepala.
Mereka berlima berjalan keluar dan menaiki mobil berwarna hitam. Maika duduk di bangku paling belakang sendirian, sementara kedua adiknya duduk di bangku tengah.
"Kamu ada kepikiran buat lanjut kuliah?" tanya Papanya.
Maika mengalihkan perhatiannya pada kedua orang tuanya, lalu menggelengkan kepala.
"Belum ada, Pa." Raut wajah Papanya mendadak muram. Ia punya harapan besar bahwa Maika mau melanjutkan pendidikannya. Bukan justru bekerja.
"Kenapa? Kamu tahu, kan, zaman sekarang kalau enggak kuliah cari pekerjaan itu susah, apalagi kalau kamu cuma lulusan SMK."
Maika menghela napas sejenak. Ya, Maika tahu itu. Tapi ia tidak mau membebani sang ayah. Apalagi setelah tahu bahwa meskipun tengah sakit papanya itu tetap memaksakan diri untuk tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga.
"Maaf, Pa. Tapi aku memang belum kepikiran buat lanjut kuliah. Planning aku setelah lulus ini mau coba buka usaha sendiri," jelas Maika.
Nala yang mendapati suasana tiba-tiba kaku buru-buru menengahi.
"Gak apa-apa, asalkan kamu serius merintis usaha kamu. Mama yakin kamu bisa sukses, biidznillah. Gak masalah kalau kamu memang gak mau kuliah. Asal tetap berusaha buat terus belajar. Tapi, kalau bisa tetap diniatkan biat dilanjutkan ketika kamu siap. Untuk saat ini Mama sama Papa enggak bisa maksa, karena nantinya kamu juga yang ngejalaninnya," ujar Nala akhirnya.
Ia paham seperti apa Maika. Daripada memaksakan kehendak yang justru membuat putrinya tidak bisa menikmati pilihannya, lebih baik ia mendukung. Apa pun caranya mendidik, orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.