5 • Jarak yang Dijaga, Rasa yang Diuji

2.9K 171 78
                                        


Bogor menyambut mereka dengan udara yang berbeda-tidak sedingin Bandung, namun tetap menyisakan sejuk yang menenangkan kulit. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan siang tadi. Langit telah berubah warna, jingga yang perlahan memudar ke abu-abu kebiruan. Senja hampir selesai, menyisakan cahaya tipis yang menggantung di ufuk barat.

Mobil berhenti di depan rumah.

Rumah itu tetap sama seperti saat mereka tinggalkan.

Tenang.
Rapi.
Dan... entah sejak kapan, terasa berjarak.

Tidak ada suara riuh penyambutan. Tidak ada tanya "capek nggak?" atau "perjalanannya gimana?". Hanya suara pintu mobil yang terbuka, lalu ditutup kembali dengan pelan.

Papa turun lebih dulu, mengambil beberapa tas tanpa berkata apa-apa. Langkahnya stabil, ekspresinya datar seperti biasa. Mama menyusul, langsung berjalan ke arah dapur sambil membawa kantong oleh-oleh. Rutinitas seperti sudah menunggu untuk segera dilanjutkan.

Maika berdiri sebentar di samping mobil.

Menghirup udara dalam-dalam.

Lalu menghembuskannya perlahan.

Ia sudah terbiasa.

Perasaan seperti ini bukan hal baru.

Ia mengambil dua tas kecil, lalu membuka pintu belakang. Zahira dan Jihan masih tertidur pulas, tubuh kecil mereka saling bersandar, napasnya teratur dan tenang. Maika tersenyum tipis.

"Tidur aja ya... jangan kebangun dulu," gumamnya pelan.

Ia menyelimuti mereka dengan jaket tipis, memastikan tidak ada angin yang langsung mengenai wajah mereka. Gerakannya lembut, nyaris tanpa suara.

Hati-hati.

Selalu begitu.

Setelah itu, ia menggendong Zahira lebih dulu. Tubuh mungil itu terasa hangat di pelukannya. Maika menyesuaikan posisi, memastikan kepala adiknya nyaman di bahunya sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.

Act of service.

Cara paling jujur yang ia tahu untuk mencintai seseorang-tanpa perlu banyak kata.

Tanpa perlu disentuh balik.

---

Setelah semuanya selesai-tas sudah rapi, adik-adiknya sudah tertidur di kamar, dan rumah kembali pada ritmenya-Maika masuk ke kamarnya sendiri.

Pintu ditutup perlahan.

Tidak dikunci.

Seperti biasa.

Ia berjalan pelan ke arah kasur, lalu duduk di tepinya. Matanya menatap lurus ke depan, tapi tidak benar-benar melihat apa-apa.

Sunyi.

Sunyi yang tidak asing.

Namun hari ini... terasa berbeda.

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan pulang, tidak ada lagi distraksi. Tidak ada jalan tol panjang, tidak ada suara mesin mobil, tidak ada pemandangan yang bisa dijadikan pelarian.

Semua kembali. Perlahan dan mengendap. Lalu naik ke permukaan. Nama itu hadir tanpa diundang.

Rafan.

Maika menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya panjang.

Tidak ada reaksi berlebihan. Tidak ada drama. Namun jelas-ia tidak bisa lagi pura-pura tidak merasakan apa pun.

Ia bangkit. Langkahnya menuju kamar mandi terasa lebih berat dari biasanya, meski wajahnya tetap tenang. Air wudhu mengalir di tangannya-dingin, tapi tidak menggigit seperti di Bandung.

When Qadarullaahu Bring Us Together [MAIKA RAFAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang