6 • Jalan yang Dipilih, Bukan Ditunggu

19.6K 1K 8
                                        


Satu bulan setelah percakapan itu, hidup Maika tidak tiba-tiba berubah jadi kisah dramatis seperti di film-film. Tidak ada chat masuk yang bikin deg-degan, tidak ada pertemuan "kebetulan" yang terlalu indah untuk dipercaya. Justru sebaliknya-hari-harinya terasa lebih sunyi, tapi... lebih penuh.

Pagi datang jauh lebih cepat dari biasanya.

Jam menunjukkan pukul 03.12 saat Maika sudah berdiri di dapur. Rambutnya diikat asal, wajahnya masih polos tanpa ekspresi berlebihan. Lampu dapur menyala hangat, memantulkan bayangan tubuhnya di lantai keramik yang dingin. Di depannya, beras sudah siap dimasak, santan mulai dipanaskan, dan kunyit yang dihaluskan memberi warna kuning yang pelan-pelan hidup.

Aroma nasi kuning mulai menguar di dapur. Nasi kuning itu nampak hangat, gurih, dengan jejak wangi kunyit yang khas bercampur santan yang pelan-pelan mendidih. Uap tipis naik dari panci, menari di bawah cahaya lampu dapur yang kekuningan, menciptakan suasana yang jarang sekali ada di rumah itu sepagi ini.

Mama yang baru keluar kamar berhenti di ambang pintu.

Langkahnya terhenti begitu saja, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk masuk lebih jauh. Tangannya masih memegang ujung pintu, matanya menyapu perlahan ke arah dapur-ke arah sosok Maika yang berdiri membelakanginya, sibuk mengaduk nasi dengan gerakan yang tenang dan teratur.

Beberapa detik berlalu.

Mama tidak langsung bersuara.

Ia hanya memperhatikan-cara Maika memegang sendok kayu, cara uap panas mengenai wajahnya tanpa membuatnya mundur, cara ia sesekali mengecilkan api dengan refleks yang terlihat sudah terlatih. Tidak ada gerakan yang canggung. Tidak ada tanda bahwa ini sekadar coba-coba.

Seperti... ini memang sudah dipikirkan.

Mama mengedip pelan.

Ini Maika...? Atau dirinya salah lihat?

Bukan karena ia tidak mengenali anaknya sendiri, tapi karena pemandangan ini terasa asing sekaligus... menghangatkan. Rumah yang biasanya sunyi di waktu sepagi ini, kini dipenuhi suara kecil-desis santan, denting sendok mengenai panci, dan napas pelan yang teratur.

Mama menarik napas perlahan.

Aroma itu semakin jelas.

"Kamu... ngapain?" tanyanya, masih setengah mengantuk.

Maika menoleh seraya tersenyum singkat. "Masak, Ma."

"Jam segini?"

"Hehe iya."

Mama menyandarkan bahu ke kusen pintu. "Mama gak salah lihat kan, Mai?"

Maika tersenyum tipis. "Nggak kok, kan Mama yang ngajarin."

Mama mengangkat alis. "Ini ide baru atau gimana sih, Mai?"

Maika akhirnya menoleh. "Beberapahari yang lalu kepikiran, kebetulan aku masih ada tabungan. Aku pake buat modal aja."

Mama terdiam.

"Terus ini... serius?" tanya Mama lagi, kali ini nadanya lebih sadar.

"Iya."

"Kamu gak capek? Ini kalau tiap hari bangun jam segini, belum harus rapi-rapi."

"Iya, aku tahu kok Ma."

"Harus bangun jam tiga tiap hari?"

"Iya sekalian aja."

Mama menghela napas pelan. Bukan kesal. Lebih ke... khawatir yang ditahan.

"Kamu baru aja lulus, Maika..."

"Iya."

"Dan kamu pilih ini?"

When Qadarullaahu Bring Us Together [MAIKA RAFAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang