~
Maika Dzikria mengenal rindu jauh sebelum ia mengerti bagaimana cara mengucapkannya.
Rindu itu hadir secara perlahan, menetap di hatinya, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang sulit ia jelaskan. Rindunya terasa begitu sunyi, tidak ada kepastian, dan me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi datang dan malam telah berlalu, kedatangannya di hari ini sangat pelan seolah tidak ingin mengusik apa pun yang masih tertinggal dari hari kemarin. Tidak tergesa karena Maika tidak harus bersiap untuk pergi ke sekolah.
Cahaya matahari menembus sela tirai kamar Maika, jatuh lembut di lantai. Udara Bogor masih dingin, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Maika terbangun dengan tubuh yang sedikit pegal, namun pikirannya terasa lebih jernih dibanding malam sebelumnya.
Ia duduk di tepi ranjang beberapa saat, setelah mandi dan berwudhu karena hendak menunaikan shalat dhuha di awal waktu. Wisuda kemarin terasa seperti mimpi yang sudah berlalu—nyata, tapi meninggalkan jejak lelah yang halus. Tidak ada euforia berlebihan. Tidak juga kesedihan. Hanya rasa kosong yang wajar setelah satu fase panjang akhirnya ditutup.
Maika bangkit, merapikan tempat tidurnya secara kilat, lalu mengambil mukena. Maika berdiri lebih lama sebelum takbir, menata niat dan menghadirkan hati. Shalat dhuha pagi itu ia jalani dengan tenang. Selesai salam, Maika tetap duduk sejenak. memperbaiki diri.
Hari ini Maika terbangun dengan perasaan yang lebih ringan dibanding malam sebelumnya. Usai shalat dhuha, Maika membantu Mama menyiapkan sarapan. Papa sudah duduk di ruang makan, membaca koran dengan kacamata bertengger di hidungnya. Sesekali ia melirik Maika, lalu tersenyum kecil.
“Hari ini mau ke mana?” tanya Papa santai.
Maika mengangkat bahu ringan. “Belum tahu, Pa. Paling di rumah aja.”
Papa mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu, putrinya sedang berada di fase mencari arah, dan terlalu banyak pertanyaan justru akan membebani.
Setelah sarapan, Maika kembali ke kamar. Ponselnya tergeletak di samping, dalam keadaan senyap. Tidak ada notifikasi yang ia tunggu, dan ia tidak merasa perlu membuka apa pun.
Hingga sebuah nama muncul di layar.
Nara.
Maika menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan.