4 • Langkah yang Penuh Pertimbangan

26.2K 2.9K 142
                                        

Pagi itu, Bandung menyambut dengan udara yang lebih dingin dari hari sebelumnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi itu, Bandung menyambut dengan udara yang lebih dingin dari hari sebelumnya. Kabut tipis masih menggantung di sela pepohonan ketika Maika menutup resleting tas kecilnya. Villa itu kembali lengang, seolah semalam hanya meninggalkan jejak doa dan diam.

Mama mengetuk pintu kamar.
“Kita siap-siap ya. Habis Dhuha, langsung pulang.”

Maika mengangguk. “Iya, Ma.”

Ia menunaikan shalat Dhuha singkat sebelum berkemas. Tidak ada doa yang panjang. Tidak pula permintaan yang spesifik. Hanya satu kalimat yang berulang di dalam hatinya. Ya Allah, cukupkan aku dengan ridha-Mu.

Di aula bawah, beberapa orang masih sibuk membereskan sisa acara. Kardus-kardus dekorasi disusun rapi, bunga-bunga dipindahkan ke sudut ruangan. Suasana tidak lagi sakral seperti kemarin, tapi tetap tenang—tenang yang matang, bukan sepi yang kosong.

Nara menghampirinya sebelum mereka benar-benar berpisah.

“Makasih ya udah dateng, sorry ga ngabarin dengan bener,” ucapnya pelan.

Maika tersenyum. “Makanya jangan susah ngabarin tuh, tinggal ketik doang. Niat dikit makanya, jadi aja gue ga siapin hadiah apapun buat lo.”

"Ya gapapa sih Mai, lagian yang kawinan kan bokap nyokap gue. Napa jadi gue yang lo kasih hadiah?" kata Nara sedikit herman—eh maksudnya heran.

"Yang kasih hadiah sama orang tua lo udah banyak, gue pikir lo jauh lebih berhak buat gue kasih hadiah. Mengingat usaha lo cukup keras buat bikin orang tua lo kembali bersatu, biidznillah sih ya," kata Maika lagi membuat Nara terharu.

"Huaaaa Maikaaaa!!! Tanggung jawab gue jadi mau mewek niih gara-gara lo," balas Nara.

"Dihhh, sono! Jangan mepet-mepet, gue kepret nih!" Maika itu paling anti disentuh tahu!

Tidak ada pelukan kali ini. Hanya saling menatap sebentar. Seolah-olah mereka sama-sama paham—ada hal-hal yang cukup disimpan di dada, tidak perlu diucapkan. Tidak peu berharap bahwa Maika akan menjadi sosok yang hangat, ringan memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya karena Maika itu paling anti skinship dengan siapapun. Dia bukan tipikal orang yang membahasakan rasa sayangnya lewat sentuhan. Lebih kepada aksi. Maklum saja love languange Maika itu act of service.

"Ya udah, gue balik dulu. Sampai ketemu kalau lo nya niat ketemu gue," ujar Maika.

Lagi dan lagi diam-diam ia mencuri pandangan pada seseorang. Siapa lagi kalau bukan El Rafan Nedrian Hirasaki? Pria berdarah Jepang yang sukses menarik perhatian seorang Maika Dzikria. Nampak di sana Rafan tengah berdiri jauh, ia sedang berbincang dengan Papanya Maika. Sikapnya sama seperti kemarin. Rafan tetap renang, tertib, dan tahu batasan. Bahkan manakala pandangan mereka sempat bertemu, Rafan langsung membuang pandangan percuma. Membuat Maika cukup tahu diri. Rafan bisa saja merasa illfeel padanya yang tidak cukup memikat.

Mobil mereka bergegas berangkat menjelang siang, lebih tepatnya pukul 10-an. Bandung perlahan tertinggal di belakang, bersama kabutnya, dinginnya, dan satu pelajaran penting yang Maika simpan rapi. Bahwa Allah bisa menyatukan kembali yang pernah tercerai—dan bisa pula menahan sesuatu yang belum waktunya disatukan.

When Qadarullaahu Bring Us Together [MAIKA RAFAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang