1 • Tentang Awal yang Masih Abu-abu

39.8K 3.4K 248
                                        

Hujan turun tidak lama setelah itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hujan turun tidak lama setelah itu. Awalnya hanya rintik kecil yang nyaris tak terasa, lalu semakin terasa deras tiap tetesannya. Memaksa sebagian tamu acara wisuda yang juga memutuskan keluar aula bergegas kembali masuk. Maika masih berdiri di dekat pintu aula, buket bunga di tangannya terasa sedikit lembap. Ia tidak tahu harus merasa senang atau justru canggung menerima bunga itu. Bukan karena bunganya-melainkan karena alasan di balik pemberiannya.

Nara.

Sahabatnya itu selalu punya cara sendiri untuk muncul begitu saja tanpa mengabari sedikitpun, lalu pergi sebelum sempat dimintai penjelasan. Ya, sudah tidak aneh lagi dengan kebiasaan sahabatnya itu. Hobi nge-ghosting.

Maika menarik napas panjang dan melangkah kembali ke dalam aula. Mama dan Papa masih berbincang dengan beberapa wali murid. Ia memilih duduk di kursi paling belakang, memunggungi keramaian yang tersisa.

Pikirannya kembali berputar.

Tentang masa depan. Tentang pilihan yang belum jelas ujungnya. Tentang keinginannya untuk tetap menjaga apa yang ia yakini, di tengah-tengah dunia yang sering kali merasa asing terhadap aturan syariat agama. Juga tentang rasa takut akan salah langkah, takut bahwa ia akan mengecewakan orang tuanya, serta takut tidak cukup kuat bertahan melalui segalanya.

Ia menunduk, menatap buket bunga di pangkuannya.

"Apa-apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik, gue percaya itu," bisiknya lirih, seolah mengingatkan diri sendiri.

Di luar, hujan mengguyur halaman sekolah dengan lebih tenang. Langit masih mendung, tapi tidak lagi seberat tadi. Maika teringat ucapan ustazahnya dulu-bahwa hujan adalah rahmat, sekaligus pengingat bahwa segala sesuatu turun sesuai ketentuan.

Ia teringat Nara. Sahabatnya itu memilih jalan yang tidak mudah. Dia memakai pakaian syar'i, niqab, juga memilikibatasan yang ketat terhadap lawan jenis, dan seringkali pilihan hidup swperti ini sering dipertanyakan orang. Tapi Nara terlihat tenang. Teguh. Seolah ia tahu benar ke mana ia melangkah. Tidak peduli dengan pandangan orang tentangnya.

Maika menutup mata sejenak.

Jujur saja, ia juga ingin seteguh itu.
Tanpa sadar, ia menguatkan genggaman pada buket bunganya.

Tiba-tiba Mama menghampirinya tak lama kemudian.

"Capek?" tanya Nala lembut.

Maika mengangguk kecil. "Sedikit, Ma."

"Ayo kita pulang! Kalau nanti takut hujannya makin deras," ajak Mama sambil tersenyum.

Maika berdiri, menoleh sekali lagi ke arah aula yang kini semakin sepi. Tempat ia menutup satu fase di hidupnya. Tempat ia menyadari bahwa kedewasaan tidak selalu datang dengan jawaban kadang justru dengan pertanyaan.

Bagaimana dengan setelah ini?

***

Perjalanan pulang berlangsung lebih hening dari biasanya. Hujan turun cukup deras ketika mobil mereka meninggalkan area sekolah. Jalanan Bogor yang basah memantulkan cahaya lampu kendaraan, menciptakan bayangan-bayangan samar di kaca jendela. Saat ini Maika tengah duduk di kursi belakang, memeluk buket bunga yang terbungkus plastik bening. Pandangannya lurus ke depan.

"Kamu mau makan sama?" suara Mama terdengar lembut dari bangku depan.

Maika mengangguk pelan. "Apa aja deh Ma. Asal jangan semur biawak aja," sahutnya asbun.

"Kurang-kurangin deh kamu asbun begitu, nanti kalau udah punya suami. Terus suami tanya mau makan sama apa, gak sopan jawab begitu," omel Mama membuat Maika tersenyum salah tingkah.

"Mama, masa udah bahas nikah-nikah sih? Aku aja baru lulus sekolah," protes Maika.

"Yang namanya jodoh 'kan gak ada yang tau. Kali aja kamu cepet nikahnya, Mai," balas Mama santai. "iya 'kan, Pa?"

Revan— papanya Maika sesekali menatap ke spion, lalu kembali fokus menyetir.

"Ya kalau memang ada yang berani datang ke rumah dengan niat baik, selagi memenuhi kriteria Papa. Ya Papa sambut baik niatnya," balas Papa sekenanya.

Maika tertegun dibuatnya, sementara  mobil terus melaju di tengah derasnya hujan. Setelahnya tidak ada lagi pembicaraan hingga sesampainya di rumah.

Saat tiba, Maika langsung buru-buru pwrgi ke kamarnya dan berganti pakaian lalu menyimpan map wisudanya di lemari. Ia mengganti pakaian dengan gamis rumah yang longgar dan kerudung tipis. Tubuhnya terasa ringan setelah melepaskan atribut formal hari ini.

Setelah shalat Ashar, Maika duduk di tepi ranjang. Ia menatap map wisuda yang kini tergeletak di atas meja kecil. Satu fase hidupnya telah resmi ditutup. Namun, tidak ada rasa lega yang benar-benar datang. Yang ada justru rasa takut yang samar.

Ia tahu, setelah ini ia harus bekerja. Bukan hanya soal kebutuhan, tapi juga prinsip. Ia tidak ingin menjadi beban, apalagi pada Papanya yang masih berjuang melawan sakitnya. Tapi di saat yang sama, ia ingin tetap menjaga pakaian, adab, dan batasan yang ia yakini

Menjelang Magrib, Mama mengetuk pintu kamarnya.

"Mai, habis ini makan, ya." ujar Mama sambil tersenyum.

"Iya, Ma. Makan sama apa, Ma?" tanya Maika.

"Makan hati aja, Mai," jawab Mama membuat Maika cemberut.

"Mama mah, aku tanya beneran lho."

"Ya Mama juga jawabnya beneran," kata Mama lagi. "bercanda, Mama masak udang bakar jimbaran. Cepetan turun." Setelahnya Mama meninggalkan kamar Maika.

"Emak gue doang emang," kata Maika sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

***

Setelah makan, Maika memilih untuk segera kembali mengurung diri di kamarnya, seraya meresapi rasa kantuk yang mulai datang akibat perutnya kenyang. Ia melirik ke arah jendela kamar yang terbuka udara terasa dingin khas Bogor sekali setelah hujan.
Terdengar suara jangkrik dan angin yang berembus pelan.

El Rafan Nedrian Hirasaki. Nama yang Maika ingat dengan rapi.

Maika menegakkan punggungnya, lalu menghela napas pelan.

"Astaghfirullah," bisiknya.

"Ya Allah kalau perasaan ini hadir bukan karena Engkau ridha, maka jauhkanlah. Tolong bersihkan hatiku dari sesuatu yang belum Engkau halalkan untukku."," ucapnya lirih, nyaris tanpa suara. Air matanya menetes, lalu berhenti. Maika mengusap pipinya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang.

Di kamarnya, Maika berbaring menghadap ke arah kanan. Tangannya terlipat di atas dada. Ia menutup mata dan menyerahkan hari esok sepenuhnya pada Allah. Apapun itu, semoga Allah memudahkan segala urusannya.


Weheey double up😽

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Weheey double up😽

When Qadarullaahu Bring Us Together [MAIKA RAFAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang