8 Bulan Tidak Berlalu Begitu Saja

17.5K 436 12
                                        

Waktu berjalan tanpa banyak suara.
Hingga delapan bulan berlalu sejak pagi-pagi panjang yang dipenuhi aroma nasi kuning itu menjadi rutinitas tetap Maika. Delapan bulan sejak pertemuan singkat yang canggung—dan justru karena itu, sulit dilupakan. Tapi, delapan bulan ini tidak sia-sia bagi Maika yang berusaha memusatkan fokus terhadap kehidupannya. Hidupnya tidak berhenti pada satu momen.

Ia terus berjalan.

Dan Maika… memilih untuk ikut berjalan bersamanya.

Usahanya berkembang. Tidak meledak, tidak tiba-tiba besar, tetapi stabil—cukup untuk membuatnya berdiri dengan lebih percaya diri di atas kakinya sendiri. Dari satu menu sederhana, kini ia mulai menambah variasi. Nasi uduk, lontong sayur, hingga pesanan katering kecil untuk acara-acara di lingkungan sekitar.

Pagi masih dimulai sebelum subuh. Dapur masih menjadi saksi pertama dari setiap langkahnya. Namun kini, ia tidak lagi sendirian. Ada satu asisten yang membantunya—seorang ibu dari komplek belakang yang ia pekerjakan secara harian.

Mama sesekali turun tangan. Papa… tetap dengan caranya. Diam, tapi hadir membantunya. Dan Maika tidak lagi mempertanyakan bagaimana orang-orang harus mengambil peran dalam hidupnya. Ia sudah memahami. Bahwa tidak semua dukungan harus terdengar lantang untuk terasa nyata.

Lalu tentang Rafan?

Nama itu tidak lagi sering ia sebut. Tidak juga ia cari. Namun bukan berarti hilang. Ia hanya… diletakkan pada tempat yang selayaknya,  tidak diberikan perlakuan khusus ataupun perhatian lebih yang dapat memecah fokusnya. Maika tidak menghapus nama Rafan dalam hidupnya. Ia hanya berusaha untuk mengabaikannya.

Dan hari ini, suasana komplek berbeda dari biasanya. Spanduk besar terbentang di gerbang utama. Suara takbir terdengar bersahut-sahutan sejak pagi. Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian rapi, beberapa membawa kantong, sebagian lagi sibuk mengatur alur kegiatan.

QURBAN FEST.

Acara Qurban yang pertama kali dibuat atas kebijakan tim DKM Masjid komplek mereka.

Maika berdiri di depan stand sederhana miliknya. Bukan lagi meja kecil seperti dulu. Kini ia menggunakan tenda lipat, dengan banner kecil bertuliskan nama usahanya.

Aroma nasi uduk menguar lembut, bercampur dengan bau santan dan daun pandan yang khas. Lauk-pauk tertata rapi—ayam goreng, sambal kacang, bihun, dan telur balado yang masih menjadi favorit.

Tangannya bergerak cekatan, melayani pembeli yang datang silih berganti.

“Dua ya, Mbak. Pakai ayam sama telur.”

“Iya, Bu. Ditunggu sebentar.”

Suasana ramai, tapi tidak gaduh.

Teratur.

Hangat.

Dan untuk pertama kalinya, Maika merasa—ia benar-benar menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

“MAI!”

Suara itu.

Masih sama.

Maika menoleh, dan benar saja—Nara berdiri tidak jauh darinya, mengenakan rompi relawan dengan tulisan “Akhwat Team” di bagian belakang.

“Lo di sini juga?” tanya Maika, sedikit mengangkat alis.

“Ya iyalah! Gue panitia, Bu!” jawab Nara bangga.

Maika terkekeh kecil. “Pantesan sok sibuk.”

“Eh, ini beneran sibuk, ya! Gue dari tadi motongin label, bagiin daging, sampe hampir ga napas.”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

When Qadarullaahu Bring Us Together [MAIKA RAFAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang