8 • Belum Berjalan Sesuai Rencana

13.7K 372 0
                                        

Pagi berikutnya datang tanpa tanda-tanda yang berlebihan. Tidak ada perubahan besar, tidak ada kejutan yang tiba-tiba. Hidup Maika berjalan sebagaimana mestinya-tenang, teratur, dan perlahan menemukan bentuknya sendiri.

Jam menunjukkan pukul 03.08 ketika Maika sudah kembali berdiri di dapur. Lampu kuning menyala redup, memantulkan bayangan tubuhnya di lantai yang dingin. Tangannya bergerak terampil-mencuci beras, memeras santan, mengaduk bumbu yang mulai mengeluarkan aroma khas.

Rutinitas itu kini bukan lagi sesuatu yang terasa berat.

Ia sudah terbiasa.

Tidak lama kemudian, Mama menyusul masuk. Langkahnya pelan, namun kali ini tanpa ragu seperti hari-hari awal.

"Sudah mulai?" tanya Mama lembut.

"Iya, Ma. Nasinya lagi dimasak."

Mama mengangguk, lalu mengambil pisau dan mulai membantu tanpa diminta. "Telurnya cukup?"

"InsyaAllah cukup, Ma. Hari ini aku cuma bikin 50 butir aja kayak biasa."

Mama menatapnya sekilas, ada jeda kecil sebelum berkata, "Jangan terlalu dipaksakan, ya, Mai. Kalau capek, gapapa libur sehari. Itu gak akan bikin pembeli kamu langsung kabur gitu aja."

Maika tersenyum tipis. "Iya, Ma. Aku masih ngerasa mampu handle semuanya, biidznillaah dengan pertolongan Allah. Kalau emang capek, aku pasti libur jualan sehari. Cuma gimana yaaa, aku ketagihan ngitung hasil untungan penjualanku, Ma. Aku pengen nabung buat bisa pergi Umrah," jelas Maika. Kali ini ia jelaskan dengan panjang lebar, supaya Mama bisa mengerti alasannya. Kenapa Maika harus berjuang sesusah ini. Sebab ada yang dia kejar.

Nada suaranya tenang, tidak defensif, tidak pula keras. Ada keteguhan kuat yang bisa Mama tangkap dari ucapannya. Mama tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.

"Semoga Allah mudahkan, ya, Mai. Mama doakan, semoga dagangannya selalu laris dan kamu bisa ngumpulin uang untuk pergi ke tanah suci," kata Mama membuat Maika tersenyum haru. Tapi, di saat itu juga Maika menahan tawa. Kok dia jadi melow? Berasa seperti sedang syuting film 'Mak Ijah Pengen ke Mekkah'. Tapi... sungguh, Maika benar-benar ingin sekali pergi ke tanah suci dengan jerih payahnya.

***

Hari-hari berikutnya tidak lagi terasa sebagai rangkaian waktu yang harus dilewati, melainkan ritme yang pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Pagi dimulai di dapur, dengan suara air yang mengalir dan uap santan yang naik perlahan. Menjelang subuh, ia sudah berdiri di balik gerobaknya-rapi, siap, dan tanpa banyak kata. Lalu siang hingga sore, waktunya habis untuk menyiapkan esok hari.

Tidak ada ruang kosong.
Dan anehnya, ia tidak merasa kehilangan apa pun.

Rumah yang dulu terasa sunyi kini punya suara-meski tidak ramai. Suara panci, suara langkah kecil adik-adiknya, suara Mama yang sesekali memanggil dari dapur. Dan di antara semua itu, ada satu hal yang tetap sama-

Papa, dengan caranya sendiri.

Tidak banyak bertanya. Tidak banyak komentar. Tapi selalu... ada.

Sore itu, langit mulai meredup ketika Maika duduk di ruang tamu, bersila di atas karpet. Di hadapannya, buku kecil terbuka. Tulisan tangannya rapi, angka-angka disusun hati-hati. Sesekali ia berhenti, menghitung ulang, memastikan tidak ada yang terlewat.

Langkah kaki terdengar dari arah teras.

Papa masuk, lalu duduk di kursi seberangnya. Tidak langsung berbicara. Hanya mengamati beberapa detik-cara Maika menunduk, cara ia menggigit ujung pulpen saat berpikir, cara ia mengernyit kecil saat menghitung.

When Qadarullaahu Bring Us Together [MAIKA RAFAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang