03

15.5K 1.1K 89
                                        

TYPO

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

TYPO

Jenoval turun dari motornya lalu memasuki kafe bertema vintage, pria 16 tahun itu duduk disalah satu kursi pojok kafe, bukan tujuan utama Jenoval bukan untuk nongkrong, makan atau numpang wifi tapi ada hal lain.

"Pesen apa?"

"Jutek banget"

Gadis berambut panjang itu mendengus

"Cepetan, gue mau lanjut kerja"

"Emm, ice americano satu" ucap Jenoval

"Jangan keseringan minum kopi gak baik"

"Cie perhatian" kekeh Noval

"Oke, jadi ice americano satu, Itu aja?"

"Sama kamu duduk disini nemenin aku"

"No, gue disini kerja" dengus sang gadis dengan ekspresi datar

"Iya-iya maaf, itu aja oh sama sekalian kamu aku tungguin pulang"

Gadis itu kembali mendengus lalu pergi meninggalkan Jenoval yang terkikik geli.

"Gemes banget" gumam Jenoval.

Sedari tadi Jenoval hanya memperhatikan Jasmine yang bekerja dan sesekali menyesap kopinya, sebenarnya Jenoval tidak terlalu suka kopi dia hanya ingin membiasakan diri dengan cairan pahit itu mengingat gadis pujaannya sangat menyukai kopi, benar Jasmine sangat menyukai kopi. Walau Jasmine menegur Jeno.

Tak begitu lama pintu kafe dibuka, sampai membunyikan lonceng yang digantung didekat pintu membuat Jenoval mengalihkan atensinya sebentar pada pintu coklat itu.

Jenoval membulatkan matanya kala melihat dua orang dewasa yang memasuki kafe, Jenoval kenal betul siapa mereka.

Jenoval menutup wajahnya dengan buku menu yang terletak diatas mejanya, agar dua orang itu tidak menyadari keberadaannya.

Keduanya duduk dimeja sebrang Jenoval membuat Jenoval berdecak kesal, disana kedua orangtuanya sedang berbicara dengan seorang writers, Jenoval merutuk kalau sampai dia ketahuan bolos bisa tamat riwayatnya.

Jenoval memang membolos, sebelum istirahat pertama remaja itu pergi meninggalkan sekolahnya.

"Ck, ngapain sih pake acara kesini kayak gak ada tempat lain aja" kesal Jenoval masih berusaha menutupi wajahnya.

Drtt....drttt....drttt

Jenoval membulatkan matanya, kala ponselnya yang dia letakkan diatas meja berbunyi, Jenoval tidak berani meraih ponselnya, kalau sampai bisa-bisa kedua orangtuanya menyadari keberadaannya.

Jenoval menghela nafas lega kala ponselnya berhenti berbunyi, namun jantungnya kembali berdetak kencang saat ponsel mahal miliknya kembali berbunyi berkali-kali.

Remaja itu merutuki siapa pun yang menghubungi nomornya.

Jaehyun dan Tya, dibuat saling memandang kala melihat seseorang dimeja sebrang mereka, bagaimana bisa ada orang yang membiarkan ponselnya berdering berkali-kali dan memilih sibuk membaca menu list.

JENOVALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang