Hayam berjalan kian kemari, keresahan membuatnya tidak bisa duduk dengan tenang. Seorang wanita melewatinya kemudian meletakkan nampan di atas meja. Suasana siang yang agak mendung itu semakin menegang akibat pergolakan batin di diri Hayam Wuruk.
"Aku bertanya sekali lagi, benar-benar yang terakhir, ini beneran bentuk reinkarnasi atau hanya permainan ilusi visual?"
Mada menghembuskan napasnya bersabar. Dia sudah menjawab pertanyaan yang sama hampir seratus kali. Masih dengan respon yang sama, anggukan kepala Mada lagi-lagi membuat Hayam menahan teriakan frustasi. Dia telah diyakinkan berkali-kali oleh Mada jika reinkarnasi itu benar adanya tapi belum tentu memiliki wajah yang mirip di kehidupan keduanya.
Dia samar-samar mengingat bagaimana dosa di masa lalunya membuat hati selembut salju membeku dan retak berkeping-keping. Bahkan ratusan tahun lamanya dia Hayam masih tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dosa yang membawa pada keruntuhan kerajaannya. Dosa yang juga membunuh orang yang tak pernah dia tahu dia cintai. Hingga hembusan napas terakhir, semuanya terlambat. Kini orang di masa lalunya hadir. Hayam tidak tahu harus menempatkan wanita bernama Sachi itu sebagai karma atau kesempatan keduanya menembus dosa.
Tangannya bergetar ketakutan. Di masa lalu dia adalah seorang pria dengan ego. Tragedi membentuknya sebagai orang yang dingin, bahkan hangatnya matahari tidak bisa menyentuh hatinya. Ah, salah, sebenarnya dingin itu telah bersemi hanya saja Hayam telat menyadarinya.
"Apa yang harus aku lakukan, Mada?" tanya Hayam putus asa. Tubuhnya luruh pada salah satu tembok kaca. Kepalanya menengadah menatap matahari langsung seakan menantang sang dewi siang untuk menertawakannya saat ini. Aroma teh melati sedikit mengusiknya memberikan sebuah ketentraman yang tidak terlalu Hayam inginkan.
Gendhis mendekati sahabat yang sudah dianggapnya seperti seorang adik adik, sebuah sapuan lembut diberikannya pada rambut Maharaja. "Kalau kata suamiku, Kesempatan kedua itu ada, kamu hanya perlu bersabar. Kamu nggak pernah mau bercerita kepada kami tentang apa yang terjadi di masa lalu. Kami hanya berharap, kamu memaafkan dirimu sendiri terlebih dulu barulah songsong masa depanmu."
Perasaan manusia adalah hal yang tak terbatas. Lebih dalam dari samudera dan lebih luas dari langit biru. Lisan masih bisa berbohong, mengucap benci saat hati menangis mencari rindu. Itu lah manusia. Tak akan pernah luput dari kekurangan. Hayam masih belum tahu apa yang akan dilakukannya. Dia sendiri telah berjanji kepada Mbah Nun untuk membantu cucunya.
"Apakah reinkarnasi masih berada di satu garis keturunan? Akan sangat tidak lucu jika Sachi masih keturunan Sudewi."
Mada menyesap tehnya. Bunyi denting cangkir porselen yang berpadu dengan sendok mengisi keheningan sesaat. "Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang itu. Jika pun kau ingin menelusurinya butuh waktu yang panjang. Aku mengenal seorang arkeolog yang menekuni topik kerajaan Nusantara."
"Bisakah kau meminta bantuannya?" Untuk pertama kalinya setelah ke datangannya Hayam tersenyum. Ia menerima uluran tangan Gendhis untuk duduk di atas kursi. Masih banyak pertanyaan, kini Hayam sedikit yakin Sachi adalah jawaban mengapa Tuhan mengembalikannya di kehidupan yang kini.
Pertemuan singkatnya dengan Sachi membuat Hayam lebih banyak menghabiskan waktu mencari buku dan referensi mengenai reinkarnasi. Di ruangan yang gelap, hanya lampu belajar sebagai sumber pencahayaan. Terletak sebuah buku Proof of Heaven dan Heaven and Hell. Sebuah kacamata tipis bertengger membantunya membaca.
Sesekali Hayam beristirahat di balkon untuk menghisap kretek yang rasanya leih otentik ketimbang rokok pada umumnya. Hembusan asap tembakau dari bibirnya seakan membuang semua resah juga pertanyaan yang membingungkan dari buku yang barusan dibacanya.
Satu poin yang Hayam dapatkan, saat terlahir di kehidupan selanjutnya, roh utama yang kekal akan menempati raga baru atau berpindah badan untuk tujuan tertentu. Entah menikmati hasil kebajikan yang dilakukan di kehidupan sebelumnya atau justru hadir kembali untuk menyelesaikan sesuatu yang tak pernah selesai. Pada saat memasuki raga baru pun, jiwa diberi dua pilihan. Mengingat atau melupakan masa lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHAJANA (Complete)
Historical Fiction(Dalam Revisi) ma·ha·ja·na ark n orang yang amat ternama; orang besar. Terbangun dan melanjutkan hidup sebagai remaja kembali. Hayam Wuruk hidup dengan beban masa lalu yang tak kunjung terlepas. Waktu terus bergulir hingga suatu saat kesempatan kedu...
