Sachi tengah beristirahat di atas sofa meregangkan ototnya yang terasa kaku akibat berdiri cukup lama. Ia kemudian membuka laptop untuk mencatat penghasilan dari kegiatan sunday morning pagi itu. Ia teringat akan pesanan seratus kotak kue yang harus dikirim lusa ke sebuah kampus. Dihubunginya seorang perawat di panti Werdha untuk bilang ke neneknya bahwa minggu tu ia tidak bisa berkunjung seperti biasa karena harus mengejar order.
Di tempat lain, Hayam berselancar di ponselnya untuk bertemu dua klien terakhir. Liam menunjukkan kenaikan harga saham terbaru dan perkiraan pergerakan hingga minggu depan yang positif. Sentimen publik juga berangsur membaik. Berita lama mulai bisa dihapus satu per satu oleh tim Public and Relations tanpa menimbulkan kericuhan.
Seorang pria yang sangat dikenalnya hadir. Beberapa langkah di belakang juga menyusul klien satunya. Hayam bangkit untuk menyambut keduanya dengan hangat.
"Raden! Arok!" panggil Hayam pada kedua kakaknya.
Raden duduk menempati kursi di seberang Hayam begitu juga Arok yang hadir dengan pakaian kasual. Hayam mengangkat tangannya memanggil pelayan dan membagikan dua menu kepada masing-masing kakaknya. Raden yang membuka menu mendapati selembar slip cek kosong yang terjatuh ke lantai.
"Apa ini, Hayam?" tanyanya mengangkat cek kosong tersebut. Arok juga mengangkat cek kosong yang tersimpan di dalam lembar menunya.
Hayam tersenyum tipis kemudian berujar, "Aku butuh bantuan kalian. Langsung ke poin permasalahannya. Aku mau melawan papa dan papanya Aluna."
"Bukankah sudah terlambat untuk kudeta di posisi yang sekarang? Dan kalau mau kudeta kamu bisa dengan mudah menggunakan skandal orang tua kita."
Jelas Hayam menolak ide tersebut. Skandal perselingkuhan kedua orang tuanya jelas akan berdampak pada perusahaan juga. Ia ingin baik papa maupun papanya Aluna tidak memiliki kendali pada perusahaan lagi. Ia ingin ia yang memegang tali kekang kuasa tanpa ada ikut campur orang lain. Dan dengan menyebarnya skandal perselingkuhan dewan direksi juga mungkin bisa melihatnya tak jauh berbeda dengan papa. Ia tidak bisa membuat imej jelek di waktu yang krusial ini.
Hayam pun menawarkan sebuah solusi yakni mengakuisisi saham kedua kakaknya. Dengan begitu persentase saham atas namanya akan setara dengan milik papanya Aluna. Ia hanya butuh pondasi yang lebih kuat lagi untuk rapat akhir tahun minggu depan. Dia akan membuktikan bahwa dirinya adalah calon satu-satunya yang layak untuk menempati posisi puncak. Papanya tak perlu tahu langkah selanjutnya. Hayam berjanji untuk mengembalikan saham keduanya saat papanya tak lagi memegang kendali.
"Lalu apa yang akan kamu tawarkan selain cek kosong ini?" tanya Arok membuat Hayam bingung.
"Kalian menginginkan sesuatu?" tanyanya.
Ia pikir sebagai seorang saudara sudah sewajarnya mereka bertiga saling tolong menolong. Jika partner bisnisnya yang lain minta kenaikan harga saham, atau proyek terbaru, ia tidak berpikir bahwa kedua kakaknya juga berpikiran untuk mendapatkan hal sedemikian rupa.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk seorang dokter spesialis penyakit dalam dan seorang polisi? Raden, kamu sadar kan pengecekkan rutin karyawan dilakukan di Rumah Sakit kamu bekerja? Itu rumah sakit pamannya Aluna, kerja sama itu sudah terjalin sejak dulu." Kini pandangan Hayam beralih ke Arok yang tersenyum kagum. "Dan kami juga nggak bisa menggunakan jasa negara semaunya. Kalian sebenarnya tahu nggak sih perusahaan kita bekerja di industri apa?"
Raden tertawa kencang dan memukul kepala adik bungsunya membuat Hayam merengut kesal. Arok hanya tertawa kecil dan memesan makanan. "Kami cuma bercanda. Tapi aku cukup penasaran. Apa alasanmu tiba-tiba ingin terlepas dari jeratan papa?" tanya Arok.
Hayam teringat bagaimana pertengkaran yang terjadi di Vietnam sebulan lalu. Ia tahu papanya bukanlah seorang malaikat. Pria itu bisa melakukan apapun demi mencapai apa yang diinginkannya. Hayam khawatir perhatian papanya beralih ke arah Sachi meskipun sebulan ini belum ada pergerakkan yang mencurigakan.
Selain itu, setelah bertahun-tahun ia menjadi anak yang penurut. Ia telah banyak menjalani bisnis dengan cara yang kotor. Ia melihat telapak tangannya yang bisa menjerat kalangan bawah dengan mudah untuk menghasilkan lebih banyak pundi-pundi rupiah. Melihat Sachi yang bekerja keras dengan tulus membuat Hayam sadar bahwa ia tidak bisa melanjutkan caranya berbisnis. Ia ingin lanjut berbisnis layaknya kakenya dulu. Merangkul bisnis yang lebih kecil, berdiri bangga sejajar dengan yang besar.
Raden bisa melihat bahwa raut wajah Hayam menunjukkan bahwa ia tengah melindungi seseorang.
"Kata Aluna, kamu datang ke charity tahunan dengan cewek. Siapa? Gebetan baru?" tanya Raden.
"Mana ada. Dia temanku, kok," jawab Hayam gugup mendapati tatapan tajam dari kakaknya.
"Apapun alasannya, selama niatmu untuk menjatuhkan papa kamu bisa meminta bantuanku kapan saja," ujar Raden membuat Hayam terpukau.
"Aku juga," sambung Arok semakin membuat Hayam terkagum-kagum.
Ini adalah pertemuan pertama ketiganya setelah sekian lama berpisah jalan. Terakhir, belasan tahun lalu saat Raden lulus SMA dan memilih jurusan kedokteran dan menolak keinginan papa untuk masuk ke sekolah bisnis. Dua tahun kemudian Arok juga ikut memilih jalur bintara ketimbang lanut sekolah bisnis.
"Kalau boleh aku tahu, apa yang buat kalian berdua berkeras kepala membangkang ke papa? Kenapa pindah haluan dari bisnis keluarga?"
Raden melihat ke arah Arok sekilas dan mendesah panjang. "Karena kami tidak berguna," jawab Arok.
"Sedari kamu lahir, kakek selalu memperlakukanmu spesial. Bahkan sampai sepupu lain protes. Bahkan Andrew pernah nggak datang ke acara keluarga gara-gara malas lihat wajahmu bukan? Kami pun merasa hal yang sama, sebuah kompetisi yang sudah jelas siapa pemenangnya. Kamu adalah anak emas kakek dan hal itu dimanfaatkan oleh papa hingga ia bisa berada di posisi Komisaris saat ini," lanjutnya.
"Hanya itu? Hanya karena aku adalah anak emas kakek kalian membenci papa?"
"Masih ada lagi." Raden mengusap wajahnya dan bercerita tentang mantan kekasihnya dulu yang harus memohon bersujud di bawahnya deras air hujan ke papanya. Pisau dan garpu sampai terlepas dari tangan pria itu saat kakaknya bercerita sebuah kejadian yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
Kejadian itu terjadi saat ia tengah kuliah di luar negeri. Raden dan mantan kekasihnya saling memadu kasih layaknya pasangan yang tengah di mabuk cinta. Saat itu ia tengah menjadi seorang residen. Perjalanan karirnya masih sangat jauh tapi sebuah janin muncul di antara keduanya. Saat itu juga papanya masih terobsesi untuk menjodohkannya dengan Aluna dan berencana untuk memiliki rumah sakit milik paman Aluna maka dari itu papanya menolak dan memaksa Raden untuk menunggu Aluna hingga dewasa atau paling tidak hingga cukup umur.
Sama seperti dirinya, papanya menawarkan untuk mengangkat kekasihnya saat itu sebagai simpanan yang ditolak Raden keras. Pada akhirnya Raden kalah dan kekasihnya itu memilih menggugurkan janin mereka dan pergi menjauh entah kemana. Bahkan sampai saat ini ia tidak tahu keberadaan wanita itu. Yang ia tahu ia pergi beserta uang lima ratus juta dari papanya.
"Singkat cerita, karena Raden mulai menunjukkan sikap tidak kooperatif pria itu ingin menjodohkan ke Arok. Tapi orang tua mana di kalangan kita yang ingin anaknya menikah dengan polisi pangkat rendahan semacam aku? Lalu datanglah giliranmu," sambung Arok.
Hayam memundurkan badannya membiarkan pelayan meletakkan makanan mereka di atas meja. Tubuhnya sampai merinding mendengar cerita Raden. Bahkan mama dan para pelayan di rumah sama sekali tak pernah membocorkan kejadian itu. Ia sendiri kini lebih kasihan terhadap Aluna.
"Aku harap Aluna punya keberanian untuk melawan papanya," gumam Hayam.
Ia memikirkan Sachi yang sangat rapuh dan tidak memiliki apapun untuk melindungi dirinya sendiri.
"Aku lebih berharap kamu bisa menjaga siapapun yang ada di pikiranmu saat ini," ujar Raden.
Raden mengulurkan sebuah kepalan tangan yang disambut dengan senang hati oleh kedua adiknya. Ketiganya saling menyatukan kepalan tangan layaknya yang sering mereka lakukan saat kecil dulu.
"Demi runtuhnya Abimana Diwalaga?" tanya Raden.
"Demi runtuhnya Abimana Diwalaga!" sahut Arok dan Hayam bersamaan membuat ketiganya tersenyum puas.
*
Semangat Hayam!
Yuk spam vote dan komen ❤❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHAJANA (Complete)
Ficción Histórica(Dalam Revisi) ma·ha·ja·na ark n orang yang amat ternama; orang besar. Terbangun dan melanjutkan hidup sebagai remaja kembali. Hayam Wuruk hidup dengan beban masa lalu yang tak kunjung terlepas. Waktu terus bergulir hingga suatu saat kesempatan kedu...
