Chapter 19

12.8K 2.2K 239
                                        

Gaskannn! Happy reading ❤


*

Sachi kini berdiri menjauh dari pasangan aneh tersebut. Bulu romanya merinding setiap kali mereka berbicara dengan cara yang aneh. Ia melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Hayam Wuruk. Di tengah ruangan tepat di bawah chandelier. Sekelompok pria dewasa berdiri saling mengelilingi. Saat satu berbicara yang lain saling mendengar sesekali kelimanya mendentingkan gelas setelah membuat sebuah keputusan. Di sana berdiri Hayam bersama Aluna beserta papanya. Ketiganya membaur dengan natural tidak canggung seperti Sachi.

Hayam mendesah lega setelah jajaran petinggi sepakat untuk hadir dalam rapat pemegang saham nanti. Sekarang tinggal aksi hayam untuk mengembalikan nilai kapital yang bocor. Ia meletakkan gelas kaca yang dipegangnya sedari adi pada seorang pelayan yang lewat. Sebuah rasa penyesalan ia rasakan mengingat ia telah meninggalkan Sachi sendirian. Hayam memijat lehernya yang kaku. Sesekali kepalanya ia gerakkan ke kiri dan kanan untuk meregangkan ototnya.

Senyum pria itu terpancar mendapati Sachi yang tengah duduk sendirian di meja mereka.

"Hai," sapa Hayam lembut.

"Hai Kak," balas Sachi.

"Sachi, aku minta maaf sudah meninggalkanmu sendirian malam ini. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu."

"Nggak apa-apa, Kak. Aku juga cukup senang sudah diajak ke sini. Bisa ketemu sama Uti lagi."

Hayam mengambil satu langkah mendekat. Sikunya diulurkan agar Sachi bisa menggandeng lengannya. Tak lupa ia melemparkan sebuah senyuman sembari mengucapkan terima kasih saat gadis itu meraih lengannya. Ia membawa Sachi ke luar ballroom. Pekerjaannya sudah selesai tak ada alasan lain untuk berlama-lama di sana.

Liam sudah menunggu di lobi setelah menginstruksikan beberapa hal Hayam membukakan pintu mobil untuk Sachi dan menyusul duduk di kursi sopir.

"Kita pulang?" tanya Sachi.

"Tentu tidak. Kita akan ke sebuah tempat yang menyenangkan.

Hayam mengendarai mobil ke arah selatan. Semakin lama semakin jauh hingga berganti kabupaten. Jalanan yang ramai mulai memudar berganti pepohonan yang rindang. Lampu kuning jalanan hanya satu-satunya sumber pencahayaan selain lampu kendaran. Sachi tahu kalau mereka kini naik ke daerah tinggi. Beberapa hamparan sawah di lereng memantulkan cahaya putih dari sinar rembulan.

Sachi hanya diam membiarkan Hayam membawanya ke tempat misterius tersebut. Jalanan semakin melebar dan Hayam menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Hanya sesekali kendaraan lain lewat. Kemudian ia membuka kanopi mobil dan Sachi terperangah melihat pemandangan di depannya.

Bukit bintang. Sebuah tempat yang indah untuk menikmati malam. Taburan bintang di atas langit tak kalah terangnya dari lautan cahaya lampu perkotaan Yogyakarta yang terlihat kecil dari tempatnya berada kini. Jauh di utara siluet merapi berdiri gagah seakan tak ada yang bisa mengalahkan keagungannya. Sesaat Sachi bangkit dari kursinya dan membiarkan angin malam menerpa rambutnya.

Hayam duduk bersandar pada pintu mobil sambil memperhatikan Sachi. Sesekali saat ada kendaraan lain yang lewat, wajah terpukau Sachi semakin bersinar oleh lampu kendaraan yang lewat. Ia beralih memandangi keindahan di depannya. Dulu, ada sebuah tempat yang selalu ia kunjungi saat merindukan keluarganya. Tak jauh berbeda dari pemandangan ini. Sebuah bukit bertabur bintang dengan hamparan rumput yang membentang jauh.

Pria itu keluar dan membukakan pintu untuk Sachi. Tanpa banyak bertanya Sachi menerima bantuan Hayam untuk duduk di atas kap mobil. Pria tu juga menyampirkan sehelai selimut tipis yang diambilnya dari kursi belakang. Karena kebiasaan lemburnya, Hayam memang sering menyediakan selimut di dalam mobil untuk tidur di kantor.

MAHAJANA (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang