Chapter 15

14.6K 2.1K 170
                                        

Yok jangan lupa vote dan komen sebanyak2nyaa biar aku juga update cepett


*

Sachi duduk gugup menunggu seseorang. Beberapa kantong kertas bertuliskan nama tokonya tersimpan rapi di samping. Sesekali ia mengecek ponselnya untuk sebuah pesan tulis. Di belakang Tyas tengah melayani seorang konsumen yang memesan segelas kopi. Seutas senyum ia berikan saat Tyas bertanya tentang kondisinya. Beberapa konsumen berpakaian rapi juga masuk yang artinya sekarang sudah memasuki jam istirahat makan siang.

Bertepatan dengan jam dinding yang berdenting, sebuah mobil yang familiar berhenti tepat di depan pintu toko. Sachi membawa kantong rotinya yang dipesan oleh Hayam sebelumnya. Hayam turun dari mobilnya kemudian membukakan pintu penumpang untuk Sachi. Ia meletakkan tangannya pada atap pintu mobil agar kepala Sachi tidak terbentur.

"Bagaimana? Semua baik-baik saja kan?" tanya Hayam saat kembali duduk di kursi pengemudi.

"Toko baik, Kak. Tyas sama Arga benar-benar sangat membantu," jawab Sachi.

"Sebenarnya bukan itu yang aku tanyakan," ujar Hayam sedikit tertawa mendapat Sachi melihatnya dengan melongo. "Tapi aku juga senang dengarnya kalau toko kamu berjalan lancar. Kalau kamu sendiri bagaimana? Sudah siap ketemu sama Mbah Nun lagi?"

"Gugup, Kak."

Hayam menepuk beberapa kali kepala Sachi menyuruh gadis itu lebih rileks. Pria itu juga sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar Sachi tidak terpaku oleh perasaan gugupnya. Sesekali ia bertanya mengenai musik favorit gadis itu kemudian memutarnya melalui speaker bluetooth yang tersambung pada perangkat yang terpasang di mobil.

Mobil mulai memasuki kawasan universitas yang pada jam makan siang sangatlah ramai sampai-sampai Hayam harus berhenti beberapa kali hanya untuk melewati satu lampu merah. Terus mengarah ke utara mengikuti jalan dimana kepadatan mulai terurai. Pepohonan semakin rindang dan hawa dataran tinggi yang sejuk membawa kedamaian yang Sachi cari sedari tadi.

Mobil pun berhenti di sebuah gedung tua yang terawat. Cat putih yang mulai memudar dengan beberapa bercak lumut memberi kesan bahwa bangunan itu telah ada jauh sebelum dirinya. Taman bunga yang menghiasi terlihat terawat. Saat matahari tengah bersinar terang, pantulan sinar dari bunga warna-warni memberikan distorsi warna yang lebih muda menunjukkan bahwa di gedung tua itu masih bermekaran jiwa muda yang tak akan pernah layu.

Panti Jompo Werdha terdiri dari empat gedung tingkat dua yang saling berhadapan membentuk persegi. Di halaman tengah menjadi aula terbuka tempat segala kegiatan diadakan. Sedangkan halaman belakang menjadi taman beristirahat dengan lebih banyak bunga juga pepohonan yang rimbun. Suasana yang cocok untuk mengistirahatkan jiwa yang lelah akan dunia. Tenang dan jauh dari keributan dunia.

Sachi masih bergeming di tempatnya. Mengatur nafas sembari berpikir cara menyapa neneknya nanti. Hayam sendiri tak memaksa gadis itu untuk segera bergerak. Ia juga menikmati rindangnya pepohonan. Sesekali ia melirik apakah sudah waktunya untuk mereka atau belum. Pria itu berpura-pura bermain dengan ponselnya agar Sachi tak merasa bahwa dirinya tengah menunggu. Ia ingin Sachi melangkah keluar karena keinginannya sendiri tanpa merasa dipaksa.

"Kak, ayo kita keluar," ajak Sachi membuat Hayam tersenyum lebar.

"Kalau masih belum siap. Tunggu lebih lama juga nggak apa-apa," tawarnya tapi Sachi menggeleng pelan.

Hayam segera keluar terlebih dahulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Sachi. Keduanya berjalan menuju gedung selatan tepat resepsionis duduk bergosip di depan televisi. Mereka yang mengenai Hayam berbagi sapa dan bertanya siapa perempuan di sampingnya. Sachi memperkenalkan diri sebagai cucu dari Mbah Nun yang kemudian disambut ramah oleh kedua resepsionis tersebut.

MAHAJANA (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang