Chapter 6

21.1K 3.5K 156
                                        

Rainbow Connection

Entah mengapa Sachi merasakan ini tapi rasanya cukup lega bisa melihat pria itu kembali. Mungkin rasa bersalah di diri Sachi lebih besar dari pada gengsinya. Sebenarnya Sachi berniat tidur lebih awal setelah menyelesaikan perhitungan pengeluaran bulanannya tadi. 

Namun sekarang sudah dua kali mendapatkan tamu tak diundang, mau diusir juga Sachi tak cukup tega untuk melakukannya.

"Mau masuk?" tawar Sachi setengah hati. 

Hayam Wuruk mengambil jas hitam yang ia sampirkan di sandaran kursi. Tak tertinggal kantong kertas yang baru ia beli sepulang perjalanan kerjanya. Hayam memilih kursi di tengah ruangan, kursi yang sama tempat ia melihat sepasang nenek dan cucu tadi mengobrol singkat dengan Sachi. Kepalanya ikut bergerak memandangi Sachi yang menyiapkan segelas teh hangat tanpa menawari Hayam terlebih dahulu. 

Tangan pria itu cukup gatal untuk tidak melihat tumpukan kertas di hadapannya. Angka-angka yang sering lewat di laporan yang kerap kali ia tanda tangani. Neraca sederhana di depannya itu menunjukan surplus penjualan yang artinya bulan ini Mahajana telah mendapatkan laba. Tapi apa Sachi menghitung semuanya secara manual? Di konter kasir ada sebuah komputer tua juga scanner harga yang pastinya sudah ketinggalan zaman.

Hayam mengucapkan terima kasih saat Sachi meletakkan gelas teh di hadapannya. Untuk sesaat terdapat keheningan di antara mereka membuat Sachi merasa tidak nyaman. Gadis itu sadar seharusnya dia mulai meminta maaf sekarang tapi lidahnya kelu tak mampu berucap.

"Tentang-"

"Kata Mbah Nun..."

"Hm?" Keduanya kembali terdiam. 

"Ah, kamu duluan saja, tentang apa?" kata Hayam mengalah.

Sachi masih bingung dan menundukkan kepalanya malu. "Itu ... aku mau minta maaf atas ucapanku tempo lalu." telapak tangan Sachi berkeringat dalam genggamannya sendiri. Dia memang tidak ingin pria itu ikut campur urusannya tapi ayahnya tidak pernah mengajarkan Sachi untuk kurang ajar. Seharusnya Sachi bisa meminta dengan lebih lembut tapi karena ia gagal menjual rumahnya, membuat Sachi emosional saat itu dan kini Sachi menyesalinya.

Sachi merasa malu atas tindakannya. Dia tidak pandai mengekspresikan perasannya menggunakan kata-kata. Tapi dia benar-benar tulus meminta maaf, semoga pria di depannya itu bisa mengerti. Sachi mengerutkan dahinya menunggu Hayam Wuruk yang tak kunjung membalasnya. Dia tidak berani mengangkat kepalanya, apa sekeras itu ucapannya dulu?

Gadis itu mendongak sekilas, alisnya semakin bertaut melihat Hayam yang tersenyum lebar dengan mengistirahatkan dagu pada telapak tangan kanannya. Hayam terlihat menikmati kegugupan Sachi yang meminta maaf tulus padanya.

"Heeeh? Ada apa ini? Apa dunia sudah mau berakhir? Malaikat mana yang berhasil membuat seorang Paduka Ratu Sachiandra Dewi, meminta maaf pada Hayam Wuruk yang sekadar rakyat jelata ini, huh?" 

Kalimat barusan berhasil menarik urat Sachi kembali. Gadis itu mendesah kesal, mencoba bersabar untuk tidak mengeluarkan kalimat-kalimat jahat. Melihat kedua alis Sachi yang melengkung kesal semakin memuaskan Hayam menggodanya. Ia tak tahan untuk tidak mengacak rambut anak itu. Sebuah tepisan kencang di tangannya tak melunturkan tawa Hayam.

"Iya ... iya ... dimaafkan. Lagi pula aku juga sudah lupa dan aku ke sini justru mau ucapin selamat ulang tahun." Hayam mengeluarkan sebuah ember perak yang ditumbuhi rumput memanjang. Rumput itu dibungkus cantik dengan plastik bening juga diikat menggunakan pita kuning.

Hayam menjelaskan bahwa tanaman di depannya itu adalah tanaman bungan daffodil yang belum mekar. Pria itu tidak bisa memikirkan hadiah lain karena seingatnya ini adalah pertama kalinya Hayam membelikan hadiah untuk lawan jenis. Hayam juga tidak berani memberikan Sachi perhiasan karena ia tahu jika hadiahnya pasti ditolak mentah-mentah.

MAHAJANA (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang