Seorang pria tengah sibuk berkutat dengan berkas-berkas laporan keuangan. Proyek pembangunannya harus ditunda akibat beberapa investor yang menunda investasi mereka. Kasus pajak beberapa waktu yang lalu benar-benar menjadi batu kerikilnya dalam berkerja.
Ia melihat jam tangannya yang telah menunjukkan jam istirahat. Hayam juga sudah jarang bermain ke panti akhir-akhir ini. Ia berjanji setelah semuanya beres akan membawa seluruh sahabatnya berwisata ke puncak. Hayam telah ditagih berkali-kali oleh Mbah Yadhi untuk membawa mereka jalan-jalan tapi karena kesibukannya Hayam terus menunda-nundanya.
Setelah membubuhi sebuah tanda tangan terakhir pada berkas persetujuan kerja sama, Hayam kembali menganakan jas abu-abunya yang tersampir di atas sofa. Seperti sebuah rutinitas, pria itu mengendarai mobilnya ke sebuah ruko dua lantai yang mana lantai satunya adalah toko roti favoritnya, Mahajana.
Namun sepertinya perasaan itu hanya sepihak, sang pemilik toko lantas buru-buru membalik papan di depan pintu kaca toko menjadi tutup saat melihat mobil yang cukup sering berkunjung ke tokonya. Bagi orang lain, Sachi terlihat seperti menolak rezeki tapi bagi Sachi dia sedang membuang bala. Beberapa hari pria itu memborong semua roti dan kuenya, mengosongkan setiap etalase tanpa terkecuali membuat Sachi kehilangan pelanggan setianya yang lain. Sachi harus meminta maaf saat beberapa pelanggan yang sering berkunjung sebelumnya kehabisan roti favorit mereka.
Hayam melambaikan tangannya dan tersenyum lebar meminta Sachi membukakan pintu. Panggilan dari pria itu juga tak digubris olehnya. Sachi mengambil dompetnya dan kunci motor. Siang itu dia harus menutup tokonya lebih cepat karena ada urusan lain. Mendadak tadi pagi makelar rumah meneleponnya, katanya ada orang yang sedang mencari rumah. Dan siang ini adalah waktu janjian di rumah Sachi.
Memilih pintu belakang, pergerakan Sachi masih terlihat oleh Hayam. Pria itu segera berlari menyusul Sachi.
"Hai!" Sapa Hayam sedikit ngos-ngosan akibat berlari cepat sebelum Sachi kabur. "Kamu ... fiuh ... mau kemana?"
"Bukan urusan, Tuan."
Hayam melihat ke arah toko sekali lagi. "Tutup lebih cepat? Aku mau beli roti lagi soalnya."
"Iya, ada urusan lain jadi harus ditutup."
"Urusan apa? Mau aku antar?"
Sachi mendesah lelah. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran pria itu. Pria itu terlalu sering menggangu cangkang perlindungan dirinya. Sachi sama sekali tidak peduli akan wajah pria itu yang sering muncul di mimpi-mimpi anehnya. Sachi juga tidak peduli sekalipun pria di depannya itu adalah reinkarnasi pria yang sering dipanggil Maharaja. Sachi hanya ingin menjaga jarak dengan smeua orang. Dia ingin sendiri tanpa ada yang melewati batas ruang pribadinya.
Dan semenjak kemunculan pria itu beberapa waktu lalu, Sachi merasa risih setiap kali pria itu mengusik kesepiannya. Sebagai jawaban atas tawaran yang Hayam berikan tadi Sachi menggeleng cepat. Wajah pria itu sontak kehilangan bahagianya. Senyum secerah mentari pagi pun kini larut dalam lautan.
"Eum ... kau pulang jam berapa? Bisakah aku menunggumu?"
Lagi-lagi jawaban Sachi adalah sebuah gelengan kepala. Tak memperdulikan Hayam yang masih berdiri mematung, Sachi mengeluarkan motornya kemudian mencoba menyalakan mesin. Alisnya mulai berkerut saat mesin motor tak kunjung menyala padahal bensinnya masih terisi penuh. Tanpa ia sadari akibat terlalu gugup, gadis itu ternyata belum menaikan standar motornya yang mau sampai kiamat pun tidak akan pernah bisa menyala.
Hayam yang melihat kesempatan itu mengambil kunci motor Sachi dengan cepat membuat sang emilik berteriak protes.
"Sst! Motormu nanti aku bawa ke bengkel, biar aku antar saja, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHAJANA (Complete)
Ficción Histórica(Dalam Revisi) ma·ha·ja·na ark n orang yang amat ternama; orang besar. Terbangun dan melanjutkan hidup sebagai remaja kembali. Hayam Wuruk hidup dengan beban masa lalu yang tak kunjung terlepas. Waktu terus bergulir hingga suatu saat kesempatan kedu...
