"Nimas! Tolong jangan berlarian, Nimas! Kami akan mendapat masalah lagi!"
Seorang dayang kecil berlarian mengejar sang putri yang berlarian. Di belakangnya juga ikut berlari seorang pelayan laki-laki seusianya. Setelah sekian lama menanti akhirnya dia bisa melihat wajah sepupunya yang selalu disembunyikan oleh Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi. Kabar burung mengenai penerus tahta Majapahit yang disembunyikan telah menggemparkan seantero kerajaan.
Paduka Ratu telah mengumumkan pewaris tahtanya. Tadi malam dia melihat wajah kecewa Rama-nya yang katanya berharap untuk mendapatkan singgahsana Majapahit. Di usianya yang terbilang anak-anak. Dia telah mendapatkan tanggung jawab berat. Kilauan dari emas yang melingkar indah di kepala kecilnya menunjukkan bahwa dia adalah salah satu puteri kerajaan.
Sri Sudewi namanya, putri cantik dari seorang Dyah Wiyat bergelar Rajadewi Maharajasa dengan Ksatriya bernama Kudamerta bergelar Wijayarajasa. Cucu pendiri Kerajaan terbesar nusanatara, Kerajaan Majapahit. Selama ini dia akan digadang menjadi ratu kedua setelah Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi. Kabar bahwa Ratu dan suaminya yang tidak bisa memiliki anak ternyata salah. Kini keduanya mengumumkan kehadiran pangeran Majapahit bernama Hayam Wuruk. Sudewi sendiri tidak mengerti akan alasan mengapa seorang ratu rela menyembunyikan identitas pangeran.
"Nimas, bagaimana jika ada yang melihat kita lagi?" tanya pelayan perempuan seusianya.
"Tenanglah Wulan, kita akan kembali ke Daha esok pagi. Sore ini adalah kesempatan terakhir kita untuk melihat wajah pangeran. Bukankah begitu, Saka?" tanya Sudewi pada pelayan laki-laki yang sedari tadi diam menurut. Kepala kecilnya mengangguk menyetujui keinginan sang putri. Dia hanyalah pelayan, sudah seharusnya mereka berdua mengikuti setiap ucapan sang putri tanpa ada bantahan.
"Tapi, Nimas ... aku takut jika kita sampai bertemu patih Mada, bagaimana jika kita sampai dipenggalnya?" Sudewi berkacak pinggang membuat Wulan merengut. "Jadi kau lebih takut kepada seorang patih ketimbang seorang puteri kerajaan?" Sudewi mengangguk puas saat Wulan tak lagi merengek.
Dia menarik lengan kedua temannya melewati semak-semak. Ketiganya dengan mudah merangsek maju dengan tubuh kecil mereka. Sudewi bahkan tidak memperdulikan Wulan dan Saka kesusahan mengambil selendangnya yang tersangkut juga terlilit sulur tanaman berduri.
Sudewi semakin memelankan suara langkahnya mencoba mengintip wajah pangeran Hayam Wuruk. Perlahan dia menurunkan ranting pohon yang menutupi pandangannya. Sebuah punggung terbuka duduk memungginya. Sepertinya pangeran Hayam Wuruk sedang sibuk belajar. Seperti namanya yang berarti Ayam yang terpelajar. Pasti tentu saja Pangeran Majapahit adalah orang yang berilmu.
"Nimas, kapan kita akan kembali?" tanya Wulan setengah berbisik karena takut ketahuan. Sudewi hanya mengibaskan tangannya menyuruh Wulan untuk diam. Tanpa disadarinya Sudewi ikut menelengkan kepala untuk mengintip wajah Hayam Wuruk yang menoleh seperti mencari sesuatu. Dikeluarkannya sebuah benda kotak terbuat dari logam berbentuk persegi panjang. Sudewi mencoba menajamkan matanya untuk melihat benda apa itu.
Tubuh Sudewi sudah sangat maju saat sebuah deheman menyadarkannya. Wulan dan Saka memucat saat tubuh pria yang mereka takuti berdiri tegak di depannya. Sudewi mengangkat kepalanya perlahan dan tersenyum canggung. Patih Mada menatap ketiganya tanpa ekspresi. "Ada apakah gerangan membuat puteri datang kemari?"
"Pa-patih, a-aku ...." Sudewi berlari kencang meninggalkan kedua temannya yang juga ikut berlari ketakutan.
Hayam yang bosan akan materi pelajaran di depannya buru-buru menyimpan benda pipih tersebut kembali. Dia berdehem dan memasang wajah serius di depan lemabran kertas perkamen.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHAJANA (Complete)
Fiksi Sejarah(Dalam Revisi) ma·ha·ja·na ark n orang yang amat ternama; orang besar. Terbangun dan melanjutkan hidup sebagai remaja kembali. Hayam Wuruk hidup dengan beban masa lalu yang tak kunjung terlepas. Waktu terus bergulir hingga suatu saat kesempatan kedu...
