Yuk vote dan komennya juseyo 🥰
*
Hayam memarkirkan mobilnya dengan rapi di depan halaman panti jompo. Dibukanya bagasi beakang dan mengambil beberapa plastik besar berisikan bungkusan kue serta roti yang ia dapatkan tadi dari toko Mahajana.
Di rumah besar tersebut, Hayam menyapa salah seorang pengasuh dan memberikan kue untuk sekalian dibawa pulang, agar bisa dinikmati oleh keluarga.
Biasanya jika sudah sore begini para lansia tengah menghabiskan waktu bersantai di halaman belakang. Setelah menyapa beberapa perawat lain, Hayam segera mencari seseorang.
Seorang wanita berusia tujuh puluhan duduk sendirian di atas kursi rodanya. Hayam segera datang karena mendapatkan telepon dari perawat bahwa beberapa hari belakang ini kondisi nenek Sachi mengalami penurunan. Ia datang berkunjung untuk memastikan sendiri dan benar saja, wanita itu terlihat semakin kurus menyisakan kulit bergelambir akibat kehilangan masa otot serta lemak.
"Mbah," sapa Hayam sopan.
Mbah Ainun atau sering disapa Mbah Nun itu mengangkat wajahnya kemudian tersenyum. "Masih tidak bersama Sachi?" tanyanya. Hayam menggeleng merasa bersalah belum bisa mempertemukan kembali antara nenek dan cucu itu. Ia sendiri tahu Sachi butuh waktu tapi melihat Mbah Nun yang terus menanyakan keberadaan Sachi sendiri membuat Hayam tidak tega.
"Tapi ini aku bawakan roti buatan Sachi. Enak. Monggo dimakan."
Mbah Nun menerima roti tersebut dari Hayam. Tangannya terulur pada segelas teh hangat yang terletak di atas meja. ia mencelupkan roti pemberian Hayam ke dalam teh hangat tersebut baru kemudian dilahap sedikit demi sedikit. Hayam tersenyum merasa lucu melihat cara Mbah Nun menikmati rotinya.
Tidak seperti para lansia laki-laki yang setiap kali mengajaknya adu catur. Mbah Nun lebih pendiam dan Hayam baru tersadar bahwa gigi lansia itu hanya tinggal dua di bagian bawah. Hayam menunjuk giginya sendiri seraya bertanya, "Mbah nggak mau pake gigi palsu? Kan lumayan biar bantu makan."
"Ndak dulu, Nak. Mbah lebih menerima tanda ketuaan ini apa adanya. Berarti ini tandanya Tuhan sudah memperingati Mbah kalau di usia yang sekarang lebih mengingat tepat kembali kita, tanah. Tanah berada di bawah tidak pantas untuk mengharapkan langit yang tinggi. Makan sederhana seperti bubur sudah cukup, bukan lagi waktunya Mbah makan daging dan lain-lain."
Hayam mengangguk paham. Di usia lanjut memang cobaan terbesar manusia adalah apakah bisa mawas diri akan keadaan atau tidak. Ia meletakkan kaki kanannya di atas kaki kiri ikut menikmati matahari tenggelam di daerah dataran tinggi itu. Salah seorang perawat datang untuk meminta tanda tangan perizinan dari Hayam. Pria itu membaca dengan seksama lalu membubuhi tanda tangannya di atas materai.
Ia adalah salah satu donatur sekaligus penanggung jawab di panti jompo tersebut dan surat yang ditanda tanganinnya barusan adalah surat perizinan untuk mengukuti acar charity dari sebuah perusahaan. Baginya sponsor atau donatur baru untuk panti jompo sama dengan membantu para lansia ini untuk menikmati masa tua mereka. Tak hanya sekadar merawat, panti jompo juga telah menyediakan dokter yang siap 24 jam serta banyak fasilitas kesahatan lain.
Hayam mengangkat tangannya menyapa Mbah Yadhi yang membawa papan caturnya menuju ruang makan.
"Ayo main, Yam! terkahir kau menang karena beruntung saja," sindirnya.
"Duluan masuk saja, titip kopi seperti biasanya ya, Mbah! Nanti kususul"
Mbah Yadhi mengangkat jempolnya tanda mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHAJANA (Complete)
Fiksi Sejarah(Dalam Revisi) ma·ha·ja·na ark n orang yang amat ternama; orang besar. Terbangun dan melanjutkan hidup sebagai remaja kembali. Hayam Wuruk hidup dengan beban masa lalu yang tak kunjung terlepas. Waktu terus bergulir hingga suatu saat kesempatan kedu...
