Chapter 8

19.5K 3.2K 216
                                        

Hai hai hai! Jangan lupa vote dan komennya ya teman-temaannnn ^^

*

Bukankah penyesalan itu selalu datang terlambat? Itulah yang kini Hayam Wuruk rasakan. Melihat toko Mahajana yang tertutup rapat menghapus semangatnya. Tidak ada celah untuk memanggil Sachi keluar. Dia sudah tidak sabar untuk memulai segalanya sedari awal. Hayam sadar bahwa pendekatannya terlalu berlebihan untuk jenis orang introvert layaknya Sachi.

Mengingat kejadian di pantai tadi sore kembali membuat Hayam merinding. Sebelumnya dia sama sekali tidak pernah takut akan pengalaman spiritual. Karena pengalamannya sendiri bisa dibilang jauh di luar nalar manusia. Tapi bisikan wanita di telinganya kembali membuat tubuh Hayam seketika menggigil. 

Ia melirik kura-kura di kursi penumpang sampingnya. "Aku akan segera mengembalikanmu, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat." 

Jika Hayam kembali memaksakan kehendaknya seperti biasa, sudah dipastikan Sachi semakin mendorongnya menjauh. Perlahan, Hayam memutar  kemudi mobil membawanya kembali ke jalanan besar untuk pulang.

Keesokan harinya, Hayam kembali menyempatkan diri mampir ke toko roti milik Sachi sebelum berangkat ke kantor. Terlihat wajah Sachi sedikit enggan melayaninya. Kali ini ia memilih americano tanpa gula dengan dua donat yang ditaburi gula putih. Perpaduan seimbang pahit yang sangat disukainya dan manis dari gula. 

Mengambil tempat duduk di dekat jendela kayu, Hayam tersenyum simpul melihat seekor burung gereja mematuk beberapa biji wijen yang sengaja Sachi tebarkan. Masih satu jam lagi sampai rapat pertamanya di hari yang sama. Masih ada waktu untuk berbicara. Tanpa disadarinya kaki pria itu bergerak resah menunggu beberapa pelanggan yang tengah memilih roti untuk sarapan pagi mereka. 

Tangan Hayam terangkat saat Sachi selesai melayani konsumen terkahir. Gadis itu menghembuskan nafas perlahan. 

"Iya, ada yang bisa dibantu?" tanya Sachi bersabar.

"Boleh duduk dulu sebentar?"

Sachi melihat piring kecil tempat dua donat yang Hayam beli tadi. Masih tak tersentuh, tapi kopi di cangkirnya hampir setengah telah habis.

"Aku telah merenungi tindakanku akhir-akhir ini. Dan aku menyadarinya bahwa aku telah membuatmu tidak nyaman. Aku selalu membebanimu dengan permintaan Mbah Nun."

Hayam mengangkat tangannya saat Sachi terlihat ingin protes. "Sebentar, izinkan aku berbicara sebentar. Maka dari itu aku meminta maaf sebesar-besarnya. Dan aku juga telah berpikir panjang. Sachi, aku ingin menjadi temanmu. Ini bukan karena permintaan nenekmu melainkan aku tulus ingin menjadi temanmu."

Sesaat Sachi tercekat. Dia tidak bisa berkata-kata. Dengan jelas Sachi bisa melihat ketulusan yang pria di depannya berikan. Bibirnya terbuka untuk membalas tapi satu kata pun tak terucap. Lidahnya kelu mendapati ketulusan seseorang. 

"Tapi ke-kenapa? Kita tidak saling mengenal untuk menjadi teman." 

Hayam menggeleng perlahan lalu mengusap kepala Sachi perlahan. "Kita sudah saling mengenal. Jauh-jauh-jauh sebelum kamu menyadarinya," jawab Hayam ambigu. Pasalnya Hayam tidak ingin pintu di masa lalunya dibuka oleh Sachi. Apa pun kondisinya Hayam tidak ingin Sachi teringat akan Sudewi. Masa lalunya kelam dan itu hanya akan membawa trauma sendiri bagi Sachi. Dia ingin mengunci pintu masa lalunya rapat-rapat. Hayam tertawa kecil melihat wajah kebingungan Sachi. 

"Kita sudah berbincang beberapa kali, bukan? Aku juga sudah pernah memberikan kartu tanda pengenalku. Jangan bilang selama ini kamu tidak mengetahui namaku," goda Hayam membuat Sachi mendengkus menahan senyum.

MAHAJANA (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang