Sachi baru selesai membersihkan badan dan bersiap untuk tidur. Ia menyetrika dua celemek merah miliknya juga pegawai baru, Arga. Setelah melipat dengan rapi, Sachi membaringkan diri pada ksur kecil yang telah ia tempatu beberapa bulan terakhir. Ponselnya berdenting tanda sebuah pesan telah masuk.
Dari nomor yang tak dikenal. Senyumnya terukir melihat pemandangan bulan yang sangat indah. Karena penasaran, Sachi bangun dan memeriksanya sendiri keluar balkon. Benar! Bulan purnama malam itu snagatlah indah. Rasanya malam itu Sachi akan tertidur lelap dengan mimpi indah.
Sachi baru menyadari sesuatu! Dia tidak pernah bermimpi buruk lagi akhir-akhir ini. Apakah ini akibat dirinya yang mulai beranjak dari masa lalu? Sachi tersenyum lebar terhadap bulan.
"Hanya mimpi! Kata kakak mereka semua hanyalah bunga tidur. Aku yakin semua ini akan berlalu," gumam Sachi meyakini dirinya sendiri.
Sachi mencoba mengingat beberapa kejadian yang pernah ia mimpikan. Hatinya terasa sakit saat pernah memimpikan seorang wanita yang telah menghabiskan malam indahnya dengan cinta pertamanya tapi saat matahari menyingsing, kehangatan malam itu perlahan memudar menyisakan kenangan yang hanya bisa wanita itu dambakan kembali.
Gadis itu merangkak menuju tempat tidurnya dan muai memejamkan matanya.
*
Menyelesaikan tugas kerajaan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Mendengar hiruk pikuk sorakan rakyat membuat seorang wanita tersenyum di balik kereta kencananya. Mereka menyoraki namanya. Memuja dan mendo'akan yang terbaik atas kelangsungan hidupnya. Tangan dilambaikan beberapa kali seiring dua ekor kuda menarik kereta yang ditumpanginya. Debu yang berterbangan tak menyurutkan keinginan orang-orang untuk melihat langsung kehadiran istri raja.
Saat suara keramaian mulai memudar dan keretanya telah sampai di sebuah halaman luas. Wanita itu mendesah. Seperti ratusan kilogram jatuh membebani pundaknya. Ada beban tak kasat mata yang menyapanya kala ia menapakkan kakinya kembali di atas halaman istana.
Kehadirannya disambut oleh para dayang dan beberapa penjaga istana.
"Selamat datang kembali, Paduka."
"Terima kasih. Apa ada kabar terbaru selagi aku pergi?" tanya Sudewi. Ia melangkah dekat agar bisa berdiri di bawah naungan payung yang dayangnya pegang.
"Tidak ada, Paduka. Selain ...." Dayang tersebut sedikit ragu untuk memberitahu tuannya. Tapi alangkah bijak jika ia mengikuti perintah saja. Toh, dia hanya seorang dayang. tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk melindungi Tuannya. "Ayahanda Paduka telah menunggu kehadiran Paduka."
Tubuh Sudewi menegang. Kini apalagi yang diinginkan oleh ayahnya. Hari-harinya dilalui dengan dingin. Perang dingin yang berlangsung antara ayah juga suaminya hanya akan berdampak padanya. Dia tidak bisa mengulurkan tangannya memberi bantuan. Kala itu ia tidak memiliki kekuatan bahkan sampai saat ini mungkin sang suami selalu melihat dirinya hanya sebagai boneka yang ditunjuk oleh pamannya sendiri untuk merebut kekuasaannya.
Sudewi melangkah anggun. Dagunya terangkat melihat sekeliling. Orang-orang di sekitarnya menunduk menghormatinya. Dia adalah petinggi kerajaan. Pemimpin para wanita kerajaan. Dengan dagu yang terangkat pun tidak membuatnya merasa inferior. Bahkan mungkin Sudewi merasa dirinya adalah orang yang paling tidak pantas dihormati oleh kerajaan. Sebelum bertemu ayahnya Sudewi mencari dayang kepercayannya, sekaligus teman semasa kecilnya, Wulan.
Sudewi kembali menyimpan sebuah tusuk rambut yang terbuat dari emas. Hadiah khusus yang telah ia persiapkan untuk ucapan terima kasihnya telah menemaninya sejauh ini. Wulan akan menikah sebentar lagi dan sepatutnya Sudewi memberikan hadiah.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHAJANA (Complete)
Historical Fiction(Dalam Revisi) ma·ha·ja·na ark n orang yang amat ternama; orang besar. Terbangun dan melanjutkan hidup sebagai remaja kembali. Hayam Wuruk hidup dengan beban masa lalu yang tak kunjung terlepas. Waktu terus bergulir hingga suatu saat kesempatan kedu...
