Yuk yuk jangan lupa vote dan komennyaaa ^^
*
Sachi memeluk erat laptop pertama yang dibelinya dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Meskipun barang secondhand tapi tetap saja membayangkan banyak hal yang bisa ia lakukan untuk semakin memajukan toko rotinya membuat Sachi melompat kecil di kamar.
Hal pertama yang ia lakukan adalah belajar menggunakan neraca. Berjam-jam waktu berlalu, kini matahari pun bertengger tepat di bingkai jendelanya di sebelah barat. Artinya, pukul telah menujukkan pukul empat sore dan kiriman bahan baku akan tiba sekitar tiga puluh menit lagi.
Selagi menunggu, Sachi membuat sebuah lembaran pengumuman. Ia telah mengalokasikan dananya untuk biaya produksi bagian tenaga kerja. Semakin hari tokonya semakin ramai, dan Sachi sering kali kewalahan. Sudah saatnya Sachi memperkerjakan dua orang lagi. Lagi-lagi membayangkan memiliki pegawai baru membuat Sachi kelewat antusias. Dia tidak percaya setiap harinya dia semakin maju perlahan. Melihat bingkai foto kecil di atas meja kayu berbentuk bundar menghangatkan hati Sachi.
"Sebentar lagi ya, nek, setelah semuanya benar-benar berjalan baik Sachi akan jemput nenek." pintanya pada salah satu bingkai foto yang lebih kecil tempat foto wanita tua yang tengah duduk memangku Sachi kecil.
Bunyi bel menandakan kiriman telah datang. Sachi cepat-cepat merapikan diri. Dia tersenyum melihat wajah yang familiar.
"Loh? Kak Dimas yang antar? biasanya Abah Jali?" tanya Sachi melongokkan kepalanya mencari keberadaan pria dewasa yang hobi memekai kaos kutang putih. Abah Jali adalah tempat Sachi membeli bahan baku membuat kue. Sejak jaman ayahnya menangani Mahajana Toko Jali-Jali adalah langganan mereka.
Dimas tersenyum singkat saja sambil mengeluarkan beberapa karung gula juga tepung. Selain itu Sachi membantu menurunkan beberapa bungkus perasa. Di dalam toko Sachi menyiapkan secangkir teh untuk Dimas.
"Kak Dimas! Mampir dulu sini!" panggilnya mempersilahkan Dimas untuk duduk di salah satu kursi pelanggan. "Sedang libur ya kuliahnya?"
"Iya, Chi, Cici sendiri bagaimana? Lancar urus tokonya?" tanya Dimas sembari bergabung di meja.
"Lancar, kak, tadi pagi aku baru beli laptop baru, sama aku sekarang sedang cari dua pegawai kak. Untuk bagian kasir sama yang melayani, soalnya sebulan terakhir jam makan siang toko penuh terus sama pegawai kantor dekat sini, kadang banyak mahasiswa juga yang ngerjain tugas malam-malam di sini. Aku kan jadi kesusahan buat ngurus belakang juga."
"Wah, makin hebat ya kamu sekarang. Sekarang daerah sini makin ramai ya, Chi." Sachi mengangguk membenarkan, ia juga menunjuk beberapa kantor yang baru dibangun akhir-akhir ini. Karena Dimas sendiri kuliah di luar kota, jadi dia tak terlalu bisa mengikuti perkembangan yang muncul di daerah asalnya.
"Kamu ga mau kuliah gitu, Chi? Banyak kok sekarang teman kakak yang sambil kuliah punya bisnis."
Bibir Sachi melengkung ke bawah, Dengan berat hati Sachi menggeleng lemah. Dimas sangat tahu Sachi ingin berkuliah, dulu saat ayahnya masih ada, Sachi kerap kali bilang ingin berkuliah di luar kota. Masih terlihat jelas keinginan itu masih ada, hanya saja Sachi kini tak bisa bergerak seleluasa dulu.
"Uang di Mahajana belum sestabil itu buat aku lepas, kak. Jadi kayaknya aku bakal fokus dulu buat toko roti ini."
Dimas melihat sekeliling, cat di beberapa bagian tembok mulia terlihat mengelupas. Tapi entah kenapa itu menjadi daya tarik tersendiri di Mahajana. Sulur tanaman hias menggantung layakanya tirai di jendela yang berkusen kayu. Suasana vintage memang sedang menjadi tren akhir-akhir ini apalagi perpaduan nuansa jawa yang kental pada ukiran bingkai kayu di setiap sudut ruangan menjadikan Mahajana memiliki nilai aestetik tersendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHAJANA (Complete)
Fiksi Sejarah(Dalam Revisi) ma·ha·ja·na ark n orang yang amat ternama; orang besar. Terbangun dan melanjutkan hidup sebagai remaja kembali. Hayam Wuruk hidup dengan beban masa lalu yang tak kunjung terlepas. Waktu terus bergulir hingga suatu saat kesempatan kedu...
