Chapter 1

59.5K 6.2K 746
                                        

Jangan lupa vote dan komennya juseyo ^^

*

Seorang pria melonggarkan dasi yang dikenakannya. Sudah seminggu ia tak meninggalkan kantor. Tumpukan kertas pun mulai memenuhi meja kerja. Beberapa cup sampah kopi tercecer begitu saja. Begitu juga dengan bungkus makanan yang memenuhi tempat sampah di ujung ruangan. Pria itu tak kunjung berhenti menorehkan tanda tangan di bagian yang dibutuhkan, sama sekali tak terganggu akan kondisi ruangan yang sangat menjijikkan.

Seminggu ini perusahannya terkena skandal penggelapan pajak membuat pria bernama Hayam Wuruk itu lupa akan waktu. Dia bisa saja lepas tanggung jawab dan membebani semua ini pada direktur keuangannya tapi itu bukanlah sikap seorang pemimpin. Kini dia harus mencari strategi baru untuk membenahi sistem audit internal perusahannya yang kacau. Ah, sial, kepalanya terasa ingin pecah saja!

Jika saja ini bukan perusahaan keluarganya, sudah Hayam tinggalkan sejak orang pajak menginjakkan kakinya ke dalam gedung.

Seorang pria yang menjadi asistennya mengernyitkan hidung saat memasuki ruangan tersebut. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak memuntahkan isi perut melihat lalat yang menumpuk di ujung rungan.

"Semuanya sudah beres. Kembalikan semua tumpukan kertas itu. Sortir dan hanguskan yang sudah kucoret merah. Habis itu suruh bersihin ruangku. Jangan hubungi aku tiga hari ke depan. Jangan sampai masalah ini terulang lagi."

"Siap, Pak."

Sang asisten menutup matanya ingin menangis saat bosnya mengusapkan tangannya pada jas yang baru ia beli beberapa hari yang lalu. Setelah Hayam meninggalkan ruangan barulah pria itu mencari kantung plastik untuk memuntahkan isi perutnya. Nasib punya bos jorok.

Hayam pulang ke rumahnya, membersihkan diri dan bersiap-siap untuk menuju tempat hiburan. Saat sudah bersih dan wangi, pria itu kembali menjalankan mobilnya ke arah sebuah rumah besar. Di depannya tertulis Panti Werdha Surya. Di tengah jalan ia mampir membeli beberapa jajanan untuk penghuni panti tersebut.

Iya, tempat hiburan Hayam Wuruk adalah panti jompo. Saat pria seusianya memilih jalan-jalan ke luar negeri, Hayam mendedikasikan waktunya untuk bermain catur sembari berbincang para orang lansia. Entahlah, bagi Hayam circle pertemanannya adalah orang-orang tua itu. Bahkan keluarganya pun tak bisa membuat Hayam nyaman.

Ia mengeluarkan donat dan diletakkaannya di atas meja membuat dua lansia yang sedang bermain catur pun terkejut.

"Darimana saja kau seminggu ini, Hayam? Tak menunjukkan batang hidungmu, kukira kau menyusul Mbah Wito ke alam baka," ucap Mbah Yadhi sinis, pria tua itu adalah musuh bebuyutan Hayam dalam bermain catur beberapa tahun terakhir.

Mbah Wito sendiri adalah teman satu geng Hayam, yang juga ahli dalam dunia percaturan. Keduanya sering mengalahkan Mbah Yadhi yang notabenenya seorang juara bertahan catur tingkat kecamatan. Dan kemenangan Hayam juga Mbah Wito sudah melukai ego Mbah Yadhi dan menjebak ketiganya dalam pertarungan catur tanpa henti.

"Sudah siap kalah lagi hari ini?" tanya Hayam sembari mengikat rambut panjangnya dalam bentuk manbun.

Saat keduanya mulai terhanyut dalam permainan. Satu per satu para lansia mulai mengerumuni dan mengelilingi keduanya. Beberapa mulai bertaruh menentukan siapa pemenangnya.

Hayam memicingkan matanya melirik Mbah Yadhi yang tersenyum puas.

"Sudah kuduga kau tak ada apa-apanya tanpa Purwito. Akui saja kekalahanmu."

"Kalau pun kalah harus sampai titik darah penghabisan," jawab Hayam menolak permintaan Mbah Yadhi.

Ketika Hayam bermasil di skak mat barulah Hayam mengangkat tangannya mengakui keahlian sang juara bertahan tingkat kecamatan itu. Beberapa orang mendesah kecewa terutama para lansia yang bertaruh 5000 rupiah atas nama Hayam Wuruk.

MAHAJANA (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang