Happy reading<3
"Doyoung."
"Apaan?"
"Apa bedanya piket hari biasa dan piket hari jum'at?"
Ketukan ujung kuku di atas sampul buku itu terhenti ketika mendengar penuturan Yujin. Cowok itu mengalihkan pandangan sepenuhnya ke arah gadis dengan mata besar itu dengan tatapan menilai.
"Aku penasaran aja kenapa yang lain selalu berebut." Yujin menekankan, tak ingin ada kesalahpahaman.
Netra Doyoung bergerak ke atas dan ke bawah satu kali sebelum buku di pangkuan ditutup hingga menimbulkan suara dug yang kencang.
Pemuda itu bangkit, memasukan tangan di dalam saku celana kulit coklatnya seraya memasang wajah sedatar ubin. "Mau liat?"
"Hah?"
"Mau liat gak!"
Mendengar sentakan cowok itu membuat lutut Yujin segera membentuk sudut seratus delapan puluh derajat. Tubuh tingginya mengekor di belakang si cowok dengan wajah mungil, entah kemana tujuan mereka sekarang Yujin tak dapat berpikir dengan jernih karena sibuk mengimbangi langkah cepat Doyoung.
Mereka masuk, menyusuri hutan di belakang rumah dengan sandal jepit. Bak seorang pemandu, rupanya Doyoung sudah hapal betul letak tujuan mereka saat ini karena demi Tuhan semua pohon nampak sama di mata Yujin.
Hingga perlahan bau menyengat mulai menusuk indra penciuman, terasa seperti jari yang tertusuk oleh jarum hidung Yujin terasa sakit.
Doyoung berhenti di ujung jurang besar. Nampaknya pemuda itu tak begitu terganggu dengan bau menjijikan itu, alih-alih menutup hidung cowok itu malah duduk bersandar di batu besar seraya melipat kedua tangan di depan dada.
Kelopak ganda Yujin mengikuti arah kemana Doyoung menatap, tepat di dasar jurang nampak ratusan, mungkin ribuan, bangkai hewan tanpa kepala yang tengah dikerubungi oleh lalat.
Melihat hal tersebut sontak membuat seluruh perut Yujin teraduk. Tak butuh lama hingga gadis itu mengeluarkan seluruh makan siangnya hingga habis tak tersisa.
Menyadari Yujin yang duduk bersimpuh dengan wajah pucat lantas membuat Doyoung tersenyum remeh. "Payah." ujarnya dengan wajah yang menyeringai.
Walaupun begitu, cowok dengan tubuh kurus itu tetap membantu Yujin berdiri dan menuntunnya duduk agak jauh dari tepi jurang. Jemari Doyoung merogoh saku, meraih selembar kain dengan motif bunga matahari di ujung.
"Selain hari jum'at motongin kepala hewan buat topeng, syaratnya satu hari cuma boleh satu." ujar Doyoung pelan. Cowok itu menyambar pergelangan tangan Yujin, menyelipkan sapu tangan itu di antara jemari ramping si gadis.
Setelah itu tubuh Doyoung berbalik, telunjuknya terangkat di udara, menunjuk sebuah bangunan yang bahkan Yujin tak sadari keberadaannya karena tersembunyi oleh pepohonan tak jauh dari tempat mereka berada.
"Itu oikos, rumah buat acara hari raya. Setiap orang yang dateng bakal pake topeng yang udah dibuat." tukas Doyoung singkat. "Sekarang penasaran soal apa lagi?"
Yujin terdiam, menatap Doyoung dengan lamat sebelum akhirnya siku diletakkan di atas batu, menumpu pipi kanan dengan wajah penasaran. "Kamu sendiri bisa kesini karena apa?"
Mendengar sebaris pertanyaan itu sontak membuat Doyoung berdecak pelan. Cowok itu mengibaskan tangan di udara, "kebanyakan nanya, dah buruan ayo pulang." tukasnya ketus seraya meninggalkan Yujin yang berlari menyusul di belakang.
Selepas menghabiskan waktu dengan Doyoung hampir seharian ini, Yujin segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah usai, gadis itu mengenakan gaun tidur yang terlipat rapih di dalam lemari sebelum akhirnya kedua tungkai melangkah menuju ruang keluarga.
Mama sedang sibuk menyiapkan makan malam, sementara yang lain sedang duduk di ruang keluarga. Semuanya lengkap, hanya saja Yujin tak dapat menemukan presensi Yuna dimanapun.
Kepala gadis itu berpaling, ke kanan dan ke kiri, mencari sosok gadis dengan rambut panjang sepinggang itu hingga netra coklat itu berhenti tepat di jendela besar di ruang keluarga. Dari kejauhan nampak Yuna tengah duduk di dermaga, entah apa yang sedang ia lakukan Yujin tidak yakin karena gadis itu membelakanginya.
Walau nampak ragu, Yujin memutuskan untuk menghampiri saudara sebaya-nya itu. Semakin kedua tungkai bergerak mendekat, semakin pula Yujin dapat merasakan aura aneh yang terpancar dari gadis itu.
Yuna nampak aneh. Gadis itu menunduk, memeluk kedua lutut dengan bahu yang bergetar karena terkikik. Gumaman aneh keluar dari lisan, membuat bulu kuduk Yujin merinding seketika.
"Yuna?"
Getaran itu berhenti, bersamaan dengan wajah Yuna yang berpaling, mendongak menatap Yujin tepat di iris mata.
Namun fokus Yujin bukanlah kepada mata besar gadis itu, melainkan ke arah hasta kanan Yuna yang penuh dengan goresan merah. Darah segar merembas dari luka sayatan itu, membuat Yujin mau tak mau ikut meringis.
"Kamu ngapain?"
Mendengar sebait pertanyaan dengan nada ketakutan itu membuat kedua sudut bibir Yuna melebar. Gadis itu menunjukan sebilah pisau di tangan kiri dengan mata yang membulat sempurna.
"Hai, Yujin." sapa Yuna dengan nada riang. "Mau liat air terjun gak?"
Satu sekon kemudian benda tajam itu melayang, menusuk permukaan kulit hingga darah segar mengalir dari luka melintang yang terbentuk.
Teriakan dan tawa terdengar, saling bersahutan satu sama lain membelah keheningan senja hingga membuat Jiheon yang sedang duduk manis di atas ubin segera memalingkan wajah.
Kedua mata Yujin bergetar. Darah itu mengalir deras, seperti air terjun di musim hujan.
