halo! maaf banget kemaren waktu update tiba-tiba partnya kosong, untung aku nyimpen draft kasarnya di word😭
oiya sebelum lanjut, aku mau kasih tau kalo aku bikin poster karakter! bisa dicek di igku yap
id: hiregulus
selamat membaca❤️
***
Pagi itu sarapan tak terasa begitu menyenangkan.
Sejak kemarin malam, tepatnya saat Jiheon berbicara hal aneh padanya, Yujin tidak bisa tidur. Tak dapat dipungkiri bahwa pembicaraan itu sangat mengganggu pikirannya.
Iris coklatnya bergerak, menatap satu per satu anggota keluarganya yang nampak menikmati sarapan dengan tenang secara bergantian. Jemari itu mengetuk jari dua kali di atas meja, sibuk sendiri di dalam pikiran.
Mereka seperti orang normal, tidak mungkin mereka tidak waras.
Terlebih mama, wanita itu sangat baik.
Lihat saja bagaimana wanita itu sibuk meletakan lauk di atas piring saudara-saudaranya. Perlu ditekankan kalau senyuman tak pernah luput dari bibir yang selalu dipoles lipstik merah gelap itu.
Karena hari ini giliran Jiheon piket, gadis itu langsung menumpuk piring menjadi satu.
Selagi Jiheon merapihkan piring, dibantu Doyoung di sampingnya, Yujin kembali sibuk di dalam pikirannya.
Rasanya sangat tidak mungkin kalau mereka itu tidak waras.
Prang
Sebuah pisau roti jatuh tepat diYujin meringis pelan, menatap luka melintang yang untung saja hanya berupa goresan tipis di atas betis. Kepalanya mendongak, menatap si pelaku yang sedang menutup mulut dengan kedua tangan, terkejut.
"Maaf kak, gak sengaja." Wonyoung berujar dengan penuh nada khawatir yang sangat ketara dibuat-buat. Yujin tahu dia tidak benar-benar menyesal, karena gadis kurus dengan tubuh menjulang itu nampaknya tengah menahan senyuman.
Satu tarikan nafas mampu membuat emosi yang lebih tua memudar, beralih memasang senyum palsu seraya menatap yang lebih muda lurus. "Iya gapapa.
"Bisa jalan gak kak? Kalo enggak gak bisa piket dong~"
Ah.
Piket sialan itu lagi.
Yujin semakin penasaran mengapa semuanya sangat menyukai piket itu.
Yujin harus mencari tahu malam ini.
Dengan niat yang sudah bulat Yujin bangkit, menunjukan pada Wonyoung bahwa ia bisa berjalan seraya menapilkan deretan gigi rapihnya.
"Jangan khawatir, dek. Aku masih bisa jalan."
Ujaran lembut Yujin terdengar begitu menyebalkan dari dalam telinga Wonyoung. Karena jengkel, gadis itu segera pergi, meninggalkan Yujin dengan kaki yang terhentak.
Yujin mengerjapkan kedua mata yang terasa berat, rasanya hari ini begitu melelahkan. Tungkai panjang itu bergerak, membawa tubuh mendekat ke pintu masuk utama.
Yang Yujin butuhkan sekarang adalah udara segar. Ia berniat untuk pergi ke tepi sungai untuk menjernihkan pikiran.
Baru saja satu langkah kaki Yujin mendarat di teras, tiba-tiba saja sesuatu mencengkram pergelangan tangan, menarik tubuhnya masuk kembali ke dalam rumah.
Wajah Doyoung dengan kedua alis yang bertaut menyapa pandangan. Yujin mengikuti kemana arah Doyoung menatap dan menemukan beberapa jebakan tikus di ubin teras.
Dari arah keduanya berdiri, Yujin dapat melihat sosok Jeongwoo yang berlari menjauh dengan sebuah tas besar yang dijnjing di bahu.
Serius, bercandaan keluarga ini sangat tidak lucu.
"Jangan keliaran kalo gak perlu, di kamar aja." ujar Doyoung separuh kesal. Entah mengapa cowok itu terlihat begitu jengkel setiap saat, terlebih ketika berhadapan dengan Yujin.
Jujur saja, Yujin sangat tersinggung dengan bagaimana cara Doyoung berbicara padanya. Memang sih cowok itu selalu bersikap dingin, namun jika dibandingkan dengan yang lain rasanya cukup berbeda.
Doyoung terlihat seperti meremehkannya, selalu memandangnya hingga Yujin merasa seperti orang yang bodoh.
"Kenapa?" Yujin bertanya tak kalah kesal.
"Kalo sakit nanti Jiheon lagi yang harus gantiin malam ini. Ngerepotin." Doyoung berujar sinis, melepas cengkramannya pada lengan Yujin sebelum akhirnya berlalu meninggalkan gadis itu sendirian.
Dan hingga makan malam tiba, Yujin sama sekali tidak keluar dari dalam kamarnya, memilih untuk mengikuti arahan Doyoung yang tiba-tiba saja terdengar begitu melenakan.
