x. spirit animal as your mask

8K 2K 418
                                        

Jam hampir menunjukan pukul sepuluh pagi. Yujin dan mama sedang menikmati teh di ruang tamu sesekali berbincang dengan akrab.

"Badan kamu gimana? Udah mendingan sayang?"

Selepas meletakan cangkir di atas meja, Yujin mengangguk pelan.

"Bagus kalo gitu." Mama berujar pelan. Jemarinya bergerak, membuka laci nakas kemudian meraih sesuatu dari dalam sana. "Sini mama sisirin rambutnya."

Kedua tungkai melangkah mendekat bersamaan dengan senyuman yang tersungging di bibir. Yujin duduk, membelakangi mama yang sudah bersiap dengan sisir hitam antiknya.

Gadis Ahn itu dapat merasakan helaian surainya disisir dengan lembut. Sesekali jemari mama ikut menyisir ketika menemuka beberpa helai saling bertautan.

"Ma."

"Iya, sayang?"

"Uh anuㅡaku gak liat papa."

Tangan mama berhenti menyisir sesaat, atensi teralihkan pada pintu rumah sebelum fokusnya kembali pada anak gadisnya.

"Papa kamu lagi keluar sebentar." ujar mama, sekenanya. "Kamu suka tinggal disini?"

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan tak perlu membuat Yujin berpikir dua kali untuk mengangguk antusias.

"Aku seneng punya kamar sendiri, rumahnya juga luas banget." seru Yujin dengan bersemangat.

Pandangan keduanya beralih ketika mendengar suara engsel kayu beradu, menampilkan Suho yang berdiri di ambang pintu seraya membawa beberapa helai daun pisang.

Yujin langsung bangkit, berinisyatif untuk membantu papa membawa daun-daun itu masuk ke dalam.

"Ini buat apa?" tanya Yujin, penasaran.

Setelah menumpuk daun menjadi satu dengan rapih, papa beralih mengusap puncak kepala putri kedua-nya dengan lembut. "Bulan depan nanti waktunya hari raya, ini buat tempat jamuan tamu."

Oh, jadi ini hari raya yang dibicarakan saudara-saudaranya?

Sepertinya sangat tradisional.

"Omong-omong Jeongwoo juga belum pernah ngerayain hari raya, sore nanti kita cari topeng bareng-bareng ya." kata Suho yang kini sudah duduk di atas sofa, menyeruput secangkir teh yang sudah hampir dingin.

Yujin gak mengerti apa maksudnya, mungkin ini tradisi atau semacamnya, jadi ia hanya mengangguk sebagai jawaban.




























Setelah makan malam, papa mengajak Yujin dan Jeongwoo keluar untuk mencari topeng yang dimaksud. Papa memerintahkan agar mereka mengenakan setelan putih yang digantung di lemari karena akan memasuki area suci.

Lima belas menit kemudian mereka tiba di sebuah pondok yang terletak di tengah hutan belantara belakang rumah. Dua obor yang menyala nampak di kedua sisi pintu masuk, memberi kesan yang cukup mencengkam.

"Ayo masuk." ajak papa ketika menyadari kedua anaknya itu terlihat ragu.

Yujin berpaling ketika merasakan jemari Jeongwoo mengamut jaei telunjuknya, menggenggam dengan erat.

Bau aneh tercium ketika mereka mulai memasuki pondok. Aromanya seperti sesuatu yang amis terbakar hingga hangus, menyisakan kepulan asap yang menusuk indra penciuman.

Belakangan Yujin menyadari bahwa ada beberapa gulungan mirip dupa yang dibakar disetiap sudut ruangan.















Seorang gadis duduk di kursi yang terletak di depan pintu kayu besar menyapa pandangan. Nyala lilin menyorot wajah rupawan tanpa ekspresi itu dari bawah.

"Bagian kamu jaga ya, Nakyung?" ujar Suho seraya tersenyum tipis.

Gadis yang dipanggil Nakyung itu menggeleng pelan sebagai jawaban. "Seharusnya kak Tzuyu, tapi ada pertemuan."

Mendengar jawaban si gadis membuat Suho menganggukan kepala mengerti. Kemudian atensinya beralih pada Yujin dan Jeongwoo yang masih mematung di tempat.

"Choose yours."

Sebelum Yujin sadar, Jeongwoo masuk terlebih dahulu melewati pintu kayu besar itu, mengekor Nakyung di belakang.

Entah apa yang mereka lakukan disana, Yujin tidak tahu. Tak terdengar suara apapun hingga tiga puluh menit kedepan hingga akhirnya Jeongwoo keluar dengan senyuman lebar.

"Fox, pa." kata Jeongwoo seraya menatap papa dengan mata yang berbinar.

"Good. Giliran kamu, sayang."

Dengan ragu Yujin melangkah masuk ke dalam. Bau khas itu tercium lebih pekat daripada sebelumnya.

Betapa terkejutnya Yujin ketika menemukan ribuan kepala hewan digantung memenuhi ruangan.

Lamunannya buyar ketika indra pendengarnya menangkap suara Nakyung yang memecah keheningan.

"Duduk."

Dengan ragu Yujin duduk di atas matras, tepat di hadapan Nakyung. Tiga belas buah gulungan yang sama di bakar di dalam kendi, diletakan mengelilingi keduanya.

"Sekarang pejamkan mata kamu dan bernafas dengan ritme yang sama."

Sesuai instruksi, Yujin memejamkan kedua mata. Udara dihirup dari hidung, kemudian dihembuskan lewat mulut. Seperti itu secara berulang-ulang.

"Bayangkan kamu berada di tempat yang paling nyaman, pergilah berkeliling hingga kamu menemukan seekor binatang."

Entah ini sugesti atau bukan, secara ajaib Yujin dapat membayangkan bahwa ia sedang berada di tengah hutan. Kedua tungkai melangkah, menyusuri dengan jantung yang berdegup kencang hingga ia menemukan seekor kelinci putih besar yang berdiri di depannya.

"Ada kelinci putih."

Nakyung tersenyum tipis, "sekarang kamu cekik hewan itu."

"Hah?"

"Bunuh dia."

Dengan ragu kedua tangan Yujin bergerak menggenggam leher kelinci itu. Kedua matanya terpejam, mencoba melawan rasa iba-nya namun tetap tidak bisa.

"Gak bisa."

"Kenapa? Lagipula ini hanya alam bawah sadar kamu."

Yujin membuka kedua mata, menarik nafas dalam-dalam, kemudian memantapkan niat yang terpendam di hati sejak awal.

Ya, lagipula hal ini hanya terjadi di dalam kepalanya. Jadi mencekik hewan bukan merupakan masalah besar.

Kemudian dengan kencang Yujin mencengkram leher kelinci itu dengan kedua mata yang terbuka.  Hanya butuh beberapa menit hingga kelinci itu sudah tak bergerak lagi.

Tiba-tiba saja sekitar nampak berkabut, seakan pohon dan semak menguap menjadi debu hingga Yujin merasakan tubuhnya di tarik dan ia kembali tersadar.

Nafas Yujin memburu, menatap Nakyung yang sedang tersenyum lebar seraya menyerahkan sebuah kepala kelinci padanya.

"Congratulation, you killed your spirit animal. Now you're the spirit."

HOMECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang