Wajah cantik itu kini sudah dipenuhi oleh keringat. Rambut hitamnya sedikit lepek dan napasnya terdengar begitu memburu. Tapi walau merasa amat lelah, Lisa tak pernah ingin menyerah untuk memompa dada pasien yang baru saja mengalami gagal jantung itu.
"Dokter, pasien kembali!"
Lisa menghela napas lega dan menyudahi pemberian resusitasi jantung paru terhadap pasien itu lalu turun dari ranjang sang pasien.
"Lakukan rongen dan CT scan. Jika hasilnya keluar, kau bisa memanggilku." Lisa berkata sembari membenarkan ikatan rambutnya yang mengendur.
Melihat Lisa yang sudah berhasil mengembalikan detak jantung pasien itu, Joohyuk segera menghampirinya. Dia sudah menunggu Lisa cukup lama hanya untuk menyampaikan sesuatu.
"Rosé tidak ingin ditangani Dokter lain. Dia meminta dirimu," ucap Joohyuk membuat Lisa mendesah lelah.
Semua kakaknya sama saja. Dan semoga, jika Jisoo sakit nanti dia tak berlaku seperti Rosé dan Jennie. Hal itu hanya akan membuat kepalanya pusing. Padahal di rumah sakit ini begitu banyak dokter hebat.
"Pergilah bersama Perawat Cho. Kau hanya perlu menyuntikkannya obat pereda rasa sakit." Joohyuk menunjuk pada perawat yang sudah membawa sebuah box berisi obat dan alat suntik.
Tak memiliki pilihan lain, Lisa memilih mengangguk. Dia berniat meninggalkan UGD, sebelum akhirnya mata hazel itu menangkap seseorang yang sudah tak asing lagi.
"Hei, kau!" Lisa menunjuk Park Eunji yang sedang memeriksa komputer di meja perawat jaga.
Eunji menoleh. Wajahnya tak menunjukkan ketertarikan. Karena sedari awal bertemu, dia sudah tak menyukai Lisa. Terlebih pertemuan pertama mereka memang buruk.
"Aku tidak melalukan operasi plastik. Aku memang masih muda dan umurku 25 tahun! Kau dengar itu, Nenek tua?" setelah mengatakannya dengan keras, Lisa berjalan santai meninggalkan ruang UGD. Membiarkan seisi ruangan itu terbengong melihatnya.
Dia tak suka direndahkan. Dia tak suka pula dipandang sebelah mata. Selama hampir sebelas tahun ini, Lisa mampu membuktikan betapa hebatnya dia. Jadi, dia tak akan mau mengalah jika ada seseorang yang berniat merusak reputasinya.
Jarak UGD dan bangsal VVIP cukup jauh. Dalam hati Lisa menggerutu kepada kakak ketiganya itu. Dia merasa Rosé semakin tampak kekanak-kanakan.
"Biar aku saja, Dokter." Perawat itu cepat-cepat melangkah mendahului Lisa dan menekan tombol lift yang akan membawa mereka ke lantai sepuluh.
Ketika pintu lift terbuka, perawat wanita itu mempersilahkan Lisa untuk masuk terlebih dahulu. Tampak sekali jika dia sangat menghormati Lisa. Padahal Lisa menduga umurnya masih jauh dibawah perawat itu.
Lisa memilih bersandar pada lift ketika pintu mulai tertutup. Gadis itu tiba-tiba menggigit bibir bawahnya ketika rasa sakit mulai menjalar dari lengan hingga bahunya.
Menelan salivanya susah payah, Lisa memejamkan mata berharap rasa sakit itu hilang. Tapi harapannya tak juga terkabul bahkan setelah pintu lift terbuka.
Tak ada cara lain untuk Lisa kecuali menahan rasa sakit itu. Wajahnya kembali datar, dan dia memang benar-benar pintar untuk menyembunyikan sesuatu.
Sesampainya di depan ruang rawat Rosé, perawat yang bersamanya itu membukakan pintu. Kembali mempersilahkan Lisa.
Melihat kedatangan adiknya, Rosé tersenyum amat lebar. Walau kenyataannya Lisa sama sekali tak menatapnya. Gadis berponi itu sibuk menyiapkan alat suntik untuk Rosé.
"Lisa-ya, gomawo."
Baru saja setelah menyuntikkan obat pereda rasa sakit di infus Rosé, Lisa dibuat kebingungan atas ungkapan sang kakak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lampyridae ✔
FanfictionLisa mengagumi kunang-kunang. Cahayanya begitu indah. Tapi dia lupa, jika memiliki cahaya lain di dalam hidupnya yang lebih indah. Jisoo, Rosé, dan Jennie. Mereka siap menjadi penerang untuk Lisa. Tapi nyatanya Lisa terus menolak. Ahn Jisoo, Ahn Jen...
