Di sepanjang karirnya sebagai Dokter, baru kemarin Lisa berhasil tumbang. Sampai pagi ini pun, dia tak bisa melupakan hal yang menurutnya memalukan itu.
"Lupakan Lisa. Hari ini pasti akan jauh lebih baik." Lisa mengangguk tegas pada pantulan dirinya dari cermin itu. Memakai mantel berwarna cokelat, Lisa mulai keluar dari kamarnya.
Dahi gadis berponi itu mengernyit ketika mencium aroma masakan yang pekat. Merasa penasaran, dia mulai berjalan ke arah dapur dan terkejut ketika mendapati seseorang disana. Tampaknya Lisa harus mengganti password pintunya agar Jennie tak selalu masuk tiba-tiba.
"Kau ingin kemana, Lisa-ya?" suara itu tak selembut biasanya.
"Bekerja, tentu saja."
Jennie berbalik dengan membawa dua piring Kimchi Bokkeumbap dan meletakkannya di meja makan. Lalu melepas apronnya dengan kasar.
"Tidak ingat jika kemarin kau jatuh pingsan? Aku masih bersabar ketika kau meninggalkan rumah sakit diam-diam. Tapi aku tak akan membiarkanmu bekerja hari ini." Mendengar Jennie yang mengomel, Lisa memutar bola matanya jengah.
"Aku baik-baik saja. Tidak usah berlebihan."
Jennie sama sekali tidak mengerti bagaimana menghadapi Lisa. Terkadang, Lisa dengan mudah menurutinya. Tapi jika keras kepala adiknya itu sedang muncul, rasanya Jennie memiliki darah tinggi ketika menghadapinya.
"Makanlah dulu sebelum kau berangkat." Kali ini Jennie yang memilih mengalah. Setidaknya keadaan adiknya itu memang baik-baik saja sekarang.
Di lain sisi, Jennie juga tak mau adiknya merasa dikekang dan berakhir dengan Lisa yang merasa tak betah. Dia ingin adiknya selalu nyaman, dan tidak pergi meninggalkannya.
Melihat Lisa yang kini duduk di meja makan dan mulai menyantap makananya, Jennie teringat akan sesuatu. Dia meraih sebuah undangan dari tas cokelatnya di atas meja. Lalu menyerahkannya pada Lisa.
"Acaranya dua hari lagi. Kau bisa datang kan?"
Lisa melirik undangan berwarna hitam itu tanpa minat. Dan setelah mendapati nama Paman dan Bibinya tertera, mendadak nafsu makan Lisa hilang begitu saja.
"Tidak," jawab Lisa setelahnya meminum air putih yang baru saja Jennie sediakan.
"Wae? Mereka adalah keluarga kita." Sesungguhnya, Jennie kini sedang berusaha memancing Lisa. Berharap adiknya itu mau bicara mengenai alasan mengapa tak menyukai Sohee dan keluarga wanita itu.
"Aku tidak suka hadir pada acara seperti itu." Lisa berkata dengan asal.
"Kalau begitu datanglah demi Unnie, hm?" Jennie masih tidak mau menyerah. Dia terus membuat Lisa untuk pergi ke acara ulang tahun pernikahan Bibi dan Paman mereka.
"Aku tidak menganggapmu sepenting itu, hingga aku harus datang demi dirimu."
Kalimat Lisa begitu menusuk hatinya. Dia bahkan tak bisa menahan Lisa yang kini mulai melangkah pergi dari sana. Karena dari semua kalimat pedas yang biasa dia ucapkan, hanya kali ini lah Jennie sangat merasa tersakiti begitu dalam.
Tubuh gadis berpipi mandu itu terduduk lemas di kursi. Kedua tangannya seketika menutup wajahnya tatkala isakan itu mulai muncul dengan rasa sesak.
Bolehkah gadis itu merasa lelah menghadapi Lisa? Jennie selalu meyakinkan dirinya, bahwa Lisa akan kembali seperti dulu. Tapi semakin hari, harapan itu memudar. Ditambah dengan kalimat Lisa yang dilontarkannya tadi.
"Andai kau tau. Rasanya sangat sakit, Lisa-ya." Jennie meremas baju bagian dadanya. Disana sungguh sesak. Dia ingin Lisa manisnya kembali. Tapi, nyatanya Lisa yang tak mau kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lampyridae ✔
FanfictionLisa mengagumi kunang-kunang. Cahayanya begitu indah. Tapi dia lupa, jika memiliki cahaya lain di dalam hidupnya yang lebih indah. Jisoo, Rosé, dan Jennie. Mereka siap menjadi penerang untuk Lisa. Tapi nyatanya Lisa terus menolak. Ahn Jisoo, Ahn Jen...
