Patahnya 2 Hati

1.2K 80 4
                                        

Selamat Membaca

^^

.

.

.

.

.

Pria berkulit pucat itu tengah duduk sambil menghela nafas, rasa bosan dan malas bercampur jadi satu.

Mata nya melirik malas kearah wanita bersurai pirang pucat di dekat nya yang tengah sibuk mengatur beberapa bunga mawar merah.

Karena merasa sedang di perhatikan, wanita itu menoleh sambil menatap heran ke arah teman nya.

"Kau itu kenapa sih, Sai?"tanya nya agak nya sedikit risih karena terus di perhatikan.

"Entah...mungkin bosan?"jawab Sai ragu.

Setelah puas melihat Ino, Sai mengalihkan pandangan nya ke arah ponsel dalam genggaman nya.

Layar nya gelap, tak ada getaran ataupun notifikasi lampu kecil yang berkedip, yeah pertanda tak yang menghubungi nya.

Ino terkekeh, ia bangkit berdiri lalu berjalan pergi mengambil peralatan untuk membuat buket bunga pesanan seseorang.

"Sedang galau ya?"ledek nya berjalan menghampiri Sai dengan sebuah kotak berukuran sedang dalam pelukan nya.

Sai tak menjawab, ia hanya menggeleng masih terus menatap ponsel nya.

"Kenapa tidak menyatakan perasaan mu pada nya sih?"tanya Ino, Jujur ia greget dengan perasaan Sai.

"Kau gila?"sungut Sai, kini beralih menatap Ino yang berdiri di hadapan nya.

"Untuk apa menyatakan perasaan pada seseorang yang telah memiliki kekasih, bodoh!"ujar Sai kesal.

"Yeah setidaknya kau sudah berusaha,setelah mengatakan perasaan mu bukan kah kau akan lega dan tak terjerat?"sahut Ino menduduki diri di kursi depan Sai.

Sai membuang nafas kasar, kurang setuju dengan usul Ino.

"Kau kan hanya mengatakan perasaan mu saja... Bukan meminta nya membalas apalagi menjadi sepasang kekasih! Kan siapa tau setelah itu, hati kau bisa terbuka untuk orang lain!"lanjut Ino.

Sai melirik bingung.

"Huh? Untuk siapa aku membuka hati?"

Craak Kraak

Ino memotong tangkai bunga mawar dengan teliti, mengabaikan sejenak pertanyaan Sai.

Semenit kemudian, ia menoleh ke arah Sai dengan sedikit rona merah di kedua pipi nya.

"Untuk diri ku..."jawab nya dengan santai di iringi tawa kecil di akhir ucapannya.

Sesak.

Kini yang di rasakan  Ino, namun ia berusaha bersikap seperti biasa.

Give It Back To MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang