Queen Roséanne From Nereus

630 71 13
                                        

Queen Roséanne From Nereus

Fantasi-romance

By. tuesdayat7am

***

















Basah tanah kini beraroma berbeda. Padahal musim bunga baru saja tiba. Tidak ada lagi aroma Bunga Peri yang mahkotanya biasa dibuat menjadi pengharum badan.

Sayang, Bunga Peri yang ditunggu-tunggu dan biasanya memang tumbuh di padang ini tidak lagi nampak. Tidak ada Bunga Peri, yang ada hanya gelimpangan korban peperangan yang sudah terjadi berkat Nereus dan Xillah. Dua kerajaan terbesar di seluruh daratan ini.

Di kastil Nereus, seolah belum juga kedukaan rela pergi, kemalangan tengah menimpa sang Putri. Ia yang ingin memberikan minuman pesanan sang Raja, ayahnya, harus dibuat terkejut. Pasalnya, Raja Philliph tidak lagi menginginkan minuman dingin buatan putrinya itu, melainkan upacara untuk mengantarkan jiwanya menuju ke peristirahatan abadi.

Putri Roséanne yang untuk sejenak menenggelamkan dukanya, memimpin upacara tersebut. Ia adalah satu-satunya pewaris Nereus dan bakal penerus Raja Philliph. Dengan tangan yang mencoba untuk tidak bergetar, sang Putri melesatkan panah. Diikuti oleh para rakyat Nereus yang berduka ditinggal sang Raja.

Roséanne hampir saja jatuh jika saja tidak sedang berhadapan dengan rakyatnya. Mereka sama-sama berduka, itu yang gadis itu tahu.

Nereus baru beberapa tahun lalu ditinggal oleh ratu mereka, Mirabella. Saat itu, usia Roséanne belum genap 15. Melihat sang ibu yang meninggal bersama adik lelakinya yang baru saja dilahirkan dan belum sempat hidup, seperti memberi alur kehidupan baru untuknya. Semenjak itu pula, ia tahu bahwa hidupnya tidak pernah sama lagi.

“Kesedihan membuat kesehatan baginda memburuk,” komentar tabib kerajaan.

Tepat selepas Philliph pulang dari peperangan dari perbatasan. Entah apa yang sebenarnya terjadi ketika itu, Roséanne hanya tahu bahwa Nereus menghadapi Xillah untuk mempertahankan wilayah utara.

Begitu kematian Philliph melewati tiga purnama, pelantikan pemimpin baru Nereus diadakan. Seluruh rakyat bersorak-sorai menyambut ratunya yang baru. Mereka tidak akan meragukan keturunan raja dan ratu mereka yang telah mangkat. Keduanya terkenal arif dan bijaksana. Rakyat selalu merasa aman berada di belakang Philliph dan juga Mirabella.

Harusnya tempat ini untuk Vander. Batin Roséanne selepas duduk di singgasana. Sejenak mengenang sang adik yang tidak diberi kesempatan untuk hidup.

Terisinya singgasana Nereus yang kosong, berbarengan dengan pengangkatan putra mahkota dan Xillah. Kerajaan yang sudah memperluas wilayahnya dengan mencaplop wilayah utara Nereus. Nicholas, putra tertua Raja Marcus kini naik tahta. Pemuda dengan penampilan gagah dan otak cemerlang itu sudah resmi menggantikan kursi sang ayah.

“Nereus sudah tidak punya kekuatan.”

Marcus berdiri dari duduknya seraya menahan lututnya yang mulai aus. “Buatlah perubahan besar untuk Xillah, Yang Mulia.”

Nicholas paham benar dengan ucapan sang ayah. Kata ganti ‘Yang Mulia’ jelas mengandung makna lain jika diucapkan olehnya. Belum dengan senyum mengembang yang terkesan pongah dari para dewan kerajaan. Mereka kini mengangkat piala masing-masing. Membuat Nicholas mau tidak mau harus berdiri seraya mengangkat pialanya pula.

Derap sepatu pemuda itu terdengar di sepanajng lorong menuju ke kamarnya yang kini sudah berganti tempat. Tidak lagi di sayap kiri kastil Xillah. Melainkan di sayap kanan yang dari dulu digunakan secara turun-temurun oleh para raja. Meskipun hampir jarang Nicholas menggunakannya untuk tidur. Selepas takhta dilimpahkan kepadanya, ia sama sekali tidak bisa benar-benar tertidur.

DARAH HIGH MUMBULCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang