Kejadian menegangkan itu sudah lewat dua minggu yang lalu.
Untuk sementara waktu, Jimin selalu menolak tiap kali diajak main ke rumah Jungkook. Alasannya sudah jelas karena dia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi. Dia juga pasti akan gemetaran melihat Taehyung, bisa keringat dingin dia jika harus menyapa sang tuan rumah.
"Jadi kita nongkrong di cafe lagi nih? Kalau begini caranya uang jajanku bisa habis."
Jungkook mengeluh.
Sudah beberapa hari ini mereka selalu nongkrong di cafe. Mereka tidak bisa main ke rumah Hoseok karena keluarga besarnya sedang mengadakan pesta disana, rumah Jimin yang kecil juga sekarang ini sedang direnovasi.
"Ke rumah Jungkook saja. Ayahnya pasti masih di kantor kan jam segini? Kita pulang sebelum ayah Jungkook selesai bekerja, bagaimana?"
Jimin ditatap dua sahabatnya, dengan nada memohon agar Jimin menyetujuinya.
Sebenarnya dia mau saja karena rumah Jungkook ternyata nyaman, dingin, dan sepi. Tempat yang paling tepat untuk nongkrong.
"Kau yakin ayahmu tidak ada?"
Tanya Jimin, dan Jungkook mengangguk antusias sebagai jawaban.
"Aku jamin ayahku tidak ada."
Jungkook mengangkat tangannya seakan tengah bersumpah.
Butuh waktu cukup lama bagi Jimin memutuskan, sebelum akhirnya dia menyetujuinya.
"Baiklah kita pergi ke rumah Jungkook. Tapi janji ya kita pulang sebelum ayah Jungkook datang."
Mereka bertiga melakukan janji kelingking, dimana mereka akan pulang sebelum ayahnya Jungkook datang.
Keadaan lalu lintas hari itu cukup senggang. Tidak butuh waktu lama bagi mereka sampai ke rumah Jungkook.
Mereka bertiga langsung masuk kedalam rumah dan ternyata pembantu Jungkook juga sedang tidak ada. Jadi rumah besarnya benar-benar kosong saat ini.
"Rumahmu kosong, bagaimana jika kita mengadakan pesta kecil-kecilan?"
Usul Hoseok dengan wajah girangnya.
"Ide bagus! Kebetulan ayahku punya wine pemberian dari om Namjoon. Mau coba?"
Jimin hanya bisa menghembuskan nafas berat, sahabatnya ini memang terlalu gila. Pesta macam apa yang diadakan sore hari begini dan lagi minum wine bukanlah hal yang menarik untuknya.
"Kalian saja, aku lebih baik tidur di kamar Jungkook."
Jimin memutuskan untuk menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar Jungkook.
Kali ini, dia yakin dan tidak akan salah masuk kamar lagi. Baru saja Jimin melepas seragamnya, menyisakan kaos tipis dan bokser hitamnya, tiba-tiba dua sahabatnya datang dengan hebohnya masuk kedalam kamar.
"Kalau hanya berdua minum wine rasanya seperti sedang pacaran. Tidak seru sama sekali."
Jungkook duduk di lantai. Dia menatap sebotol tinggi wine mahal milik ayahnya dan beberapa cemilan, sedangkan Hoseok menghampiri Jimin yang tengah berbaring di ranjang.
"Ayolah, Jiminie~ Jangan jadi pengecut begini."
Hoseok memasang topi kerucut pesta berwarna merah muda dikepala Jimin, lalu dia menyeret sahabatnya itu untuk turun dari ranjang.
"Aku bukan pengecut ya. Aku hanya-"
"Sudah pengecut banyak alasan lagi. Tidak ada yang lebih buruk darimu, Minnie. Beruntung ada kami yang masih mau berteman dengan pecundang macam kau ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
[End] Om
FanfictionJimin pasti sudah gila karena jatuh cinta pada ayah sahabatnya sendiri. Note : Jika ditemukan perbedaan dengan cerita aslinya, harap mengerti karena gaya bahasa penulis satu sama lainnya berbeda. Terlebih cerita harus disesuaikan agar karakter yang...
![[End] Om](https://img.wattpad.com/cover/257442422-64-k258480.jpg)