Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

- 31

32 3 0
                                        

Yokk vote nyaa

"Gila banget kan kemarin tatapannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gila banget kan kemarin tatapannya." Ucap Jessy sinis, gadis itu tengah mengungkit kembali masalah yang kemarin padahal si korban nampak biasa saja.

"Udahlah Jes masih bocil juga kan dia maklumin aja," ucap Sandra yang disetujui oleh Elvina.

"Fan, diem-diem bae lo dari tadi."

Fanny yang merasa namanya dipanggil hanya menoleh sesaat kemudian kembali ke posisi semula, membuat ketiga temannya saling menatap satu sama lain. Fanny hanya terlalu malas menanggapi obrolan mereka yang menurutnya tidak penting walaupun faktanya Fanny bukan memikirkan apa yang ketiga temannya bicarakan.

Saat ini sedang jam istirahat dan Jessy tengah membahas bagaimana tatapan Adel kepada Fanny hari kemarin saat Fanny dihadang oleh Adit.

"Fanny kayaknya nggak nyaman kita bahas yang kemarin-kemarin itu mending udahan aja bahasnya," bisik Elvina dan Jessy serta Sandra mengangguk samar.

"Sorry Fan kalau kesinggung.."

"Gapapa"

"FANNY!"

Keempatnya sama-sama menoleh ke arah sumber suara, dilihatnya seorang gadis yang tengah berjalan ke meja Fanny dengan langkah tegapnya.

Vanya tersenyum misterius ketika telah berada tepat di hadapan Fanny. "Lo dicariin."

"Dicariin siapa?" Kening Fanny berkerut, sejak kapan ia mempunyai janji dengan seseorang pikirnya. Ketiga temannya justru saling senggol untuk memastikan namun nihil, sama saja, tidak ada yang tahu.

"Udahlah keluar aja, ada di depan pintu kelas."

Setelah mendapat arahan dari Vanya, Fanny pun memutuskan untuk menghampiri seseorang tersebut. Ia juga penasaran siapa orangnya dan ada urusan apa juga mencarinya, padahal Fanny bukan termasuk orang terpenting di SMA Athala.

Setibanya di depan kelas, langkah kaki Fanny melambat saat mengetahui postur tubuh seseorang yang ia kenali. Entah mengapa kakinya terasa kaku dan sulit untuk digerakkan, hingga sosok itu membalikkan badannya menghadap Fanny dengan tersenyum manis.

"Boleh minta waktunya sebentar?"

"B-boleh, t-tapi bentar lagi kayaknya m-mau bel masuk." Ingin rasanya Fanny kembali ke masa taman kanak-kanak yang dimana ia diajari cara melafalkan ucapan dengan benar.

"Jamkos kok Fan tenang aja," sahut Vanya yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Fanny.

"Buruan kak bawa aja Fanny," lanjut Vanya tetapi seseorang yang disebut 'kak' tadi terlihat sedikit melamun.

"Eh iya ayo sekarang aja kalau gitu!" ajak lelaki itu kepada Fanny.

"Gue nggak diajak nih kak? Gue udah baik tau manggil Fanny tadi, masa nggak dikasih imbalan apa-apa." Vanya nampak cemberut tapi yang mereka lihat itu hanyalah ekspresi yang dibuat-buat.

Fanny (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang